Ketika Rayap Menginspirasi Peneliti untuk Hemat Energi dan Cerdas Iklim

oleh -44 kali dilihat
Ketika Rayap Menginspirasi Peneliti untuk Hemat Energi dan Cerdas Iklim
Rayap-foto/Pixabay-RoyBuri

Klikhijau.com – Bagi banyak orang. Rayap adalah musuh bebuyutan. Makhluk kecil itu termasuk pekerja yang rajin. Tak kenal waktu. Mereka bekerja dalam senyap dan dapat menghancurkan  bangunan, khususnya yang kayu dan menyulap buku jadi tanah.

Perabot rumah yang ketika dihinggapi rayap dan tidak segera diatasi, maka bersiaplah melihatnya hancur menjadi tanah. Selain kayu, yang paling disukai oleh serangga dari ordo Blattodea ini adalah kertas atau buku dan hal-hal yang mudah terurai.

Serangga yang bernama ilmiah Isoptera ini sangat meresahkan dan dapat menimbulkan kerugian ekonomi yang besar.

Meski begitu, rayap bukan tanpa manfaat. Manfaat terbaru dan tidak terduga adalah menjadi inspirasi bangunan hemat energi dan cerdas iklim di masa depan.

KLIK INI:  “Ramuan Nenek” dan Ikhtiar Kembali ke Pengobatan Leluhur Perempuan Banggai

Sarang rayap bisa berupa gundukan, sarangnya itu yang sekaligus jadi jalan mereka berlalu lalang menuju sasaran berikutnya memiliki sistem ventilasi canggih yang memungkinkan sirkulasi udara ke seluruh struktur. Hal ini membantu menjaga dan mengatur suhu dan kelembaban.

Dilansir dari EcoWatch, ada penelitian baru dari Universitas Lund di Swedia yang menunjukkan bahwa bangunan masa depan yang terinspirasi oleh rayap dapat mencapai efek yang sama seperti pengendalian iklim tradisional, tetapi dengan efisiensi energi yang lebih besar dan tanpa jejak karbon dioksida.

“Digitalisasi proses desain dan konstruksi menciptakan peluang besar untuk bagaimana kita membentuk arsitektur, dan sistem alami dan biologis memberikan model penting tentang bagaimana kita dapat memanfaatkan kemungkinan ini dengan sebaik-baiknya,” kata David Andréen, dosen senior di Departemen Arsitektur dan Lingkungan Buatan di Universitas Lund, yang menulis artikel tersebut.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Frontiers in Materials, menunjukkan struktur bangunan berdasarkan gundukan rayap dapat memfasilitasi pengendalian iklim dalam ruangan.

KLIK INI:  Perubahan Iklim Semakin Mengancam Keberadaan Kopi

“Studi ini berfokus pada interior gundukan rayap, yang terdiri dari ribuan saluran, terowongan, dan ruang udara yang saling berhubungan, dan bagaimana ini menangkap energi angin untuk “bernafas”, atau bertukar oksigen dan karbon dioksida dengan lingkungan. Kami telah mengeksplorasi bagaimana sistem ini bekerja dan bagaimana struktur serupa dapat diintegrasikan di dinding bangunan untuk menggerakkan aliran udara, panas, dan kelembapan dengan cara baru,” terang Andreen.

Cara baru mengontrol aliran udara

Oleh karena itu, idenya adalah untuk menciptakan cara baru untuk mengontrol aliran udara di gedung yang akan jauh lebih hemat energi dan cerdas iklim daripada AC tradisional, yang menggunakan prinsip aliran curah, biasanya digerakkan oleh kipas. Sebaliknya, adalah mungkin untuk mengembangkan sistem yang turbulen, dinamis, dan bervariasi.

“Ini dapat dikontrol dengan peralatan yang sangat kecil dan membutuhkan pasokan energi yang kecil,” kata David Andréen dikutip dari Ecowatch.

Dalam studi tersebut, para peneliti mendemonstrasikan bagaimana aliran udara berinteraksi dengan geometri – parameter dalam struktur yang menyebabkan aliran muncul dan bagaimana aliran tersebut dapat diatur secara selektif. Ini dapat digerakkan tanpa menggunakan komponen mekanis seperti kipas, katup, dan sejenisnya, karena hanya diperlukan kontrol elektronik.

“Ini merupakan prasyarat untuk sistem terdistribusi di mana banyak sensor kecil dan perangkat pengatur ditempatkan di selubung bangunan adaptif iklim melalui miniaturisasi, daya tahan/keberlanjutan, dan pengurangan biaya,” kata David Andréen.

KLIK INI:  Semut Sering Mengerumuni Makanan Anda? Usir Pakai Cara Ini

Hal ini memungkinkan pengaturan iklim dalam gedung dan untuk mengontrol faktor-faktor seperti suhu dan kelembapan tanpa bergantung pada kipas besar dan sistem pemanas dan pendingin udara.

Mekanismenya bergantung pada kemampuan untuk membuat geometri internal yang kompleks (pada skala milimeter hingga sentimeter), yang hanya mungkin dilakukan dengan pencetakan 3D. Melalui pencetakan 3D, nilai dapat ditambahkan ke lingkungan binaan untuk menciptakan arsitektur berkelanjutan yang sebelumnya tidak mungkin terjadi.

“Sungguh menakjubkan bagaimana proses pembangunan rayap berhasil menciptakan “mahakarya teknik” yang berfungsi dengan baik dan sangat kompleks, tanpa kontrol terpusat atau gambar untuk merujuk pada yang kita perlukan,” simpul David Andréen dikutip dari Ecowatch.

Meski rayap menginspirasi bangunan masa depan yang hemat energi dan cerdas iklim. Serangga “licik” ini tidak bisa dibiarkan berkeliaran pada perabot atau bangunan kayu, termasuk pula pada buku-buku sebab serangga dari kelas Insecta ini akan mengubahnya menjadi tanah.

KLIK INI:  Mengenal Capung, Sang Pendekar Ulung Pembasmi Nyamuk dan Indikator Pencemaran