5 Fakta dan Data Perihal Badai Polusi Plastik Sekali Pakai yang Mencengankan!

oleh -138 kali dilihat
5 Fakta dan Data Perihal Badai Polusi Plastik Sekali Pakai yang Sayang Mencengankan!
Ilustrasi plastik - Foto: Unsplash

Klikhijau.com –  Badai polusi plastik seperti musim barat yang meluluhlantah pemukiman. Dalam dua puluh tahun terakhir penggunaan plastik global khususnya yang sekali pakai terus meningkat tajam. Bumi layaknya telah dihujani plastik.

Pola konsumsi dan peningkatan produk-produk kebutuhan manusia memicu tingginya produksi plastik. Di sisi lain, ada semacam pergeseran paradigma di masyarakat mengenai pemanfaatan kemasan. Plastik akhirnya menjadi prioritas karena dinilai lebih praktis dan mungkin lebih ekonomis.

Selain itu, meningkatnya distribusi barang-barang kebutuhan dan ketergantungan material produk barang-barang kebutuhan manusia turut berkontribusi. Di sinilah simalakama itu muncul. Di satu sisi, gerakan pembatasan plastik digemakan oleh komunitas, masyarakat dan dikuatkan oleh ragam kebijakan pemerintah. Namun, di sisi lain, produksi plastik tampaknya justru semakin meningkat.

Teori ekonomi bekerja di baliknya. Produksi dipengaruhi oleh arus permintaan. Beberapa fakta dan data berikut mungkin menarik untuk ditelaah bersama.

Badai polusi plastik akhirnya bukan hanya soal timbulan sampah, ini perihal etika lingkungan, kesehatan manusia dan masa depan. Simak data dan fakta ini:

KLIK INI:  Platform Beras Berkelanjutan dengan Meningkatkan Kompetensi Petani
  • Dunia telah Memproduksi 8 Miliar Ton Plastik

Peradaban plastik seperti kawan yang datang di kemudian hari, lalu merajai kehidupan manusia. Berdasar data, sejak tahun 1950-an telah diproduksi plastik lebih dari 8 miliar ton.

Setiap tahun, dunia memproduksi sekira 460 juta ton plastik yang kemudian tersebar dalam beragam penggunaan.

Dari angka ini, separuhnya diproduksi dalam dua dekade terakhir. Ini menunjukkan bahwa seiring waktu produksi plastik meningkat drastis.

Jika diandaikan, plastik yang telah diproduksi itu membutuhkan setidaknya lebih dari 300 juta mobil kontainer. Jika mobil-mobil itu berada di jalan raya, setidaknya membutuhkan sekira empat sampai 6 kilometer untuk dilewatinya.

Jarak ini terbilang mencengankan bukan? Jika diilustrasikan lagi, kira-kira setara dengan separuh jarak antara planet bumi dan Mars. Atau seperempat dari jarak planet bumi ke matahari.

Wajar saja, jika manusia di bumi semakin cemas dengan ancaman polusi plastik yang kini menghantui bumi. Plastik yang merajalela bahkan menjelma sebagai mikroplastik dan mengancam kesehatan makhluk khususnya manusia.

KLIK INI:  Miris, Bahkan Bayi yang Belum Lahir Sudah Terpapar Mikroplastik
  • Tindakan Daur Ulang Plastik Hanya Sekira 9 Persen

Jadi, dari 8 miliar ton plastik yang diproduksi itu, rupanya hanya sekira 9 persen saja yang didaur ulang. Angka yang terbilang sangat kecil.

Pertanyaannya, kemana plastik-plastik lainnya, terutama plastik sekali pakai? Tentulah mencemari lingkungan. Jika dibakar, plastik-plastik tersebut mencemari udara. Jika terbuang akan mendehem di lautan dan mencemari biota laut.

Data ini menunjukkan betapa pentingnya terus mendorong upaya daur ulang plastik. Setidaknya berupaya mengurangi timbulan plastik di bumi.

Skala produksi plastik secara global mengalami peningkatan drastic melebihi kapasitas manusia dalam mengolahnya. Barangkali daur ulang bahkan sudah tak cukup untuk mengatasi limbah plastik.

Pemicunya adalah material plastik terbilang kompleks. Plastik dibuat dari ragam jenis polimer yang butuh proses daur ulang bervariasi. Penyortiran jadi rumit dan mahal, prosesnya tidak efisien dan aksi daur ulang sulit meningkat.

Namun, sekali lagi upaya kecil melalui praktik daur ulang perlu terus ditumbuhkan di masyarakat demi mengurangi beban sampah plastik.

KLIK INI:  Hujan Mikroplastik Mengintai Kota-kota di Indonesia
  • Data Sampah Plastik

Jadi, sekira 79 persen sampah plastik yang tidak didaur ulang itu rupanya berakhir di Tempat Pembuangan Akhir. Sisanya ada 12 persen terlepas di udara melalui pembakaran.

Lihatlah di keseharian kita, pembatasan kresek di swalayan misalnya tak cukup mengurangi plastik sekali pakai. Bukankah kemasan plastik di item belanjaan kita jauh lebih banyak dari satu kresek?

  • Sengkarut Perdagangan Plastik Global

Perdagangan plastik global menunjukkan suatu indikasi buruk. Bayangkan, negara kaya sangat akrab mengekspor sampah plastiknya ke negara-negara berkembang, khususnya negara dengan regulasi lemah.

Di negara tujuan, sampah kiriman itu hanya dipilah asal-asalan, dibuang juga dibakar. Di Indonesia, sampah ekspor itu berkubang di Jawa Timur. Badai plastik di sana kian merajalela. Upaya pembersihan sampah, tampaknya tidak selaju arus masuk perdagangan sampah plastik.

KLIK INI:  Bagaimana Mengatasi Mikroplastik yang Kini Mulai Merasuk ke ASI?
  • Menutup Kran Produksi

Jika mengamati beberapa poin sebelumnya, sejatinya produksi plastik bisa diselesaikan dengan menutup kran produksinya. Apakah ini bisa dilakukan?

Menghentikan dari hulunya adalah jalan terbaik dengan catatan upaya ini seiring dengan pembatasan pemakaian plastik baru.

Bayangkan saja, emisi plastik dapat mencapai 19 persen dari anggaran karbon global pada 2040. Karena iru, perlu menggeser paradigma “produksi-pakai-buang” dengan model sirkular ekonomi.

Pengurangan produksi tentu dimaksudkan untuk melindungi kesehatan dan mengurangi ketidakadilan. Poinnya adalah kita semua punya peran strategis untuk mengurangi penggunaan plastik menuju model konsumsi berkelanjutan.

Sumber: aliasizerowaste.id

KLIK INI:  Wah, Memanggil Kekasih dengan Nama Hewan, Hubungan Lebih Syahdu