Kisah Bunga Dahlia dari Beranda Rumah Puang Roncing

oleh -55 kali dilihat
Kisah Bunga Dahlia dari Beranda Rumah Puang Roncing
Bunga dahlia pinnata-foto/ist
Irhyl R Makkatutu

Klikhijau.com – Dari beranda rumah Puang Roncing, saya menatap ke halaman sambil menyeruput kopi hitam tanpa gula.

Di halaman rumahnya tumbuh bunga yang eksotis, daunnya hijau dan bunganya berwarna merah jambu. Saya tak tahu itu jenis bunga apa. Bunganya yang mekar hanya satu, beberapa sedang menguncup.

Bunga apa injo sabbu’na (itu bunga apa namanya?)” tanya saya kepada Puang Roncing sambil menunjuk ke bunga yang tumbuh di halaman rumahnya.

Puang Roncing melihat ke halaman sambil  mengisap rokok tembakau yang dilinting sendiri. Saya memperhatikannya, umurnya telah senja, pendengarannya mulai kurang bagus.  Tapi, ia masih terlihat bersemangat mengisap rokoknya.

KLIK INI:  Jenis Puring yang Mudah Tumbuh, Murah Meriah, Menawan dan Kaya Manfaat

Puang Roncing, memang merupakan perokok aktif. Ia boleh dibilang termasuk perempuan yang “langka” karena merokok. Rokoknya pun tak sembarangan, hanya rokok tembakau alami yang dilinting sendiri.

Puang Roncing merupakan warga Desa Kahayya, Bulukumba, rumah panggungnya berdiri kokoh  di dekat  danau Lurayya, Kahayya.

Tanre kuissei (saya tidak tahu),” jawabnya. “Lohemo ngallei injo anakna  (sudah banyak yang ambil anaknya)” tambahnya.

Gammara mentio bungana  (bunganya memang bagus),” puji saya.

Ngallemako punna a’rako (silakan ambil jika mau).”

Setelah kopi saya menyisa ampas. Saya pamit, menuruni tangga lalu berjalan ke arah bunga tersebut bersama ayah dan ibu.

Assinnaji intu nitanang (hanya umbinya saja yang ditanam),” teriak Puang Songka, saudara laki-laki Puang Roncing dari beranda rumah panggungnya.

Lohemo lebba’ angngalle (sudah banyak yang ambil),” jawab Ibu setelah melihat bekas galian pada bunga tersebut.

Saya tak memperhatikan umbinya, saya sibuk mengambil beberapa foto. Tujuannya adalah untuk mendeteksi itu bunga apa melalui aplikasi di hape saya.

KLIK INI:  Paku Sarang Burung, Tanaman Hias Berdaun Panjang yang Merumah di Hati
Masuk ke Indonesia sejak abad 19

Setelah saya cek, rupanya itu adalah jenis bunga dahlia pinnata. Bunga tersebut masuk ke Indonesia sejak abad ke 19. Saat Belanda masih berkuasa.

Bunga dahlia termasuk dari keluarga Asteraceae. Tanaman ini menyerbuk silang. Ia terus berbunga tanpa jeda sepanjang tahun.

Tak hanya memiliki bunga warna merah jambu, tanaman perdu ini memiliki warna yang bervariasi, kuning, putih jingga, violet, merah, ungu atau kombinasi dari warna tersebut.

Bunganya berdiameter dikisaran 5 – 20 cm. Memiliki mahkota bunga tersusun berlapis dan rapi. Hal itu menjadi daya tarik tersendiri sehingga banyak diminati, termasuk saya saat melihatnya mekar di halaman rumah Puang Roncing.

Sebenarnya, saya sering melihat bunga dahlia pinnata, tapi bukan yang berwarna merah jambu. Kebanyakan berwarna putih, merah, dan jingga. Variasi warna itu banyak tumbuh di desa saya.

