Betulkah Aktivitas Manusia Pemicu Utama Pemanasan Global?

oleh -79 kali dilihat
Dampak Perubahan Iklim, Warga di Madagaskar Alami Kelaparan Akut
Ilustrasi kekeringan - Foto/Pixabay
Wahyuddin Junus

Klikhijau.com – Pemanasan global kian menjadi perhatian atas peningkatan suhu rata-rata permukaan bumi dari waktu ke waktu.

Kenaikan ini dihasilkan dari “efek rumah kaca”, di mana gas seperti karbon dioksida memerangkap panas di dalam atmosfer bumi. Kenaikan suhu dapat menyebabkan bencana perubahan iklim.

Suhu rata-rata meningkat dan iklim bumi berubah. Perubahan ini terkait dengan pemanasan global dan efek rumah kaca.

Meskipun proses ini memiliki banyak penyebab alami, penyebab alami saja tidak dapat menjelaskan perubahan cepat yang diamati dalam beberapa tahun terakhir.

KLIK INI:  Kenalkan Lilou, Babi Pertama yang Jadi "Petugas" di Bandara!

Sebagian besar ilmuwan iklim percaya bahwa perubahan ini terkait dengan berbagai aktivitas manusia.

Akibat meningkatnya emisi gas rumah kaca seperti karbon dioksida (CO2), metana (CH4), nitrogen oksida (NOx), chlorofluorocarbon (CFC) dan gas lainnya secara berlebihan di atmosfer.

Gas CO2 adalah gas rumah kaca yang utama ikut memicu. Dimana hampir seluruh aktivitas manusia yang membutuhkan listrik, atau konsumsi dan penggunaan barang yang diproduksi dengan mesin, menghasilkan karbon dioksida.

Gas ini menjadi gas yang paling berkontribusi menyebabkan pemanasan global.

KLIK INI:  Memahami Pengertian Efek Rumah Kaca, Penyebab dan Dampaknya

Hasil kajian IPCC ikut menyimpulkan bahwa 90% gas rumah kaca yang dihasilkan manusia, seperti karbon dioksida, metana, dan dinitrogen oksida, khususnya selama 50 tahun ini, telah secara drastis menaikkan suhu Bumi.

Gas-gas inilah yang ikut berperan menaikkan suhu permukaan bumi. Laporan IPCC juga menegaskan bahwa terjadinya perubahan iklim yang berupa meningkatnya emisi gas rumah kaca.

Pemanasan global versus Perubahan Iklim

Pemanasan global didefinisikan sebagai peningkatan rata-rata suhu di atmosfer yang lebih rendah dan dekat permukaan bumi.

Para ilmuwan telah menemukan bahwa jumlah gas rumah kaca mulai meningkat selama revolusi industri ketika pabrik dan pembangkit listrik mulai membakar bahan bakar fosil seperti batu bara dan minyak untuk energi.

KLIK INI:  Mengirim Sampah Plastik ke Indonesia, AS Ditengarai Melanggar Basel Amendments

Ketika jumlah gas rumah kaca di atmosfer meningkat, lebih banyak panas yang terperangkap.

Perubahan iklim adalah perubahan jangka panjang dalam curah hujan, suhu atau pola angin yang berlangsung selama beberapa dekade atau lebih.

Istilah “pemanasan global” dan “perubahan iklim” sering digunakan secara bergantian.

Namun, menurut National Academy of Sciences, “perubahan iklim” mencakup perubahan selain peningkatan suhu, seperti perubahan orbit bumi, permukaan tanah, dan proses iklim seperti sirkulasi laut.

KLIK INI:  Dana Desa Bisa Digunakan untuk Program Penurunan Emisi, Begini Caranya

Catatan dari sciencing.com turut menjabarkan bahwa pemanasan global dianggap sebagai salah satu penyebab utama perubahan iklim saat ini. Misalnya, kenaikan suhu dapat mengubah frekuensi dan tingkat keparahan cuaca ekstrem seperti badai, kekeringan, dan gelombang panas.

Jalinan Waktu

Pada tahun 1896, ilmuwan Swedia Svante Arrhenius secara terbuka meramalkan bahwa peningkatan kadar karbon dioksida di atmosfer kita akan menaikkan suhu planet ini.

Namun, dia berharap umat manusia mendapat manfaat dari tambahan kehangatan. Para ilmuwan mengembangkan pandangan yang berbeda tentang pemanasan global selama abad kedua puluh.

