Aksi Teatrikal Buang Sampah di Balai Kota Tasikmalaya, Inikah Puncak Kemarahan?

Klikhijau.com – Belum lama ini, aktivis lingkungan di Kota Tasikmalaya Jawa Barat menggelar aksi teatrikal buang sampah. Video rekaman aksi tersebut beredar di sosial media. Mongabay Indonesia (2 Agus...

Aksi Teatrikal Buang Sampah di Balai Kota Tasikmalaya, Inikah Puncak Kemarahan?
Bacakan Artikel

Klikhijau.com – Belum lama ini, aktivis lingkungan di Kota Tasikmalaya Jawa Barat menggelar aksi teatrikal buang sampah. Video rekaman aksi tersebut beredar di sosial media. Mongabay Indonesia (2 Agustus 2023) melalui akun Instagramnya menayangkan khusus rekaman tersebut. Respons netizen beragam, ada yang mengecam -- sebagian lagi memuji aksi kreatif ini.

Tampak beberapa aktivis membawa tumpukan sampah dan menaruhnya serampangan di depan balai kota. Seorang aktivis yang di sekujur tubuhnya menempel sampah-sampah pun melakukan orasi atau monolog. Seorang lagi tubuhnya terbungkus plastik dan mematung. Lalu, yang lainnya terus berdatangan membawa sampah berkarung-karung dan menghamburkannya di pelataran.

Aksi ini merupakan bentuk kritik keras para aktivis yang menyorot massifnya sampah di Sungai Ciwulan dan Ciloseh. Mereka pun menuntut pemerintah Tasikmalaya untuk memberi perhatian serius pada isu ini. Ide aksi teatrikal ini tentu bertujuan menyampaikan pesan kritik tajam bagi pihak pemerintah dan mungkin juga pada perilaku masyarakat.

Apakah aksi ini menjadi penanda adanya akumulasi kemarahan para aktivis terhadap penanganan sampah di sungai yang tidak berjalan? Boleh jadi ia. Teater merupakan satu seni pertunjukan yang kental dengan kritik sosial. Fokus kritik sebuah pementasan biasanya ditandai dengan property yang digunakan di atas panggung. Lihatlah, satu-satunya property yang ditampilkan di aksi teatrikal ini adalah sampah.

Dinilai tidak solutif

Meski menyuguhkan suatu aksi teatrikal menohok, respons negatif tetap saja bermunculan. Hal ini wajar saja, sebab tidak semua orang bisa bersepakat dengan kesan dari aksi teatrikal. Katakanlah, mengapa malah membuang sampah? Mengapa tidak terlibat saja membersihkan sampahnya? Mengapa pemerintahnya yang disalahkan? Mengapa bukan masyarakatnya yang diberi edukasi?

Pertanyaan ini berkelindan dan tampaknya mewarnai komentar netizen. Seperti salah satu akun yang menulis begini: yang buang siapa? Yg disalahin siapa? Kesadaran masyarakatnya saja yang kurang…itu kalau habis demo sampahnya gak dibersihin berarti aktivis lingkungan ini otaknya yang gak beres…!

Nada nyinyir pada aksi teatrikal ini juga datang dari netizen lainnya. Seseorang menuturkannya dengan kalimat ini: aktivis berkedok apa? Seharusnya kalian membantu pemerintah, tujuan pemerintah membuat Perda dan sanksi pidana, aktivislah yang monitor aktual, masyarakat diedukasi.

Lebih keras lagi, ada yang bilang begini: gak elok banget aktivis kayak begitu. Aktivis tuh kayak Pandawa. Kerja bukan nyinyir duluan.

Kritik terhadap model aksi ini kelihatannya lebih banyak bermunculan. Tag khusus akun @pandawaragroup bermunculan. Pesannya tentu tidak bersepakat dengan aksi semacam ini. Ingatan akan aksi Pandawa memang membekas di hati para netizen. Bagi sebagian netizen, melakukan aksi heroik dan nyata lebih baik ketimbang sekadar mengkritisi.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2