Bunga ini memang tumbuh subur di Desa Kahayya dan di Desa Saya, Kindang. Mungkin karena berada di atas ketinggian yang ideal untuk tumbuh. Karena menurut Eka Fibrianty (2020) budidaya tanaman ini dilakukan di daerah yang memiliki ketinggian 700 –1.000 di atas permukaan laut.

Kedua desa yang saya sebutkan di atas, ketinggiannya mencapai apa yang dikatakan oleh Eka. Hanya saja tanaman dari famili Asteraceae ini tak suka tumbuh pada area yang bernaung, ia menyukai bersentuhan dengan sinar matahar langsung.

Di Meksiko, yang merupakan asal bunga dari ordo Asterales ini dinobatkan sebagai bunga nasional negara tersebut.

KLIK INI:  5 Macam Bunga dengan Warna Menawan yang Menawarkan Optimisme
Sebagai tanaman hias

Tanaman dari kerajaan Plantae  ini memiliki memiliki tinggi lebih dari 1 meter. Ia tumbuh tegak dengan bercabang, tepi daunnya bergerigi

Umumnya  perbanyakan masih dilakukan secara konvensional melalui umbi atau stek batang. Tanaman ini merupakan tanaman hias yang banyak diminati karena warna bunganya yang menggoda.

Masyarakat biasanya hanya menanamnya di halaman rumah—tanpa pot. Di tanam langsung saja ke tanah seperti halnya yang dilakukan oleh Puang Roncing.

Ia memilki batang berbentuk bulat, berkayu dengan warna kecokelatan dan diameter batang utama berkisar antara 1–1,5 cm.

Sebagai tanaman hias, bunga dahlia selalu tampak “segar” karena memiliki  daun hijau yang rimbun dengan yang berselang seling pada batang tanaman.

Sumber karbohidrat

Bunga dari genus Dahlia ini  tumbuh melalui umbinya yang masih memiliki batang. Namun, umbinya tak hanya berfungsi untuk menumbuhkannya. Lebih dari itu, menurut Libria Widiastuti dan Tri Pamujiasih, (2019) umbi dahlia merupakan sumber karbohidrat berupa inulin.

Umbinya yang kering  mengandung inulin sebanyak 65-75% dari total karbohidrat yang ada di dalamnya.

Besarnya jumlah inulin di dalam umbi tanaman ini menjadi potensi yang besar untuk diolah menjadi gula fruktosa dan frukto oligosakarida.

Fruktosa merupakan  bahan pemanis alami dengan kadar kemanisan mencapai 2,5 kali lipat dari sukrosa. Sayangnya, meski memiliki manfaat, umbi tanaman ini belum begitu banyak diminati masyarakat untuk dijadikan salah satu bahan olahan pangan.

Padahal umbinya bisa menjadi tepung sehingga dapat mempermudah pemanfaatannya dalam pengolahannya sebagai bahan setengah jadi. Selain itu, perubahan bentuk menjadi tepung juga dapat memperbaiki daya simpan sehingga umur simpannya dapat lebih lama.

Umbi dahlia merupakan umbi batang, warna, dan bentuk umbi menyerupai umbi kentang, beberapa kultivar tanaman dari famili Asteraceae ini memiliki umbi yang bisa dimakan, karena kaya akan kandungan karbohidrat.

Hasil penelitian Nsabimana (2011) juga melaporkan bahwa umbi dahlia mengandung karbohidrat, serat, protein, mineral esensial, dan vitamin.

Keberadaan inulin dalam produk makanan olahan, memiliki manfaat yang baik untuk penderita diabetes. Umbinya mengandung inulin yang dikandung bunga ini sekitar 60%, kandungan itu dapat bermanfaat untuk menjaga pertumbuhan bifidobacterium di usus besar.

Tidak hanya itu, juga dapat merangsang sistem kekebalan tubuh dan mengurangi risiko osteoporosis, (Sandiya dalam Libria Widiastuti dan Tri Pamujiasih, (2019).

KLIK INI:  Segar, 6 Tanaman Hias Ini Bisa Ditempatkan di Kamar Tidur!