Menelisik Makna Pertobatan Ekologis bagi Umat Katolik

oleh -51 kali dilihat
Menelisik Makna Pertobatan Ekologis bagi Umat Katolik
Ilustrasi - Foto: Unsplash

Klikhijau.com – Pertobatan ekologis merupakan buah pemikiraan yang umum dikenal di kalangan umat katolik.

Tak jarang, umat katolik memandangnya sebagai konsep penebusan dosa ekologis yang memberikan pemahaman tentang ekosentrisme.

Ekosentrisme sendiri merupakan paham dari filsafat politik ekologi yang bertumpuh pada keseimbangan alam, kesadaran dan solidaritas kolektif dalam relasi manusia terhadap alam.

Pertobatan ekologis menghimpun pinsip mendasar yang terintegrasi antara ajaran katolik, lingkungan, sosial dan ekonomi.

Di tengah gempuran krisis ekologis, kemerosotan sosial dan penurunan kualitas hidup. Lingkungan adalah sektor utama yang menjadi perhatian dalam diskursus pembahasan. Permasalahan lingkungan acap kali berkelindan pada laku hidup dan persepsi manusia yang menafikkan subjek lain. Dalam perkembangan pemikiran pertobatan ekologis menyusul pembangunan manusia yang berkesadaran.

KLIK INI:  Akan Kemana Sampah Platik yang Mengepung TPS Saat Pencoblosan?

Paradigma pertobatan ekologis

Pertobatan ekologis secara sederhana tercermin dalam cara hidup, sikap moral dan tindakan yang berpangkal pada perwujudan keimanan dan ketaqwaan yang menitikberatkan pada harmonisasi setiap aspek kehidupan.

Konstruksi pradigma mesti diperbaharui dengan menempatkan lingkungan secara proporsional. Tidak hanya dilihat dari segi keuntungan, akan tetapi juga dampak yang akan ditimbulkan.

Kerusakan lingkungan bertautan dengan segala aspek yang saling memengarhui satu sama lain dalam kehidupan. Salah satunya berkutat pada persoalan sampah yang bagi sebagian masyarakat tidak bernilai dan tak memiliki harga.

Pertobatan ekologis berupaya untuk menjadikan ajaran katolik sebagai landasan fundamental dalam mengubah pradigma dan laku perbuatan masyarakat dalam memandang persoalan sampah. Budaya komsumtif mengubah secara drastis laku sikap manusia kearah yang lebih praktis. Seperti berkembangnya sikap apatis, dan persepsi yang menganggap persoalan sampah sebagai urusan luar yang tidak terkoneksi secara individu.

Melalui transformasi pertobatan ekologis, setiap individu lahir dalam sebuah keadaan yang baru.  Disini agama memainkan peran utama dalam  membuka jalan bagi lahirnya pradigma baru dengan tetap mengacu pada upaya menyelaraskan nilai-nilai keagamaan dan realitas yang dihadapi.

KLIK INI:  Piknik di Pantai Berkubang Sampah

Benang merah dari segala persoalan lingkungan adalah pengingkaran dan penyangkalan eksistensi. Padahal seyogianya semua entitas dalam alam semesta sebagai suatu persekutuan universal.

Relevansi spirit nilai-nilai keagamaan didudukkan dengan mengesampingkan sikap hidup yang kontradiktif  dengan spirit pertobatan ekologis, seperti keserakahan, ketidakpedulian terhadap lingkungan dan sikap antroposentrisme.

Dalam menyikapi persoalan lingkungan, Paus Fransiskus dalam ensiklik Laudatao Si mengajak umat katolik untuk memperbaharui relasi manusia dengan Allah, sesama manusia dan alam. Sebagaimana dalam kitab kejadian (2:15) ‘‘memelihara, melindungi, melestraikan, merawat dan mengawasi’’.

Sejalan dengan itu, merawat lingkungan juga tercantum dalam kitab kejadian (1:28). ‘‘beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dab burung-burung dan atas segala binatang yang merayap di bumi’’

Pesan Tuhan perihal pertobatan ekologis diliputi oleh upaya untuk mengubah secara kongkrit kondisi lingkungan yang tak terawat pun tak terjaga, ‘‘agar bumi kembali pada martabatnya semula: Allah melihat segala yang dijadikannya itu sungguh amat baik’’ (1:31).

KLIK INI:  Saatnya Memetik Inspirasi Hidup dari Kata-Kata Mutiara tentang Sungai

Khotbah Pengolahan Sampah

Dimensi dari pertobaatan ekologis tidak hanya berputar dalam wacana menyelamatkan dunia melalui gagasan tetapi juga dalam tindakan-tindakan konkrit. Melalui peran pemuka agama, penyadaran masyarakat akan pentingnya pengolahan sampah dapat ditingkatkan melalui khotbah untuk mengajak masyakat untuk lebih peduli terhadap lingkungaan.

Kesadaran akan pentingnya menjaga harmonisasi bagi umat katolik, menumbuhkan apa yang disebut Eco Pastural dan gerakan Kolekte sampah. Eco pastural adalah kebijakan Sinode Keuskupan Bogor yang mendorong gerakan pemilahan sampah dan pengolahan sampah dari gereja ke gereja. Demi  terwujudnya pertobatan ekologis melalui pendekatan ekologis integral.

Sedang kolekte berarti ‘‘mengumpulkan’’, kolekte adalah sebuah tradisi penduduk Israel mempersembahkan kepada tuhan hasil karya mereka. Tradisi inilah yang diteruskan pengikut kristus dari generasi ke generasi. Esensi dari gerakan kolekte sampah dijiwai oleh spirit kolekte, yaitu mensyukuri berkat tuhan yang diwujudkan dengan mempersembakan sampah sehingga nantinya dapat menjadi perpanjangan berkat Tuhan.

Perubahan pradigma memandang sampah yang semula dipandang menjijikkan serta dibuang begitu saja, menjadi sesuatu yang bernilai dan dapat menjadi berkat. Gerakan kolekte sampah menjadi salah satu bentuk kontribusi konkrit gereja-gereja katolik. Gerakan ini menjadi wujud nyata pertobatan ekologis dalam memperbaharui relasi dengan Allah, sesama manusia dan ciptaannya.

Dengan demikian sampah menjadi satu bentuk objek berharga yang disyukuri. Menjadi stimulus bagi masyarakat, komunitas dan agama lain untuk merangsang terciptanya pengelolahan sampah yang bersifat berkelanjutan dan regeneratif dalam meminimalisir dampak negatif proses produksi.

KLIK INI:  Bagaimana Menjadikan Sampah sebagai Sumber Daya?