Falsafah Gulma, Tanaman yang Dilabeli Pengganggu Tanaman Lain

oleh -55 kali dilihat
Falsafah Gulma, Tumbuhan yang Dilabeli Pengganggu Tanaman Lain
Rumput gulma - Foto/Pixabay
Wahyuddin Junus

Klikhijau.com – Ruang dan waktu selalu memberi aksioma hidup yang menyejarah. Setidaknya ia hadir dan diadakan dalam realitas kehidupan. Itu pula yang mengilhami ketika kita mengapresiasi kehadiran satu jenis tanaman yang disebut gulma.

Kehadirannya dianggap tak banyak memberi kegunaan. Bahkan penumbuhannya dicitrakan sebagai tanaman pengganggu. Ia tak lebih dan dianggap sebagai tumbuhan yang tak diharapkan.

Beberapa stigma yang disematkan pada habitatnya. Hamparan rumput yang tumbuh liar dimanifestasi sebagai gulma. Kemunculannya dianggap mengganggu tanaman lain. Ia menjadi musuh, secara umum bagi petani.

Apa yang disarikan blog Pertanian Organik memberikan alasan hidup bagi kehidupan gulma. Pertama, ketika tanah pertanian kita sudah tidak subur lagi, maka yang mampu tumbuh hanya gulma.

Kedua, tanah gersang ketika disiram air, maka yang akan tumbuh adalah gulma.

Ketiga, saat menaman sayuran, gulma yang tidak dibersihkan maka gulmalah yg akan tumbuh subur dan tanaman kita akan menjadi lambat tumbuhnya.

Akibat dari keadaan tersebut di atas, dilihat dari pertumbuhan gulma, sepertinya gulma lebih banyak, lebih cepat, lebih gesit dan lebih getol dalam menyerap unsur hara dari dalam tanah.

KLIK INI:  Kisah Seekor Tikus Bergelut Maut Demi Selamatkan Nyawa Manusia

Namun begitu, saripati pengetahuan organik dari blog ini menawarkan solusinya. Dengan pertanyaan tunggal, apa yang bisa dimanfaatkan dari gulma untuk tanaman kita ?

Secara rinci diuraikan sebagai berikut.

  1. Sebagai PENAMBANG ALAMI unsur hara dari dalam tanah.
  2. Sebagai sumber bahan POC yang kaya akan beragam jenis unsur hara yang dibutuhkan tanaman.
  3. Bisa dijadikan sebagai kompos murah meriah.
  4. Sebagai bahan baku pupuk yang berkelanjutan.
  5. Jika gulma / tanaman liar sudah dimanfaatka secara maksimal, maka tidak dibutuhkan lagi Herbisida, baik yang sintetis ataupun organik.
Falsafah gulma

Di lain tempat, stigma pada gulma perlahan mulai berubah. Adalah Nur Haedar Arifin, berkisah, “selama ini kalau nemu tanaman ini diantara lili Paris dan rerumputan di taman kecilku, pasti langsung dicabut karena menganggapnya gulma.” Cerita jebolan mahasiswa Biologi Unhas ini, diungkap lewat  akun medsosnya. “..Tetapi sekarang jadi mikir menjadikannya naik tahta,’ urainya.

Namun sesungguhnya fenomena keberadaan gulma telah mempengaruhi pikiran manusia. Gulma ikut menjadi jejak pemantik yang menggelora.

Spirit itu diamati oleh Syamsuddin Simmau. Ia menuliskan, kadang sebuah keputusan hebat sulit diambil karena ada bunga-bunga gulma yang tampak menggoda.

KLIK INI:  Krisis Iklim Benar-Benar Bukan Hal Sepele, Merefleksi Kembali ‘Before the Flood’

Namun tidak sampai disitu, sosiolog ini memberi narasi tambahan. “Keputusan hebat itu harus tetap diambil meskipun terasa pahit. Rona kehadiran gulma, membuat keputusan hebat butuh perjuangan, kerja keras, dan tekad pantang menyerah.”

Lalu, seperti apa gulma dalam alam pikir pengetahuan pertanian. Ali Said punya penjelasan lugas. Menurutnya, secara terminologi budidaya tanaman liar dinamai gulma.

Alumnus pertanian ini menjabarkan. Mengapa disebut demikian, gulma tumbuh sebagai tanaman yang liar karena tumbuh dengan sendirinya. Ia tak dipedulikan di antara tanaman yang dilabeli sebagai komoditi.

Gulma menjadi satu misteri atas kehadirannya untuk hidup diantara tanaman lain. Pertanyaan filosofis pun diajukan oleh mantan aktivis Unhas ini. “Salah satu yang tidak pernah dipertanyakan hanya oleh ilmu pengetahuan adalah atas alasan apa sesuatu yang disebut gulma/tumbuhan liar berada di tempat tumbuhnya ?”

Ahmad Said ikut memberi pijakan eskatologis pada gulma. “Pongah sekali manusia modern ini, justru karena ketidaktahuannya melabeli sekelompok tumbuhan ini sebagai liar atau radikal.”

KLIK INI:  Cerita Sebatang Pohon Kelor di Muna yang Berdaun Putih Susu

Dan atas nama ilmu pengetahuan itu, menurutnya, mereka mengambil tindakan eradikasi dan dalam masa tertentu, dapat memusnahkan beberapa jenis plasma Nutfah.

Bersama dengan itu ia pun ikut melancarkan kritik atas hegemoni ilmu pengetahuan.

“Tanpa disadari ilmu pengetahuan menjadi alat penindasan, bahkan terhadap makhluk Tuhan yang bernama gulma. Degradasi ekosistem yang berimplikasi pada terjadi disharmoni antara manusia dengan alam, dan antar manusia itu sendiri berawal dari cara berpikir egosentrisme yang kapitalistik.”

Manusia modern diamatinya, telah kehilangan kearifan dan keterhubungannya dengan semesta sebagai sesama makhluk hidup. Ia pun menimpali, “Amanah sebagai pemimpin seluruh makhluk di muka bumi (khalifah) telah disalahpahami dan majalah berperilaku sebagai monster dengan segala teknologi yang dimiliki manusia.

Sekelumit pendar hidup gulma, pantas untuk direnungkan. Sebagian habitus gulma atau sepenggal perjalanan hidupnya bagai melucuti pikiran manusia yang kosong.

Betapa pun itu geliat alam sadar manusia yang diolah dengan susah payah itu berarti melipatgandakan pengetahuan baru sambil melatih perasaan berempati. Termasuk makhluk Tuhan bernama’ Gulma’.

KLIK INI:  Tumbuh Liar Jadi Gulma, Lamanti Tetap Diminati sebagai Sayuran