Bagaimana Ekosistem Mangrove Berperan Mengatasi Perubahan Iklim?

oleh -6 kali dilihat
Bagaimana Ekosistem Mangrove Berperan Mengatasi Perubahan Iklim?
seorang relawan aksi penanaman mangrove di pesisir Takalar - Foto/Ist

Klikhijau.com – Upaya pemulihan dan pelestarian ekosistem mangrove menjadi target nasional saat ini. Hal ini penting mengingat pentingnya ekosistem mangrove dalam mengatasi krisis iklim.

Luas mangrove di Indonesia sekira 3,3 juta (ha) atau setara dengan 20 persen dari total mangrove dunia.

Meski demikian, lebih separuh dari luasan hutan mangrove di Indonesia mengalami kerusakan. Berdasar data KLHK (2022), terdapat sekira 1,69 juta (ha) mangrove nasional yang baik dan sekira 1,80 juta (ha) lainnya mengalami kerusakan.

Kerusakan ekosistem mangrove disebabkan oleh pelbagai faktor antara lain konversi lahan, pembangunan infrastruktur, limbah rumah tangga, eksploitasi berlebihan dan lainnya. Pemerintah menargetkan pemulihan ekosistem mangrove sekira 65.000 (ha) per tahun.

KLIK INI:  Bagaimana Mengatasi Gangguan Kesehatan Mental sebagai Efek Perubahan Iklim?

Bagaimana mangrove berperan mengatasi krisis iklim?

Ekosistem Mangrove memiliki manfaat baik secara ekonomi, sosial maupun ekologi. Mangrove diketahui memiliki kemampuan bertahan terhadap kenaikan permukaan laut tingkat sedang. Serta berperan alami sebagai penahan ombak besar dan melindungi garis pantai akibat pengikisan abrasi.

Mangrove bermanfaat penting dalam menahan laju krisis iklim. Keberadaanya mampu menyerap dan menyimpan karbon 3-5 kali lebih banyak dari hutan tropis dengan luas yang sama.

Pada 1 hektare hutan mangrove memiliki kemampuan menyerap 1.000 ton karbon per hektare. Meski memiliki kemampuan serapan karbon tinggi, total hutan mangrove dunia hanya sekitar 1% dari luas hutan tropis.

Keberadaan hutan mangrove juga menjadi rumah bagi berbagai organisme darat dan laut. Mangrove diibaratkan sebagai ekosistem makcomblang antara laut dan darat. Peran ini memungkinkan ekosistem mangrove berperan strategis dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Situs Vox bahkan menggolongkan mangrove Indonesia sebagai tanaman super sebagai pelindung terakhir kehancuran bumi.

KLIK INI:  11 Lagu Anak-anak yang Cocok jadi Bekal Pendidikan Lingkungan bagi Anak

Strategi perlindungan mangrove

Mengingat pentingnya eksistensi ekosistem mangrove, diperlukan upaya serius dalam pemulihan dan pelestariannya. Tidak hanya dalam bentuk aksi-aksi penanaman dan pelestarian, namun juga pada aspek kebijakan yang berpihak pada keberadaan mangrove.

Dilansir dari Forestdigest, berikut ini beberapa strategi perlindungan mangrove dengan melibatkan masyarakat untuk mitigasi dan adaptasi krisis iklim:

Pertama, mendorong ekowisata mangrove berbasis warga masyarakat. Ekowisata mangrove belakangan ini telah menjadi satu tren menarik di sejumlah daerah. Selain berdampak pada peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat pesisir, ekowisata juga dapat menguatkan kesadaran kolektif masyarakat untuk menjaga ekosistem mangrove.

Secara fisik, vegetasi ekosistem mangrove memiliki nilai jual dalam ekowisata.  Di beberapa wilayah pesisir di Indonesia terdapat kawasan wisata mangrove yang sedang hits antara lain kawasan mangrove Lantebung (Kota Makassar), Mangrove Luppung (Bulukumba), mangrove Learning Center Baluno Majene Sulawesi Barat dan lainnya.

Kedua, diversifikasi produk mangrove. Di beberapa wilayah, hutan mangrove ditebang untuk kebutuhan kayu bakar dan arang. Padahal banyak bagian mangrove memiliki ragam manfaat yang juga bernilai ekonomi. Semisal buahnya bisa jadi bahan baku tepung, ekstrak daunnya bisa menjadi kerupuk dan bahan pembuat tempe, bahan baku kopi mangrove dan lainnya.

KLIK INI:  Tanpa Disadari Jendela Telah Berubah Jadi Kuburan Baru bagi Burung

Dalam hal ini sosialisasi dan edukasi penting dilakukan agar diversifikasi produk mangrove lebih dikembangkan lagi.

Ketiga, penerapan wanamina atau silvofishery. Wanamina adalah model pertambakan teknologi tradisional yang menggabungkan antara usaha perikanan dengan penanaman mangrove.

Wanamina ini bisa menjadi salah satu alternatif pelestarian mangrove demi mengatasi konversi tambak. Praktik wanamina telah dilakukan di pesisir Takalar Sulawesi Selatan.

Wanamina muncul sebagai alternatif kegiatan budidaya perikanan yang dilakukan di kawasan mangrove, tanpa harus mengonversi atau mengubah fungsi ekologi mangrove. Manfaat ekonomi melalui pendapatan petani dan masyarakat sekitar melalui aktivitas perikanan, di sisi lain mangrove tetap lestari sehingga dapat melindungi pesisir dari abrasi, mengurangi limbah hasil budidaya, dan menjadi habitat organisme akuatik.

Keempat, pelibatan masyarakat dalam rehabilitasi mangrove. Rehabilitasi mangrove merupakan upaya mengembalikan fungsi hutan mangrove yang terdegradasi. Indonesia memiliki areal mangrove seluas 3,3 juta hektare, namun 19% dalam kondisi rusak dan perlu segera direhabilitasi.

Sampai disini semoga semakin terang akan pentingnya ekosistem mangrove dijaga dan dilestarikan. Hutan mangrove merupakan ekosistem penting untuk mendukung upaya menahan kenaikan suhu bumi dan perubahan iklim karena menyimpan lebih banyak karbon dibandingkan ekosistem teresterial lainnya.

Kolaborasi  enam pihak dalam pemulihan mangrove penting diwujudkan antara lain pemerintah pusat, pemerintah daerah, swasta, akademisi, LSM dan masyarakat.

KLIK INI:  Upaya Indonesia dalam Mitigasi Perubahan Iklim Menuju 'Net-zero Emission' 2050