Pada tahun 1957 ahli geofisika Roger Revelle dan ahli geologi Hans Seuss menyusun makalah yang mengemukakan teori bahwa pembakaran bahan bakar fosil telah berkontribusi terhadap pemanasan global. Pada tahun yang sama, ilmuwan Amerika David Keeling mulai memantau dan mendokumentasikan kenaikan tahunan tingkat karbon dioksida.

KLIK INI:  Alliance Merilis Laporan Perkembangan Program Penanganan Sampah Plastik di Indonesia

Pada tahun 1982, Revelle memperingatkan bahwa pemanasan global dapat mencairkan gletser bumi dan selanjutnya menaikkan permukaan laut secara berbahaya. Pada tahun 1988, ilmuwan NASA James Hansen bersaksi di depan Kongres dan menyatakan hampir pasti bahwa, berdasarkan model komputer dan pengukuran suhu, “… efek rumah kaca telah terdeteksi, dan itu mengubah iklim kita sekarang.”

Revolusi industri pada akhir 1700-an dan awal 1800-an membawa perubahan dalam cara negara-negara mendekati tenaga kerja, manufaktur, dan produksi energi. Mereka mulai membakar bahan bakar fosil dalam jumlah besar, termasuk gas alam, batu bara, dan minyak. Sementara pelepasan gas rumah kaca meningkat, jumlah oksigen yang dihasilkan vegetasi turun karena orang-orang menebang hutan untuk menyediakan kayu gelondongan sebagai bahan bakar.

Jurnal ilmiah “Nature” menerbitkan sebuah studi yang memperkirakan suhu rata-rata bumi akan naik antara 3,6 derajat dan 20 derajat Fahrenheit selama abad berikutnya. Namun, peningkatan rata-rata selama abad terakhir hanya 0,6 derajat Fahrenheit.

KLIK INI:  Krisis Iklim Merusak Banyak Hal, Termasuk Beberapa Kegemaran Kita

Efek dan Kesalahpahaman

Pemanasan global dapat membuat beberapa daerah lebih ramah untuk waktu yang lebih lama.

Namun, itu mungkin akan menghasilkan gelombang panas yang lebih lama dan lebih intens di tempat-tempat yang lebih hangat di dunia.

Hal ini juga dapat memicu bencana alam, termasuk banjir, angin topan dan kekeringan.

Meningkatnya curah hujan dan suhu di daerah tertentu dapat mendorong berkembang biaknya hama pembawa penyakit, seperti nyamuk.

KLIK INI:  Gajah Saja Buang Sampah Pada Tempatnya, Kok Kamu Tidak?

Panas yang lebih besar juga dapat meningkatkan produksi ozon di permukaan tanah, polutan yang dapat merusak paru-paru Anda.

Atas efek yang ditimbulkan, banyak ilmuwan dan penulis menunjuk manusia sebagai satu-satunya pencipta pemanasan global.

Orang-orang di sisi lain dari masalah ini berpikir itu adalah fungsi alam. Kemungkinan besar, kedua teori mengandung beberapa kebenaran. Sebuah mitos umum berpendapat bahwa para ilmuwan belum mencapai konsensus tentang pemanasan global.

Namun pun begitu, Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa telah menyimpulkan bahwa pemanasan global merupakan ancaman nyata, dan bahwa aktivitas manusia sebagian besar telah menciptakan kondisi tersebut.

Jajak pendapat yang paling dapat diandalkan dari komunitas ilmiah menunjukkan dukungan yang luar biasa untuk gagasan bahwa manusia adalah kontributor utama pemanasan global.

KLIK INI:  Komunitas Surplus, Berjuang Demi Kurangi Sampah Makanan

Tawaran Solusi

Sebagai solusi, kita mungkin dapat mengurangi jejak karbon kita dan menghentikan atau memperlambat pemanasan global. Beragam cara yang dapat dilakukan antara lain :
Sedapat mungkin, mengganti bola lampu pijar di rumah Anda dengan lampu neon/LED.

Setidaknya dapat menurunkan tagihan listrik di rumahrumah dan mengurangi emisi karbon dioksida.

Menjalankan aktivitas dengan berjalan kaki atau bersepeda ke tempat tujuan yang dapat dijangkau. Meminimalkan penggunaan mobil adalah cara lain untuk mengurangi pemanasan global.

Menggunakan bahan yang dapat dipakai dalam waktu lama atau dapat didaur ulang. Membeli dan menggunakan perangkat hemat energi juga dapat berkontribusi besar.

Sumber : https://sciencing.com/

KLIK INI:  Studi: Krisis Iklim Harus Direspons seperti Pandemi Covid-19