Melihat Bencana Lingkungan dari Kacamata Prof Koesnadi

Klikhijau.com - Bencana banjir bandang dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, serta Sumatera Barat sejak akhir November hingga awal Desember 2025 telah menjadi tragedi kemanusiaan terbesar dal...

Melihat Bencana Lingkungan dari Kacamata Prof Koesnadi
Bacakan Artikel
Adli Firlian Ilmi

Artikel terbaru dari Adli Firlian Ilmi (lihat semua)

Belum ada artikel terbaru lain dari penulis ini.

Klikhijau.com - Bencana banjir bandang dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, serta Sumatera Barat sejak akhir November hingga awal Desember 2025 telah menjadi tragedi kemanusiaan terbesar dalam dekade ini.

Data BNPB per 6 Desember 2025 mencatat 914 orang meninggal dunia — 359 jiwa di Aceh, 329 jiwa di Sumatera Utara, dan 226 jiwa di Sumatera Barat — dengan ratusan lainnya masih hilang dan puluhan ribu mengungsi.

Ribuan hektare sawah tenggelam, jalan nasional putus total, jembatan ambruk, dan lahan pertanian yang baru saja pulih dari bencana sebelumnya kembali hancur.

Pakar hidrologi dan geologi dari berbagai perguruan tinggi serentak menyatakan bahwa curah hujan ekstrem hanyalah pemicu; akar masalahnya adalah kerusakan ekosistem hulu Daerah Aliran Sungai akibat deforestasi masif, perluasan sawit ilegal, dan penambangan tanpa rehabilitasi.

Di tengah duka yang begitu dalam ini, kita semakin merindukan kehadiran dan kejernihan pemikiran Prof. Dr. Koesnadi Hardjasoemantri, bapak hukum lingkungan Indonesia yang justru telah memperingatkan semua ini sejak puluhan tahun silam melalui karya monumentalnya Hukum Tata Lingkungan.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: