Kisah Sukses Petani Jamur Mallawa dan Lelaki di Baliknya

Publish by -131 kali dilihat
Penulis: Taufiq Ismail
Kisah Sukses Petani Jamur Mallawa dan Seorang Lelaki di Baliknya
Jamur yang dikembangkan petani Jamur di Desa Samaenre, Kecamatan Mallawa, Maros/foto-Taufiq

Subhan berharap para petani binaannya bisa menghasilkan jamur dengan keuntungan sebesar–besarnya.

Klikhijau.com – Sejak pindah tugas dari Taman Nasional Wakatobi, Andi Subhan dengan tekun bertugas di Resor Mallawa, Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung.

Subhan tertarik mendampingi masyarakat di desa penyangga taman nasional ini termasuk mencari solusi setiap kendala yang dihadapi petani jamur. Salah satunya adalah pembuatan bibit F0 yang belum bisa dihasilkan sendiri oleh petani. Hal tersebut merupakan kendala utama yang dihadapi petani. Petani jamur biasanya memesan bibit di Desa Samangki, Simbang, Maros. Namun tak begitu lancar.

“Kami harus menunggu satu sampai tiga bulan setelah memesan bibit,” ujar Ismail.

Kedatangan Subhan di resor ini seolah menjadi angin segar bagi para petani. Dia pun mulai mempelajari seluk beluk jamur. Ia berkonsultasi dengan Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II dan Kepala Sub Bagian Tata Usaha untuk mencari solusi yang dihadapi masyarakat di desa binaaannya.

KLIK INI:  Lagi, Limbah Medis Terbuang Sembarangan di Wilayah Camba Maros

Kayuh pun bersambut, rekomendasi konsultasi: menyarankan studi banding ke petani jamur yang berada di Nusa Tenggara Barat. Sebuah kelompok tani jamur yang bermitra dengan BPDAS Dodokan Moyosari di Mataram.

Pertengahan Agustus 2017, Subhan ditemani 2 petani jamur Desa Samaenre: Ismail dan Andi Firdaus, terbang ke Mataram untuk belajar membuat bibit F0. Selama tiga hari mereka belajar serius membuat bibit F0 di sana.

Sepulang dari Mataram, Subhan dengan suka rela menggelar pelatihan ringkas membuat bibit kepada para petani di Desa Samaenre. Mengajarkan ke segenap warga yang tertarik membudidayakan jamur di desa itu. Warga sangat antusias. Mereka berbondong–bondong datang ke pondok kerja Resor Mallawa, mengikuti secara seksama langkah–langkah yang diajarkan Subhan, Isail, dan Firdaus.

Menerapkan prinsip steril

Alhasil setelah belajar dan bisa membuat bibit sendiri, gairah bertani jamur kembali tumbuh di desa ini. Masyarakat pun mulai membuat rak–rak dan membuat baklop sebagai media tanam.

Masyarakat Desa Samaenre memanfaatkan kolong rumah panggung mereka sebagai tempat budidaya jamur. Menutupnya dengan papan untuk menjaga kelembaban dan sterilnya jamur yang dibudidayakan.

Suatu waktu saat mengunjungi Samaenre. Ismail menunjukkan ke saya cara ia membuat bibit jamur. Ia mengenalkan peralatan yang digunakannya: pinset, pisau, lampu api bunsen. Saat mulai beraksi tak lupa ia mengenakan sarung tangan karet dan masker. Kamarnya ia sulap menjadi ruangan tertutup layaknya laboratorium. Ismail melakukan kultur jaringan dengan alat dan ruangan seadanya.

Prinsip steril dan suhu ideal ia terapkan. Tak hanya itu semangat belajar dan pantang menyerah membuatnya ia berhasil membuat sendiri bibit F0.

KLIK INI:  Kisah Inspirasi 3 Aktivis Lingkungan Buka Lapangan Kerja

“Untuk bahannya. Baiknya menggunakan indukan jamur dari jamur yang tumbuh perdana dari baglog. Kita bisa gunakan bagian daun atau batangnya sebagai anakan,” terang Ismail saat hendak memulai kultur jaringannya. Ia kemudian menujukkan caranya: memulai dari mensterilkan alat, memotong indukan, menyiapkan media tumbuh hingga membenamkan bagian jamur di media tumbuh.

Ismail lah yang menyediakan bibit jamur di desa ini. Ia juga menjadi mentor sekaligus penyemangat anggota kelompok untuk terus budidayakan jamur. Ismail menjual bibitnya Rp. 15.000 per botol.

Selama ini hanya tiga petani yang mampu bertahan di tengah keterbatasan bibit. Ketiga petani tersebut hanya mampu memproduksi 10–15 kg jamur per hari.

Meskipun demikian ketiganya tak pernah patah semangat menekuni profesi ini. Perlahan–lahan warga lain pun mulai melirik profesi ini. Kini, sudah ada 9 orang warga serius membudidayakan jamur. Kumbung jamur mereka pun terbilang besar.

Mengetahui cara pembibitan jamur tidak serta merta membuat bisnis ini berjalan mulus. Masih ada sedikit kendala yang menghadang. Petani memerlukan sari kentang atau agar-agar sebagai media tumbuh bibit. Hal ini membuat keuntungan petani sedikit menipis karena mahalnya media tanam bibit tersebut.

Kabar gembira melalui telepon

Sebagai pendamping, Subhan pun merasa tertantang untuk mengatasi kendala tersebut. Berharap agar para petani binaannya bisa menghasilkan jamur dengan keuntungan sebesar–besarnya.

Pemegang lisensi dive master saat bertugas di Taman Nasional Wakatobi ini terus mencari alternatif media tanam bibit. Ia mulai sejumlah media tanam, mulai dari sari mangga, sari ubi jalar hingga lumut. Namun belum menuai hasil. Hal itu tak menyurutkan semangatnya mencari. Bersama Ismail, terus mencoba media lainnya.

Suatu pagi di pondok kerja Subhan dan Ismail mencoba media tanam dengan menggunakan sekam padi yang dipadu dengan dedak dan air gula. Setelah selang beberapa hari Ismail pun dengan senangnya mengabarkan kepada Subhan akan tumbuhnya bibit pada media sekam tersebut.

KLIK INI:  8 Penyebab Terjadinya Tanah Longsor dan Banjir Bandang, Poin Terakhir Patut Diwapadai!

“Wahhh… bibitnya tumbuh, Pak, di media sekam padi yang kita tanam bersama beberapa hari lalu,” Ismail mengabarkan melalui telepon seluler.

Betapa menggembirakannya kabar tersebut. Hal ini berarti biaya membeli kentang ataupun agar–agar akan hilang, sehingga biaya produksi pun bisa ditekan. Bahan dasar media tanam baru ini mudah ditemui, bahkan melimpah. Betapa senang petani dengan terobosan ini.

Rasa dan tekstur jamur dari media tanam bibit sekam padi inipun lebih gurih. “Rasanya lebih enak dan kenyal,” ujar Amir, petugas Resor Mallawa saat mencoba jamur yang dihasilkan petani jamur Desa Samaenre.

Mengapa budidaya jamur yang dipilih Desa Samaenre? Selain karena faktor iklim yang cocok dengan tanaman ini, jamur ini mudah dibudidayakan. Tidak dibutuhkan lahan yang luas untuk memulai usaha ini. Tak kalah pentingnya adalah permintaan pasar yang cukup tinggi.

Aktivitas budidaya ini cukup menjanjikan. Ini bisa dilihat dari keuntungan yang diperoleh petani.

Petani Desa Samaenre menjual hasil panenjamurnya dengan harga 20.000 rupiah per kilogram jamur basah. Bisa dibayangkan keuntungan yang diperoleh petani seperti Ismail yang mampu memanen jamurnya sebanyak 5 kilogram per hari. Sehingga jika dikalikan dalam sebulan dia mampu meraup keuntungan sebesar 3 juta rupiah.

Jumlah tersebut adalah nominal yang dihasilkan petani dalam kondisi saat itu yang masih masih sulit memperoleh bibit. Jika bibit sudah dapat diproduksi sendiri, maka bisa dibayangkan berapa keuntungan yang akan diperoleh para petani tersebut. Ditambah lagi jika mereka menggunakan media tanam bibit temuan Subhan dan Ismail yang mudah dan murah.

Budidaya jamur tidak membutuhkan tenaga ekstra seperti hal bercocok tanam palawija. Tenaga besar hanya dibutuhkan saat membuat baglog. Baglog adalah media tanam bibit jamur.

Membentuk kelompok tani

Mengapa butuh tenaga ekstra? Karena pembuatan baglog dilakukan secara manual dengan cara mencampur semua bahan tersebut sesuai dengan takaran. Mencampurnya secara merata seperti tukang bangunan yang membuat bahan perekat bangunannya.

Baglog juga masih harus dipanaskan hingga 120oC dengan menggunakan tungku. Hal ini bertujuan untuk mematikan bakteri pada media tanam tersebut. Saat itu petani jamur di Desa Samaenre berencana membeli mesin pencampur (mixer) dan autoclave untuk memudahkan pekerjaan mereka.

KLIK INI:  Emak-Emak Ini Ciptakan Cat dari Sayur dan Buah untuk Dibagikan Gratis

Pembentukan kelompok tani jamur ini berlangsung 24 September 2017 lalu. Mereka menyepakati memberi nama kelompoknya “Kelompok Tani Hutan Samaenre Bersatu” dengan keren mereka singkat “KTH Samber”.

Kelompok yang beranggotakan 30 orang ini, kemudian memilih Andi Firdaus sebagai ketuanya. Pembentukan kelompok tersebut difasilitasi oleh Kepala Desa Samaenre dan dirangkaikan dengan penyusunan rencana kerja tahunan (RKT) kelompok.

Tak tanggung-tanggung di sela-sela acara tersebut Kepala Desa Samaenre berkomitmen membantu kelompok ini memajukan usaha mereka. “Saya akan memberikan bantuan untuk Kelompok Samber ini,” ujar Kepala Desa Samaenre, Firdaus. Riuh tepuk tangan anggota kelompok tani ini mendengar pernyataan kepala desa mereka saat itu.

Harga mesin mixer dan autoclave memang tak murah. Namun dengan bantuan dari para donatur, anggota kelompok berharap cita-cita mereka memiliki alat tersebut akan terwujud nantinya.

Hingga kemudian, Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung selaku salah satu pembina Kelompok Samber ini juga tak tinggal diam. Memberikan sejumlah bantuan untuk membantu berkembangnya KTH Samber. Bantuan berupa peralatan budidaya jamur: mixer, autoclave, dan peralatan lain, senilai 50 juta rupiah dikucurkan untuk Kelompok Samber.

“Semoga dengan bantuan ini KTH Samber bisa lebih melesat lagi produksi jamurnya,” terang Yusak Mangetan, Kepala Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung.

Selain untuk meningkatkan perekonomian warga, budidaya jamur ini juga dapat mengurangi aktivitas masyarakat masuk kawasan hutan Bantimurung Bulusaraung. Karenannya Kepala Resor Mallawa berencana menggalakkan budidaya jamur ini di wilayah kerjanya.

“Kami akan mengajak masyarakat budidayakan jamur se-Kecamatan Mallawa agar pendapatan masyarakat bisa bertambah” ujar Mustamin, Kepala Resor Mallawa saat itu. Ia sangat berharap akan berkembangnya aktivitas budidaya jamur ini.

“Dengan begitu tekanan terhadap kawasan taman nasional berangsur bisa berkurang” tambahnya.

KLIK INI:  Kawasan Wisata Bantimurung Berbenah Pasca Banjir

Tahun 2018 hingga kini Andi Subhan dipercayakan menjadi Kepala Resor Mallawa. Membuatnya berfokus membina masyarakat di wilayah kerjanya. Menumbuhkan kreativitas masarakat dengan memanfaatkan potensi desa untuk menghaslkan pendapatan tambahan.

Kisah sukses petani jamur

Hj. Nirma berkisah pengalamannya budidayakan jamur. Sebelum tertarik budidayakan jamur. Ibu tiga anak ini sehari-hari menjadi petani cabe besar bersama suaminya. Setelah mulai budidaya jamur, ia lalu berfokus dan tak lagi bertani cabe.

“Budiaya jamur lebih menguntungkan dan pekerjaan ini tidak begitu berat. Saya sekarang tidak bertani cabe lagi. Saya bersama suami fokus budidayakan jamur saja,” ujar Nirma, salah satu anggota KTH Samber.

Saya juga menemui salah satu anggota kelompok lain, Sariana. Sorang ibu rumah tangga yang berumur 50 tahun dengan semangat kuliah berkat biaya dari hasil budidaya jamur. “Saya sekarang bisa kuliah berkat budidaya jamur. Meski saya sudah tua tapi saya masih semangat belajar lagi. Saya sekarang sudah semester 5 di Pendidikan Guru Taman Kanak-kanak, Universitas Terbuka,” ujarnya dengan semangat.

Saiana juga menyampaikan terima kasih kepada teman-teman resor yang pantang menyerah mendampingi mereka. “Kami juga sampaikan terima kasih kepada Balai Taman Nasional Bantimurung Bukusaraung yang telah memberikan sejumlah bantuan berupa peralatan budidaya jamur. Uang yang tak sedikit untuk membeli peralatan canggih itu. Alat yang memudahkan pekerjaan kami,” ujar Sariana dengan mata yang sembab. Tak mampu menahan rasa harunya.

Geliat ekonomi anggota kelompok bangkit melalui perbanyakan jamur ini. Data survey pesonil Resor Mallawa menunjukkan peningkatan pendapatan anggota kelompok yang signifikan.

“Tahun 2017, saat kelompok baru kami bentuk. Kami mendapati bahwa rata-rata penghasilan mereka sebesar 1,1 rupiah per bulan. Tiga tahun berselang – 2019 – kembali melakukan kami survey. Pendapatan mereka sekarang sudah mencapai 3,1 juta rupiah per bulan,” ujar Muhammad Amir, Polhut Resor Mallawa. Amir juga dengan sukarela menjadi pendamping kelompok Samber ini.

Semoga usaha KTH samber terus melesat. Hingga pundi-pundi rupiah terus mengalir. Alam pun terjaga karena mereka telah berkontribusi merawat bumi dengan menanam pepohonan.

Editor: Idris Makkatutu
Sumber: Klikhijau.com

KLIK Pilihan!