Bermula dari Cerita Perihal Pohon, Pegiat Literasi Ini Memantik Daya Kritis Anak

oleh -22 kali dilihat
Bermula dari Cerita Perihal Pohon, Pegiat Literasi Ini Memantik Daya Kritis Anak-anak
Anak-anak SD yang menggambar setelah diskusi dengan pegiat literasi Rusdin Tompo - Foto/Ist

Klikhijau.com – “Siapa yang pernah menanam pohon?” Tanya Rusdin Tompo pada beberapa anak berseragam Sekolah Dasar (SD) yang berada di dekatnya. Hampir semua anak mengacungkan jari.

Penggiat literasi dan aktivis hak anak itu melanjutkan pertanyaan, “Apa manfaat pohon bagi kehidupan kita, manusia?” Ada yang menjawab memberi oksigen bagi manusia, ada juga yang menjawab agar halaman dan rumah jadi indah. Meski rerata anak mengaku punya pohon atau tanaman di rumah, tapi tidak semua pernah menanam pohon.

“Saya hanya menyiram pohon, Pak,” jawab seorang anak polos.

Pohon digunakan sebagai tema pertemuan hari ini, Kamis (18/11/2021), lantaran pada tanggal 21 November, diperingati sebagai Hari Pohon Sedunia. Anak-anak diminta mengamati pohon, mulai dari batang, ranting hingga pucuk daunnya. Setelah itu, mereka dipersilakan menggambar atau menulis puisi sesuai minat dan bakatnya.

Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti itu sering digunakan Rusdin Tompo untuk berinteraksi dengan anak-anak yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuker minat bakat di SD Negeri Borong, Kecamatan Manggala, Kota Makassar.

Biasanya, dia memanfaatkan momen peringatan hari-hari tertentu sebagai pemantik ide bagi anak-anak yang mengikuti kegiatannya. Mereka ada yang masih duduk di kelas 1, tapi ada juga yang kelas 5.

KLIK INI:  Selain Sehat, Rutin Tidur Siang Tingkatkan Prestasi Anak di Sekolah
Memanfaatkan momen hari besar

Penulis buku yang menggunakan metode seni dalam kegiatan literasi ini menjelaskan dengan memanfaatkan hari-hari besar, diharapkan akan menambah wawasan anak. Anak termotivasi meng-up date pengetahuan dan rasa ingin tahunya. Bisa terbangun kesadaran kritis anak dengan belajar langsung dari lapangan atau alam sekitarnya.

Pada pertemuan pekan sebelumnya, Kamis, 11 November 2021, Rusdin Tompo mengajak anak-anak menggambar pahlawan. Dia sengaja membawa poster bergambar  Proklamator RI, Soekarno-Hatta, pahlawan revolusi, tokoh kebangkitan nasional, dan pejuang lainnya.

Poster bergambar pahlawan itu dibeli di toko buku sebagai media pembelajaran. Rusdin bercerita bahwa peringatan Hari Pahlawan didasarkan pada kisah arek-arek Surabaya yang gigih menentang kehadiran penjajah. Saat itu, ada tokoh yang terkenal, yakni Bung Tomo.

“Ada juga pahlawan perempuan, Pak. RA Kartini, namanya,” kata Syifah Putri Nadiatul Khasanah menimpali.

Murid kelas 4 itu menyela ketika Rusdin Tompo sedang menerangkan, itu karena pada poster yang diperlihatkan tidak ada gambar pahlawan perempuan.

KLIK INI:  Bagaimana Menjadikan Sampah sebagai Sumber Daya?

Rusdin Tompo lalu menjelaskan, memang ada banyak pahlawan perempuan, di antaranya Cut Nyak Dien dari Aceh, Martha Christina Tiahahu dari Maluku dan Opu Daeng Risaju dari Sulawesi Selatan.

Dia menantang anak-anak menggambar salah satu wajah pahlawan yang ada di poster tersebut. Dia memberi pilihan, anak-anak bisa melihat gambar pahlawan di buku koleksi Perpustakaan Gerbang Ilmu, yang jadi tempat aktivitas minat bakat atau mencari contoh gambar di Google.

Rupanya, anak-anak lebih memilih meniru gambar yang ada di poster. Karena hanya ada satu poster, maka gambar-gambar itu digunting terlebih dahulu lengkap dengan nama dan keterangan yang ada di bawahnya.

Ada yang memilih untuk menggambar pahlawan hanya karena rambutnya mudah digambar atau karena wajahnya yang gampang diingat. Bung Karno dan Jenderal TNI Ahmad Yani, di antara tokoh yang digambar.

“Kalau jenderal itu bintangnya berapa, Pak?” Begitu pertanyaan yang dkemukakan Andi Muhammad Huga, murid kelas 5. Rusdin Tompo menjawab, dengan menjelaskan urutan kepangkatan dalam ketentaraan. Katanya, “Jenderal penuh itu bintangnya empat.”

Nur Aisyah Taufiq menggambar Letjen TNI Anumerta Suprapto. Dia tak hanya menggambar tapi juga menambahkan tulisan “pahlawan kami tetap berjuang”. Ada juga yang menambahkan bendera merah putih di gambarnya.

Kebebasan berkreasi dan berekspresi diberikan pada setiap pertemuan. Rusdin Tompo menerapkan pendekatan hak anak dengan metode yang relatif sederhana. Dia percaya pada proses dan pembiasaan yang akan membuat karya anak makin berkualitas.

Setelah kegiatan, beberapa anak meminta potongan gambar pahlawan itu untuk dibawa pulang.

KLIK INI:  Apa itu Pati pada Tanaman dan Bagaimana Proses Pembentukannya?