Tiga Ngengat Jenis Baru Ditemukan Peneliti BRIN, Satu di Antaranya Mengancam Petani Cengkeh

oleh -31 kali dilihat
Tentang Kupu-kupu Malam dan Peran Pentingnya bagi Penyerbukan Tanaman
Ngengat atau Kupu-kupu Malam-foto/Hans-Pixabay

Klikhijau.com – Ngengat merupakan jenis serangga nocturnal atau yang aktivitasnya banyak dilakukan pada malam hari. Kehadirannya sangat dibutuhkan sebagai penyerbuk.

Perannya penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem sehingga dapat digunakan sebagai bioindikator perubahan kualitas lingkungan.

Karena itu, kehadiran ngengat harusnya menjadi kabar baik. Meski begitu, ada juga ngengat yang perlu diwaspadai. Namanya Cryptophasa warouwi.

Ngengat Cryptophasa warouwi adalah jenis baru yang berhasil diidentifikasi oleh beberapa peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi (PRBE) Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) beserta tim dari Fakultas Pertanian, Universitas Sam Ratulangi.

KLIK INI:  Tips Sederhana Mengajak Anak Mencintai Suasana Alam Raya

Bukan hanya Cryptophasa warouwi yang berhasil diidentifikasi diawal tahun 2024 ini oleh para peneliti, tapi ada dua ngengat jenis baru lainnya, yakni Glyphodes nurfitriae dan Glyphodes ahsanae.

Khusus untuk Cryptophasa warouwi, kehadirannya perlu diwaspadai oleh petani, khususnya petani cengkeh. Ngengat ini berpotensi merusak tanaman cengkeh, khusunya batang dan rantingnya.

Berdasarkan laman BRIN, Cryptophasa wallowi merupakan hama endemik yang sedang berkembang di Pulau Sangihe, Sulawesi Utara, sehingga petani perlu mengantisipasi potensi serangannya.

Sementara itu, dua spesies ngengat  baru lainnya, yaitu Glyphodes nurfitriae dan Glyphodes ahsanae, telah teridentifikasi berasal dari Papua.

Penemuan ini akan sangat membantu dalam meningkatkan pemahaman kita tentang keanekaragaman Cryptophasa di wilayah Wallacea dan memperjelas status hamanya.

KLIK INI:  Sederet Tanaman Hias yang Bisa Berpuasa dari Sinar Matahari

Hari Sutrisnom, salah satu peneliti Pusat Penelitian Sistematika dan Evolusi Biologi BRIN (PRBE)  yang terlibat dalam penemuan tersebut mengungkapkan, larva Cryptophasa dikenal sebagai hama yang membuat lubang pada cabang dan batang.

Hewan nokturnal ini mencari makan dengan memotong dedaunan, membuat terowongan, dan menutup lubangnya dengan jaring sutra dan kotoran.

“Pada tahun 2023 aktivitas serangan (hewan) tersebut pernah menyebabkan kerusakan yang bervariasi pada tanaman cengkeh di lima kecamatan Pulau Sangihe, Sulawesi Utara. Infestasinya mengakibatkan kerusakan cabang dan ranting yang menyebabkan penurunan densitas daun pada tanaman cengkeh,” jelas Hari.

Peneliti PRBE BRIN lainnya,  Pramesa Naraxmo mengatakan, larva spesies ini terpantau mengganggu tanaman cengkeh di Pulau Sangihe sejak tahun 2016, dan sebaran spesies ini akan terus meningkat hingga tahun 2023.

KLIK INI:  Kenalkan Air Mata Pengantin, Si Pengendali Hama dan Predator

Pramesa juga mengatakan bahwa ngengat berwarna coklat tua ini, dengan ciri diagnostiknya yang paling khas, tampaknya memiliki struktur padat pada organ reproduksinya.

Selain itu, kode batang DNA menunjukkan bahwa spesies baru ini berkerabat dengan spesies Cryptophasa lainnya, yang memiliki antena jantan  mirip dengan genus Pararecta.

Detail fisik  spesies baru ini dibahas dalam jurnal Zootaxa Volume 5403 Edisi 1. Terbit pada 18 Januari 2024.

Sementara itu, Jackson F. Watun, dosen Universitas Sam Ratulangi, mengatakan timnya baru-baru ini  menemukan bahwa Cryptophasa warouwi tidak hanya menyerang tanaman anyelir, tetapi juga  tanaman jambu air dan jambu biji (Myrtaceae), jelasnya.

“Ancaman ini dapat dikategorikan sebagai serangan serangga hama oligofag, sehingga sangat penting untuk segera mengembangkan rencana strategi pengendalian hama, analisis risiko hama, menyusun daftar hama karantina, dan manajemen pengelolaan hama lainnya,” ujar Jackson.

KLIK INI:  Menyerap Kebijaksanaan dari Kata-Kata Bijak tentang Tanaman
Berguna untuk pengendalian hama di masa depan

Untuk dua spesies ngengat baru lagi, yaitu Glyphodes nurfitriae dan Glyphodes ahsanae, diterbitkan dalam jurnal Zootaxa pada tanggal 23 Maret, berdasarkan hasil analisis morfologi yang dilakukan bersama oleh peneliti BRIN dan Universitas Sam Ratulangi dinyatakan sebagai taksa baru dalam jurnal Zootaxa Volume 5403 Nomor 4 pada 23 Januari 2024.

“Total Glyphodes yang tercatat di Indonesia saat ini berjumlah 48 buah. Publikasi terakhir tentang spesies Glyphodes dari Papua dan Sulawesi dipublikasikan Munroe pada tahun 1960. Sejak saat itu tidak ada lagi spesies yang dideskripsikan dari wilayah ini,” imbuh  Pramesa.

KLIK INI:  Bongo’, Meski Dibenci Tetap Memberi Banyak Manfaat

Pramesa juga mencatat bahwa hasil ini menambah aspek baru pada kriteria morfologi untuk mengklasifikasikan spesies Glyphodes dan mendukung studi morfologi yang komprehensif dalam menyempurnakan taksonomi dan filogenetik genus ini.

Menekankan ciri-ciri reproduksi dan mengidentifikasi potensi ciri-ciri diagnostik baru akan berkontribusi pada pemahaman yang lebih mendalam tentang keanekaragaman glifod.

Menurut Pramesa, penemuan ketiga spesies ngengat ini tentunya akan memperkuat pengetahuan sistematis yang akan berguna dalam banyak kasus pengendalian hama di masa depan. (*)

KLIK INI:  Aroma Alami Bunga Menurun di Tangan Polusi Udara, Ini Akibatnya