Polusi Plastik dan Pemanasan Global Berada dalam Lingkaran Setan

oleh -14 kali dilihat
Pemanasan Global, Perubahan Iklim dan Krisis Iklim, Apa Makna Istilah Ini Sama?
Ilustrasi pemanasan global - Foto/Pixabay

Klikhijau.com – “Lingkaran setan,” begitulah para peneliti di Swedia menggambarkan polusi plastik dan pemanasan global.

Studi ini dipimpin oleh Xinfeng Wei, dari KTH Royal Institute of Technology di Stockholm itu mengungkapkan, jika keduaya saling memberi “makan” satu sama lain.

Hubungan keduanya saling sangat erat dalam meningkatkan pemanasan global, sampah plastik, degradasi material, dan pelepasan bahan kimia ke biosfer.

Studi komprehensif yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Communications itu menerangkan, siklus tersebut tidak hanya memperparah pemanasan global dan degradasi material. Namun juga meningkatkan sampah plastik dan kebocoran bahan kimia beracun ke lingkungan kita.

KLIK INI:  SD Inp Unggulan BTN Pemda Lakukan Penguatan Lingkungan Hidup

“Bahan polimer, terutama plastik dan karet, sangat sensitif terhadap fluktuasi suhu dan kelembapan. Ketika suhu naik, polimer mengalami ekspansi termal, sehingga menghasilkan sifat yang lebih rendah,” tulis para peneliti dalam studi tersebut dikutip dari Ecowatch.

Saat Xinfeng Wei membongkar butiran plastik di laboratorium bahan polimer di KTH Royal Institute of Technology di Stockholm. Ia menemukan, sala satu dampak pemanasan global adalah kerusakan plastik yang lebih cepat. Hal itu mengakibatkan emisi karbon lebih tinggi.

Tanggungjawab plastik

Jika mencari siapa yang bertanggungjawab terhadap emisi gas rumah kaca (GRK). Maka plastik mestilah dimasukkan sebagai salah satu biang keroknya.

Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) pada tahun 2019 melaporkan, plastik berkontribusi terhadap 3,4% GRK global, sekitar 1,8 miliar ton, terutama disebabkan oleh produksi plastik dan konversi bahan bakar fosil.

KLIK INI:  Tolong, Jangan Panggil Saya "Kamu Bau!"

Mirisnya, pada tahun 2060, angka tersebut diperkirakan akan meningkat lebih dari dua kali lipat. Dan lebih mirisnya lagi, Indonesia menjadi penyumbang sampah plastik terbesar kedua dunia.

Menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pada tahun 2021 total sampah nasional mencapai 68,5 juta ton. Sampah plastik menyumbang 17% atau sekitar 11,6 juta ton dari jumlah tersebut.

Wei juga menerangkan, meningkatnya suhu global akan menyebabkan plastik sehari-hari rusak lebih cepat.

Itu artinya permintaan akan meningkat. Jadinya, para produsen akan memproduksi lebih banyak produk plastik, sehingga akan menyebabkan lebih banyak emisi GRK, maka kenaikan suhu tidak terhindarkan.

“Siklus yang menguatkan diri telah terbentuk, menciptakan lingkaran setan antara perubahan iklim dan polusi plastik,” kata Wei.

KLIK INI:  Salah Urus, Jadikan Plastik sebagai Pendorong Perubahan Iklim

Lingkaran umpan balik yang dijelaskan oleh para peneliti menghubungkan emisi GRK dengan kelembapan, panas, dan melemahnya ikatan struktural polimer seperti karet dan plastik yang terbentuk dari rantai molekul besar.

“Semakin tinggi peningkatan suhu, semakin banyak sifat material yang terganggu,” ujar Wei.

Wei juga menambahkan, ketika suhu mencapai antara 73,4 dan 104 derajat Fahrenheit,  plastik biasa seperti polivinil klorida dan polietilen menjadi lebih kaku 20 persen.

Kerusakan ini berarti produk polimer–mulai dari pakaian dan peralatan hingga suku cadang mobil–perlu lebih sering diganti, sehingga meningkatkan laju dan volume produksi.

Dampaknya berkisar dari kemasan makanan yang tidak dapat diandalkan hingga saluran air yang terkontaminasi mikroplastik, kata Wei.

Senyawa organik yang mudah menguap (VOC) dan senyawa berbahaya lainnya seperti penghambat api, antioksidan, pelumas, bahan pemlastis, penstabil UV/panas, dan pewarna juga dapat dilepaskan. Pencucian, penguapan dan difusi VOC ke dalam tanah, udara dan air dipercepat oleh panas.

KLIK INI:  Penanganan Sampah Plastik jadi Rekomendasi Politik Kongres NasDem

“Suasana yang lebih hangat meningkatkan penguapan uap air dan juga dapat menampung lebih banyak uap air,” ungkap Wei.

Menurutnya, efek gabungan dari kenaikan suhu dan kelembapan menciptakan kondisi yang sangat menantang bagi polimer ini.

Untuk menghadapi krisis polusi plastik dan pemanasan global yang saling terkait, studi ini menekankan perlunya perhatian segera.

KLIK INI:  Kekurangan Serangga Penyerbuk, Kopi dan Kakao Bisa Jadi Tinggal Kenangan