Banjir Bandang Sumatera, Bukti Dominasi Rezim Ekstraktif

Klikhijau.com - Bukit Barisan lazim dikenal sebagai barisan pegunungan yang membentuk kontur alam dari Pulau Sumatera selama berabad-abad. Pegunungan ini juga menjadi bukti keberadaan cincin api (ring...

Banjir Bandang Sumatera, Bukti Dominasi Rezim Ekstraktif
Bacakan Artikel
Dhien Favian A

Artikel terbaru dari Dhien Favian A (lihat semua)

Belum ada artikel terbaru lain dari penulis ini.

Klikhijau.com - Bukit Barisan lazim dikenal sebagai barisan pegunungan yang membentuk kontur alam dari Pulau Sumatera selama berabad-abad. Pegunungan ini juga menjadi bukti keberadaan cincin api (ring of fire) yang membentuk lanskap daratan di Indonesia, dari Sabang sampai Merauke.

Sepintas, pegunungan ini menjadi bukti keindahan Tuhan yang diberikan kepada masyarakat Sumatera. Namun demikian, rentetan pegunungan ini menjadi saksi dari banjir bandang yang menerjang pulau paling barat di Nusantara.

Pada tanggal 24 November 2025 kemarin, hampir seluruh pesisir barat Sumatera diterpa banjir bandang. Banjir ini merupakan banjir terbesar yang menerjang kawasan ini selama lima tahun terakhir. Luasan wilayah yang terdampak banjir juga bukan main-main, yaitu sebanyak 13 kabupaten di Sumatera Barat dan 13 kabupaten di Sumatera Utara, menjadikannya banjir terluas yang menghantam Indonesia.

Banjir bandang ini tidak semata-mata menumpahkan luapan airnya ke daratan. Bencana ini nyatanya disertai dengan longsor di beberapa titik dan longsor ini juga menutup akses perhubungan darat serta menutupi pemukiman warga, seperti yang terjadi pada ruas Jalan Padang-Bukittinggi.

Bencana yang tidak berhenti ini membawa kerugian besar bagi masyarakat Sumatera. Hingga tulisan ini dibuat, sekitar 712 orang meninggal dan 567 orang hilang di tengah bencana. Catatan ini belum termasuk lebih dari 3.000 orang  yang mengungsi dari perumahannya, yang mana angka ini akan terus bertambah.

Catatan terbaru dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisikan (BMKG) menyebutkan bahwa banjir bandang dan longsor ini disebabkan oleh fenomena siklon tropis. Angin siklon yang berhembus dari Laut Sulu dan Selat Malaka ini bertemu secara bersamaan di kawasan Sumatera dan angin ini juga membawa angin dan uap air yang besar.

Akibatnya, hujan lebat dan angin kencang menghantam Sumatera secara eksesif dan ketiadaan perlindungan dari vegetasi hutan mengubah tumpahan air hujan ini menjadi banjir bandang.

[irp]

Kapitalisme Ekstraktif dan Bencana Ekologis di Sumatera

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: