6 Tempat Bersejarah Saat ke Hutan Melalui Jalur Tassika di Bulukumba

oleh -28 kali dilihat
sungai "kering" yang kami ditelusuri-foto/Ist
Irhyl R Makkatutu

Klikhijau.com – Hutan yang ada di Bulukumba, khususnya yang berada di Kecamatan Kindang berada di atas gunung. Jika ingin ke sana, bersiaplah untuk mendaki.

Karena berada di atas gunung, maka masyarakat terkadang menyebutnya naik ke borong. Borong adalah bahasa lokal di Bulukumba, khususnya di Desa Kindang yang artinya hutan.

Selain borong, nama lain yang disandangkan pada hutan adalah romang.

Pada hari Minggu, 3 November 2023 lalu, saat saya mendapat kesempatan menjelajahi hutan (untuk pertama kalinya).

Dalam perjalanan kurang lebih enam jam, saya dan rombongan sampai ke parang-parang—tanah lapang atau datar yang ada hutan.

“Dulu tidak ada pohon yang tumbuh di sini,” terang Puang Mili, yang jadi penunjuk jalan.

“Makanya dinamai parang-parang karena tidak ada pohon besar yang tumbuh,”

Parang-parang menjadi salah satu titik tujuan dan “akhir” saat naik ke hutan, baik melalui jalur Tassika, Gamaccaya ataupun Tabbuakang, Desa Kahayya.

Saat cuaca cerah, pemandangan di parang-parang akan sangat menakjubkan.

Selain parang-parang, ada beberapa tempat bersejarah atau yang penuh histori yang layak diabadikan saat masuk ke hutan melalui jalur Tassika:

  • Lembanna Cengkeng

Begitu lepas dari kebun warga dan melewati batasnya, itu artinya telah menginjakkan lereng Lembanna Cengkeng.

Sahabat hijau hanya perlu mendaki dengan jarak tidak terlalu jauh sebelum bertemu dengan tanah lapang.  Tanah lapang itu dikenal dengan nama Lembanna Cengkeng.

Lembang adalah tanah datar atau lapang. Pengabadian nama Cengkeng pada tempat tersebut karena Cengkenglah yang pernah menggarap tanah itu untuk ditanami jagung.

Cengkeng menjadi orang pertama dan terakhir yang menggarapnya. Namun, kapan pertama dan terakhir digarap oleh Cengkeng, tidak ada yang tahu pasti, tidak ada catatan tahun yang mengabadikannya. Namun, tanah lapang itu telah abadi menjadi Lembanna Cengkeng (tanah lapang kepunyaan cengkeng)

  • Lembanna Ceddeng

Selepas dari Lembanna Cengkeng, sahabat kembali akan menemukan jalan mendaki. Selepas pendakian yang seolah ingin merampas semua napas itu, akan terhampar pula tanah lapang dengan pepohonan menjulang tinggi dan tetumbuhan lain yang tumbuh mengagumkan.

Hamparan tanah datar atau lapang itu akan memulihkan lutut yang ngilu dan mengembalikan napas yang keropos. Tanah lapang itu namanya Lembanna Ceddeng (tanah lapang milik Ceddeng).

“Dulu saat tempo gerilya, Ceddeng silariang ‘kawin lari’. Dia lari ke sini dan tinggal di sini sambil menanam jagung,” jelas Puang Mili saat kami istirahat di Lembanna Ceddeng.

  • Lianna Summang

Liang atau gua yang dinamai Lianna Summang terlalu berlebihan jika dikatakan gua. Namun begitulah kenyataannya. Masyarakat terlanjur melekatkan nama Summang pada “gua” tersebut.

Gua itu adalah sebuah batu besar yang condong ke depan seperti kanopi. Panjangnya kurang lebih semeter. Bagian bawahnya ketika hujan, dapat digunakan untuk bernaung bagi satu atau dua orang saja.

Di tempat itulah, Summang pernah bermalam. Bermalam yang tidak disengaja. Saat pulang dari mengambil rotan, dia kemalaman. Summang tidak membawa alat penerang, baik senter ataupun obor.

Summang tidak bisa lagi melihat jalan jika harus melanjutkan perjalanan, maka dia memutuskan bermalam dalam cekungan batu besar itu. Menunggu pagi datang.  Sejak saat itu, tempat bermalamnya dinamai Lianna Summang.

  • Kaloro Rakkoa

Entah apa nama tempat ini, tidak ada keterangan khusus. Jadi, saya lebih suka menamainya kaloro rakkoa (sungai yang kering) karena saat kami menyusurinya, hanya terdapat beberapa titik genangan air saja.

Sementara batu yang terdapat pada sungai kering itu telah lumutan. Sepertinya sungai tersebut baru akan terisi air saat hujan melebat.

  • Lumu’a

Bagian lain yang menarik adalah lumut. Ada satu lokasi yang ditumbuhi lumut dengan sangat tebal menyerupai kasur. nama tempatnya terkadang dinamai lumu’a. Artinya lumut.

Namun, karena kemarau baru saja berlalu, area lumut itu tidak banyak ditumbuhi lumut saat saya berkunjung.

  • Parang-parang

Lokasi ini adalah akhir dari jelajah hutan kami. Di tempat ini, tanah yang tidak ditumbuhi pohon tidak terlalu luas. Namun, dulu tidak ada pohon besar yang tumbuh. Jadi, dulu saat berada di Parang-parang penglihatan akan terhampar luas tanpa halangan pohon-pohon besar.

Dari tempat ini,  saat cuaca tidak mendung, sahabat hijau bisa leluasa melihat Kabupaten Sinjai dan Bulukumba

Jika perjalanan tetap dilanjutkan, tempat bersejarah dan penuh cerita lainnya akan ditemukan, misalnya Bonto Bintoeng hingga Pasar Anjayya (arwah). Dan tentu saja sahabat hijau akan menemukan Gunung Lompobattang dan Gunung Bawakaraeng.

Menarik bukan, berkunjunglah..!!!

KLIK INI:  Forest Healing, Energi Menyembuhkan dari Belantara Hutan