Perempuan Beraroma Kopi

oleh -193 kali dilihat
Ilustrasi perempuan menyeruput kopi
Ilustrasi perempuan menyeruput kopi/foto-pngtree.com

Lelaki itu terus saja mengirimi pesan messenger. Pesan yang tak pernah berubah, juga waktunya—jam tujuh pagi lewat delapan belas menit.  Awalnya aku tak percaya  ada lelaki seperti itu. Benar-benar tak percaya

Jujur saja aku curiga jika ia gay. Tapi, ia tak pernah menyinggung hal-hal vulgar, tak pernah. Ia cukup sopan setiap mengirim pesan. Pesannya lebih banyak aku abaikan daripada aku tanggapi, tapi ia tak putus asa. Selalu saja begitu, tiap pagi selama kurang lebih tujuh bulan ini. Aneh.

Jika saja ia perempuan, aku pasti sudah mencari  alamatnya agar bisa menemuinya. Aku akan mengajaknya mengunjungi kampungku, menikmati Donggia yang masih perawan itu, juga baruttung tinggia ‘air terjun yang tinggi,’ atau ke permandian tosunrayya ‘orang yang tak kasat mata’ yang bersusun tiga di gamaccayya. Ia pasti akan kegirangan dan lupa jalan pulang ke kampungnya.

Tapi, ia lelaki dan aku masih normal, masih menyukai lawan jenis, masih menyukai puting susu perempuan. Jadi, tak mungkin aku akan bersusah payah mencari tahu lebih banyak tentang lelaki itu. Tak mungkin.

Kemarin pada waktu yang sama, jam tujuh lewat delapan belas menit. Lelaki itu kembali mengirimiku pesan yang sama, hanya ditambah satu kata saja “tolong” itu untuk pertama kalinya sejak ia mulai mengirimiku pesan. Pesannya singkat, sangat singkat “tolong tuliskan kisahku!”

KLIK INI:  Jendela Hujan

Sudah kujelaskan panjang lebar, bahwa aku tak bisa membantunya. Tapi, ia tetap ngotot agar aku menuliskan kisahnya. Kisahnya ingin dibuatkan cerita pendek. Kukatakan padanya aku telah lama meninggalkan dunia itu.

Bagiku sebuah cerita tak pernah berhasil memperbaiki sebuah masalah, membayar utang negara, menyadarkan pemerintah agar berpihak pada rakyat. Sebuah cerita hanya diciptakan untuk didongengkan sebelum tidur, maka aku putuskan berhenti menuliskannya. Pun sebuah cerita tak pernah berhasil mempertemuknanku dengan Talia

Talia

Aku bertemu dengannya di Danau Kahayya. Ia jauh-jauh dari Makassar bersama tiga orang temannya. Salah seorang dari mereka  ingin tetirah, melupakan kekasihnya yang pergi entah. Aku yang sedang memetik kopi tak jauh dari danau itu diminta memotretnya melalui handphone Talia.

Aku menyanggupinya dengan suka rela. Di mata Talia barangkali aku terlihat kampungan sehingga ia menjelaskan banyak hal mengenai cara memotret. Termasuk bagian mana yang harus aku tekan.

Ingin kukatakan padanya,  tak ada orang kampungan, yang ada hanya mereka belum tahu. Kampungan selalu diidentikkan dengan orang kampung yang dianggap ketinggalan zaman, lalu apa bedanya dengan orang kota yang masuk ke kampung dan kegirangan setengah hidup melihat sungai yang mengalir jernih, sawah-sawah yang menguning dan markisa yang tak tahu mereka makan. Apa namanya itu, apa harus dinamai kekotaan?

KLIK Pilihan