- Kesadaran yang Datang Terlambat akan Keindahan Lily Amazon - 18/04/2026
- Mata Waktu - 12/04/2026
- Cerita Elang Alap Jepang yang Lepas dari Jeratan Maut - 05/04/2026
Klikhijau.com – Apa yang pertama kali hinggap ke telinga kita ketika menyebut TPA alias Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah?. Semisal TPA Antang yang menjadi pusat pembuangan sampah-sampah dari seluruh penjuru Makassar.
Sebagian besar dari kita merasa jijik, kotor, dan bisa jadi refleks menutup hidung seolah membayangkan diri sedang menghirup bau sampah yang busuk.
Tetapi tidak demikian halnya dengan TPA di Talangagung, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Di TPA ini, sampah dikelola secara tepat dan mendatangkan banyak manfaat, terutama dalam tiga hal: ekonomi, edukasi, dan sumber energi terbarukan. Bagaimana caranya?
Setiap hari, sebanyak 160 M3 sampah dari 8 kecamatan di Malang disatukan. Karena TPA Talangagung menggunakan pendekatan 3R alias reduce, reuse, dan recycle, sampah-sampah yang sudah dikumpulkan dari 8 kecamatan itu dipilah terlebih dahulu.
Salah bagian menarik dalam pengelolaan sampahnya adalah controlled landfill. Tumpukan sampah ditata dengan mengikuti topografi dan struktur geologi setempai sampai mencapai ketinggian sekitar 2 meter kemudian ditutup tanah atau terpal yang dapat terurai.
Metode ini memungkinkan penguraian sampah yang efektif. Hal ini dilakukan secara berulang-ulang sampai cekungannya penuh dan menjadi lahan urug terkendali.
Pada tiga zona
Sementara itu, area TPA dibagi menjadi tiga zona. Pertama, Zona Pasif yaitu area yang sudah penuh dan telah ditutupi lapisan tanah sehingga memungkinkan untuk ditanami pepohonan dan menjadi area hijau atau lokasi wisata.
Zona kedua disebut zona penyangga yang berfungsi sebagai kawasan penyangga yang dipenuhi beberapa jenis tanaman berupa sayur dan bunga. Jenis kedua tanaman ini dapat difungsikan sebagai penyeimbang Zona Aktif.
Dan ketiga adalah Zona Aktif. Zona khusus diperuntukkan untuk mengolah sampah. Sampah-sampah dikumpulkan dan ditumpuk dipadatkan dan ditimbun tanah untuk memungkinkan terjadinya proses fermentasi anaerob. Proses ini terjadi di Zona Penyangga dan Zona Aktif.
Adapun pemrosesan sampah menjadi energi terbarukan adalah sebagai berikut. Air lindi (air limbah yang dihasilkan dari proses penguraian sampah) dinetralkan dan dialirkan kembali ke TPA guna menjaga kelembapan sampah yang masih mengalami proses fermentasi anaerob yang terjadi di bawah timbunan tanah.
Kemudian, gas metana dihasilkan dan ditangkap oleh pipa-pipa vertikal penangkap gas. Gas metana lalu disalurkan ke generator untuk keperluan energi di TPA Wisata edukasi. Selain itu, gas metana juga disalurkan ke rumah-rumah warga sekitar untuk digunakan untuk keperluan memasak yang menggantikan penggunaan gas elpiji.








