Kedaulatan Pengetahuan Adat: Jantung Kehidupan, Penjaga Bumi

Kedaulatan Pengetahuan Adat: Jantung Kehidupan, Penjaga Bumi
Masyarakat Adat Kajang. - Foto: Ist
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Di bawah kanopi hutan yang rimbun, di tepi sungai yang mengalir jernih, atau di garis pantai yang memeluk laut biru, masyarakat adat telah lama hidup dalam harmoni yang mendalam dengan alam. Mereka bukan hanya penghuni, melainkan penjaga dan perawat sejati. Setiap lekuk lanskap, setiap musim yang berganti, setiap denyut kehidupan di dalamnya, adalah bagian dari narasi panjang yang membentuk pengetahuan mereka. Pengetahuan ini, yang diwariskan lintas generasi, kini semakin relevan sebagai kompas di tengah pusaran krisis iklim dan lingkungan global.

Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia (HIMAS) 2026 menjadi momentum krusial untuk kembali mengingatkan kita semua: negara, pemerintah, dan masyarakat luas, tentang urgensi mengakui, menghormati, dan memperkuat keberadaan masyarakat adat.

Bersamanya, turut diakui pula seluruh pengetahuan, nilai, tradisi, serta praktik kehidupan yang telah mereka jaga dengan teguh. Tendri Itti, Ketua Pelaksana Harian Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Wilayah Sulawesi Selatan, dengan lugas menegaskan esensi ini.

โ€œKedaulatan pengetahuan masyarakat adat melampaui sekadar mempertahankan tradisi masa lalu,โ€ ujar Tendri.

โ€œIni adalah kekuatan inheren masyarakat adat dalam menentukan sendiri cara hidup mereka, mengelola wilayah adat secara mandiri, menjaga sumber daya alam, serta merawat jalinan yang harmonis antara manusia, alam, dan seluruh kehidupan di dalamnya," sambungnya. Pernyataan ini membuka mata kita pada sebuah paradigma bahwa masyarakat adat bukan objek pembangunan, melainkan subjek utama yang memegang kunci keberlanjutan.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: