4 Hal Ini Penting Diketahui di Balik Terbentuknya Jaringan Literasi Perimba

oleh -174 kali dilihat
4 Hal Ini Penting Diketahui di Balik Terbentuknya Jaringan Literasi Perimba
Ilustrasi/foto-mediasosialpositif.blogspot.com
Irhyl R Makkatutu

Klikhijau.com – Bulan Januari bukan hanya menginsipari para musisi tanah air menciptakan lagu, sebut saja Gigi dan Glenn Fredly. Tapi, Januari juga menginsiparis para Aparatur Sipil Negara (ASN) lingkup Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk membentuk sebuah komunitas literasi yang dinamai Jaringan Literasi Perimba (JLP)

Waktu terbentuknya  di awal tahun, tepat 1 Januari 2019. Barangkali saat itu masih banyak manusia berleha-leha di tempat tidur karena begadang menunggu pergantian tahun atau tidak bisa tidur karena terusik suara petasan.

Tapi,  ASN lingkup  KLHK) tersebut menjadikan awal tahun sebagai spirit baru yang harus diisi dengan ide-ide yang segar.

Komunitas JLP menghimpun hobi menulis dan aktivitas literasi.  Kelahirannya komunitas ini tentu bisa melecut gairah literasi para ASN.

Selain dapat mengembangkan skill dan keahlian yang dimiliki, komunitas ini juga dapat mengelaborasi ide-ide literasi hijau.

KLIK INI:  Menelisik Potensi Kerjasama Infrastruktur dan Energi Indonesia-Yordania

Isu-isu lingkungan masih mengkhawatirkan dan menjadi tanda tanya, sebab belum sepenuhnya menjadi suatu tema atau diskursus yang diminati.

Terbentuknya JLP menjadi angin segara bagi gerakan literasi hijau. Kelahirannya diharapkan dapat menjembatani lahirnya karya-karya intelektual dengan tema-tema spesifik di bidang lingkungan dan kehutanan yang akan sangat bermanfaaat bagi kelangsungan kehidupan yang sejuk di dunia ini.

Potensi para anggota JLP yang cukup mumpuni menjadikan harapan itu bukan suatu yang mustahil. Harapan itu bisa terwujud, tumbuh dan berkembang.

Apalagi JLP tidak berjalan sendiri dalam sunyi yang senyap dan cekam, sebab di sampingnya  ada Institusi KLHK yang siap menyokong dengan jaringan luas.

Tentu hal tersebut akan memperkuat jejaring komunitas ini lebih massif.

Lalu apa yang menarik dan berbeda dari JLB dibanding dengan komunitas literasi yang telah banyak bertebaran seantero Indonesia.

Setidaknya ada empat hal yang perlu Anda ketahui mengenai JLB ini, mengenai kisah di balik terbentuknya:

Didirikan oleh Lima Orang Perimba

Gagasan pembentukan JLP diinisiasi oleh 5 perimba dari sub jaringan kerja KLHK yang berbeda-beda.

  • Aditya Hani (Badan Litbang dan Inovasi)
  • Agung Rusdiyatmoko (BRG)
  • Doni Arif Wibowo (Setjen)
  • Doni Nugroho (Ditjen PTKL)
  • M. Arba’in Mahmud (Ditjen PDASHL)
KLIK INI:  Pembakar Kisah di Danniari
Syarat Menjadi Anggota

Untuk menjadi anggota di JLP ternyata ada persyaratan khusus.

  • ASN di institusi lingkup KLHK
  • Memiliki hobi/minat jurnalistik (ilmiah, populer, fiksi) atau aktif didunia literasi (pustakawan, taman baca, NGO bidang pendidikan lingkungan)
  • Punya karya tulis atau naskah yang siap dikaji bersama
  • Jika belum punya karya, punya minat dan tekad berkarya secara tertulis
  • Tidak bicara politik selain politik lingkungan
  • Keanggotaan bersifat setara, tidak berdasar SARA maupun anasir primordial lainnya (jabatan, angka kredit, pangkat dan seterusnya)
  • Mematuhi aturan yang dirumuskan tim inisiator untuk perbaikan bersama
Kewajiban Anggota dan Target di Tahun Pertama

Menariknya, di komunitas ini setiap anggota diwajibkan belajar menulis dan berbagi. Setiap anggota juga berkesempatan tukar pikiran dan pengalaman terkait dunia jurnalistik dan aktivitas literasi lainnya.

Di tahun pertama terbentuknya JLP menargetkan:

  • Menerbitkan buku pendidikan lingkungan
  • Kompilasi karya tulis anggota (sastra, artikel, opini, dan lainnya)
Inisiator JLP Sudah Memiliki Banyak Karya

Peru diketahui bahwa inisiator JLP telah memiliki pengalaman di bidang penulisan yang cukup menteren baik dalam hal menulis buku mau pun pengalaman jurnalistik.

  • Adytia Hani (penulis jurnal Litbang KLHK)
  • Doni Arif W (penulis blogger dakwah abul-jauza.blogspot.com)
  • Agung Rusdiyatmoko (Pakar GIS, jurnal internasional)
  • Doni Nugroho (penulis majalah Planalogi)
  • M Arba’in Mahmud (penulis buku Gender dan Kehutanan Masyarakat, Ekoteologi Moloko Kie Raha).
KLIK INI:  Membaca Pesan dalam Trilogi Buku "Indonesia Menghadapi Perubahan Iklim"