Tak Ada Tanda Tangan yang Sempurna

oleh -187 kali dilihat
Wahyuddin Junus -foto/Ist

Klikhijau.com – Dunia pernah dikejutkan oleh penemuan ‘tanda tangan’ di gua Leang-Leang. Simbol ‘tanda tangan’ pada batuan keras menjadikan jejak ‘telapak tangan’ sebagai seni paling cadas yang pernah ada di muka bumi.

Jauh sebelum peradaban modern berkembang, dari gua ini pula bukti peradaban tergores dan menjadi saksi lukisan cap tangan. Keberadaan lukisan ini menjadi penanda bahwa manusia purba di Nusantara sudah memiliki kemampuan seni dan budaya yang maju.

Penemuan lukisan gua prasejarah Leang-Leang, diperkirakan berusia  lebih dari 40.000 tahun, menjadikannya bukti sebagai karya seni tertua di dunia. Lukisan ini menunjukkan kecerdasan dan kreativitas manusia purba, menjadi titik awal bagi peradaban seni rupa di Nusantara.

Lukisan ini tidak hanya sebatas gambar cap tangan. Ia turut merefresentasikan imajinasi, cerita, dan pandangan hidup manusia prasejarah. Penggunaan cap tangan sebagai simbol, dimaknai sebagai ungkapan penolak bala atau duka cita.

KLIK INI:  Merancang Transisi Teratur Dunia Nol Bersih 2050

Leang-Leang sebagai situs seni rupa purba dunia adalah situs bersejarah dan menjadi sumber pengetahuan serta inspirasi tentang sejarah manusia. Ia tidak hanya menjadi sejarah untuk masa lalu, tapi menjadi pegangan hidup untuk masa depan.

Karya seni rupa purba berupa Lukisan cap tangan di Leang-Leang telah menjalani perjalanan panjang. Kini simbol tangan dari seni rupa purba, sekarang datang dengan membawa simbol peradaban ‘tanda tangan’ dalam bentuk lain. Sebuah cap tangan kontemporer, perpaduan kebijakan dan keindahan tanda tangan.

KLIK INI:  Perihal Banjir di Sentani, Begini Temuan KLHK dan Solusi Pemulihannya

Simbol tanda tangan kini bertransformasi menjadi simbol kebijakan atas nama kuasa. Maka patut kita curiga dampak yang ditimbulkannya saat ini. Betapa bencana yang ditimbulkan akibat ulah ‘tangan-tangan’ manusia. Berapa banyak jiwa yang harus berkorban.

Kini banyak pihak uluran tangan dan terpanggil untuk membantu. Tak ketinggalan pejabat publik juga ikut turun tangan demi meringankan tangan. Takdir dan nasib korban dipertaruhkan sesudah bencana terjadi.

Dari tempat cadas, karya seni ‘cap tangan’ yang dibuat manusia purba telah melampaui waktu. Dalam ruang gua sebagai warisan bersejarah. Kini, ‘tanda tangan’ itu hadir dalam bentuk lain: kebijakan dan kuasa. Tindakan membubuhkan tanda tangan bisa membawa dampak besar – baik dan buruk.

Karya seni purba Leang-Leang mengajarkan kita tentang kekuatan simbol, tapi hari ini kita dihadapkan pada pertanyaan: apakah ‘tanda tangan’ kita membawa makna harapan atau malapetaka?.

KLIK INI:  Makassar Pasca Pilkada, Antara Euforia Demokrasi dan Ancaman Banjir