Udara Perkotaan di Indonesia Disesaki Mikroplastik, Ini 3 Penyebabnya!

oleh -15 kali dilihat
Udara Perkotaan di Indonesia Disesaki Mikroplasti, Ini 3 Penyebabnya!
Ilustrasi - Foto: Unsplash

Klikhijau.com – Beberapa bulan terakhir, kita dikagetkan dengan penelitian di beberapa kota perihal sampel air hujan yang telah tercemar alias mengandung mikroplastik.

Tidak hanya langit Jakarta yang memang padat merayap dan berpolusi. Mikroplastik telah ditemukan di hampir seluruh kota besar di Indonesia seperti Surabaya, Bandung hingga di Bulukumba.

Riset yang dilakukan  Ecoton pada 2025 mengungkap bahwa dari 18 kota besar yang diteliti hampir semuanya memiliki kadar mikroplastik di udara dengan tren berbeda-beda. Jakarta dan Surabaya merajai, namun kota kecil seperti Bulukumba di Sulawesi Selatan ternyata tak ketinggalan.

Umumnya, mikroplastik yang dijumpai di udara dalam bentuk fragmen (53,26 persen), fiber (46,14 persen) dan film (0,63 persen).

Berdasar analis FTIR (Fourier Transform Infrared Spectroscopy) yang dilakukan Ecoton menunjukkan adanya pelbagai polimer yang merajalela di udara antara lain PET, PBT, nilon, PE, PP, BPA resin,PTFE dan polyisobutylene.

Fakta ini merupakan akumulasi dari tindakan manusia yang over pemakaian plastik sekali pakai dalam keseharian.

KLIK INI:  Benarkah Kopi Bungkus Mengandung Mikroplastik?

Mikroplastik di udara sangatlahlah berbahaya bagi kesehatan manusia. Data Ecoton dalam dua tahun terakhir menunjukkan bahwa kontaminasi mikroplastik telah dijumpai dalam jaringan tubuh manusia. Menjalar di darah, pencernaan hingga di paru-paru.

Sahabat Hijau, lalu apa penyebab mikroplastik merajalela di udara perkotaan?

Riset Ecoton menemukan ada tiga pemicu hal ini. Pertama, 55, 5 persen disebabkan oleh massifnya pembakaran sampah plastik.

Tak disangkal pilihan membakar sampah plastik memang dijumpai di kota-kota besar. Minimnya edukasi dan pengelolaan sampah secara konvensional memicu hal ini. Selain itu, penegasan hukum belum berjalan baik dalam rangka mencegah aktivitas membakar sampah.

Kedua, 33, 3 persen disebabkan oleh transportasi antara lain melalui gesekan ban, rel dan aspal. Penyebab satu ini ada kaitannya dengan aktivitas keseharian khususnya warga kota dalam penggunaan kendaraan pribadi.

Di Indonesia transisi ke transportasi umum masih sulit diwujudkan. Selain karena masih suitnya mengurai apek konektivitas tujuan, aspek infrastruktur yang belum memadai juga menambah panjang permasalahan. Selain itu, budaya masyarakat Indonesia memang belum bisa berubah dari kendaraan pribadi ke transportasi umum.

Penyebab ketiga adalah limbah cuci pakaian dan limbah tekstil sekira 27,7 persen.

Ketiga pemicu ini tentu perlu mendapat perhatian bersama. Dimulai dari kesadaran menjalankan aktivitas ramah lingkungan dengan melakukan pengurangan sampah plastik dan juga bagaimana menginspirasi orang lain melakukan hal sama.

Jika tidak, badai mikroplastik di udara tak lama lagi jadi malapetaka serius bagi warga perkotaan.

KLIK INI:  Mikroplastik Sebagai Petaka yang Mengancam Biota Laut