Isra Mi‘raj dan Panggilan Hijrah Ekologis Kita

Klikhijau.com - Peristiwa Isra Mi‘raj adalah salah satu titik penting dalam sejarah spiritual umat Islam. Dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsha, lalu naik menembus langit hingga Sidratul Muntaha,...

Isra Mi‘raj dan Panggilan Hijrah Ekologis Kita
Bacakan Artikel
Sapril Akhmady

Profesional di bidang pemberdayaan masyarakat, filantropi Islam, dan kelestarian lingkungan yang saat ini menjabat sebagai Program Manager Humanity and Environment Care di Yayasan Hadji Kalla.

Klikhijau.com - Peristiwa Isra Mi‘raj adalah salah satu titik penting dalam sejarah spiritual umat Islam. Dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsha, lalu naik menembus langit hingga Sidratul Muntaha, Nabi Muhammad SAW memperlihatkan dimensi ketauhidan yang tidak hanya mengikat manusia dengan Tuhan, tetapi juga dengan kehidupan dan alam. Mi‘raj bukan sekadar perjalanan transenden; ia adalah pendidikan besar tentang amanah, keseimbangan, dan tanggung jawab.

Dalam perspektif reflektif, Isra Mi‘raj menghadirkan dua poros penting dalam ajaran Islam: hablum min Allah (hubungan dengan Tuhan) dan hablum min al-nas (hubungan dengan sesama). Namun para pemikir Islam kontemporer menambahkan satu poros yang terlupakan: hablum min al-bi’ah, yaitu hubungan dengan alam.

Jika shalat adalah buah dari Mi‘raj, maka ritme shalat mengajarkan disiplin ekologis: keteraturan, kesesuaian, dan kesederhanaan. Sujud mengingatkan kita bahwa manusia kembali kepada tanah; dan tanah adalah medium kehidupan yang kini terus-menerus dilukai.

Krisis ekologis global hari ini memperlihatkan wajah modernitas yang rapuh. Dunia memanas lebih cepat dari yang dibayangkan para ilmuwan. Laporan WMO (2024) menunjukkan dekade terakhir sebagai periode terpanas dalam sejarah pencatatan.

IPBES (2023) juga memperingatkan satu juta spesies berada di ambang kepunahan. Semua ini menunjukkan bahwa umat manusia terlalu lama menganggap bumi sebagai benda tak bernyawa.

[irp]

Di Indonesia, situasinya lebih kompleks. Krisis iklim bertemu dengan pola pembangunan yang masih bergantung pada industri ekstraktif: batu bara, nikel, emas, dan perkebunan sawit. Atas nama investasi, transisi energi, atau pertumbuhan ekonomi, alam kerap diperlakukan sebagai “tanah kering” dalam logika ekonomi.

Padahal, ia adalah “tanah basah” dalam logika kehidupan: penuh akar, sejarah, adat, dan jiwa. Ekspansi tambang nikel di Sulawesi dan Maluku misalnya, sering disebut bagian dari masa depan hijau global karena baterai kendaraan listrik membutuhkan logam ini. Tetapi sungai-sungai yang keruh, pesisir yang tertutup sedimen, dan konflik tenurial yang menyertai memperlihatkan bahwa transisi energi bisa saja hijau di negara yang menikmati produknya, namun merah dalam luka ekologis di negara yang menambangnya.

Begitu pula Kalimantan Timur dengan lubang-lubang tambang batu bara yang belum direhabilitasi; dan Papua dengan dilema antara smelter, hutan, dan masyarakat adat. Di banyak titik, pembangunan tampak maju, tetapi ekologi berjalan pincang.

Hijrah ekologis mengajarkan bahwa kemajuan tidak harus dicapai dengan meninggalkan jejak luka. Hijrah bukan sekadar perpindahan fisik, tetapi transformasi moral dan cara pandang. Dalam konteks ekologi, hijrah berarti meninggalkan logika ekstraksi menuju logika perawatan; dari dominasi menuju harmoni; dari serakah menuju cukup; dari kompetisi menuju keberlanjutan. Prinsip la tafsidu fil ardh—“jangan membuat kerusakan di muka bumi”—bukan sekadar larangan normatif, tetapi seruan etis untuk mengelola masa depan secara adil.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2