Klikhijau.com – Sepasang kekasih duduk di bawah pohon cengkeh yang rindang. Mereka menikmati angin yang melenakan.
Tiupan angin yang perlahan, menggoyangkan daun cengkeh dengan santai. Sekumpulan burung pipit hinggap di pohon cengkeh itu. Suaranya riuh.
Sepasang kekasih itu tersenyum riang. Di sekelilingnya rerumputan hijau tumbuh subur, belalang berlompatan dan dengungan lebah adalah musik paling syahdu yang pernah mereka dengar.
Adegan itu, di masa depan sangat mungkin tak lagi kita temukan. Hanya menjadi cerita, menjadi kenangan dan dongeng.
Menderasnya arus urbanisasi dan laju deforestasi, hijau perlahan luntur dari ruang hidup kita. Gedung-gedung tumbuh lebih cepat daripada pohon, sementara polusi mengikis kualitas udara yang seharusnya kita hirup dengan lega.
Hijau selama ini kita maknai sebagai kehidupan, baik itu hutan, taman, sawah, kebun, bahkan pepohonan di pinggir jalan, kelak bahkan imajinasi tak lagi bisa menjangkaunya. Terlalu jauh. Teramat asing.
Ruang hijau sangat mungkin hilang dari pandangan kita. Kita hanya akan disuguhi warna buram yang kelabu.
Lalu, kapan warna hijau akan hilang dari muka Bumi ini? Itu Pertanyaan dengan jawaban yang tak memiliki tanggal pasti.
Namun, berbagai film telah mempertontonkan kegersangan Bumi tanpa pepohonan. bahkan berbagai penelitian memberi gambaran yang cukup mengkhawatirkan.
Misalnya, laporan Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) menunjukkan bahwa jika kenaikan suhu global menembus lebih dari 2°C pada pertengahan abad ini, maka hutan tropis—termasuk Amazon dan Kalimantan—akan mengalami kerusakan permanen.
Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) mencatat, dunia kehilangan sekitar 10 juta hektar hutan setiap tahun akibat deforestasi. Itu setara dengan 27 kali luas Jakarta yang hilang setiap tahunnya. Jika tren ini berlanjut tanpa kendali, pada tahun 2050 sebagian besar ruang hijau alami bisa tinggal setengah dari kondisi sekarang.
Berdasarkan gambaran tersebut, kita bisa bayangkan dalam 30 hingga 50 tahun ke depan Bumi mungkin kehilangan warna hijaunya yang berasal dari tumbuhan.
akibatnya generasi mendatang sangat mungkin tumbuh di dunia di mana warna hijau tumbuhan hanya ada dalam foto, lukisan, pada video pendek yang tak memberi rasa sejuk sama sekali.
Hidup di Bumi tanpa warna hijau
Baik sahabat hijau. Mari kita bayangkan sebuah kota di tahun 2080. Udara panas memantul dari aspal dan baja, suhu mencapai 40°C hampir setiap hari. Anak-anak pergi ke sekolah dengan masker oksigen mini, bukan untuk melawan virus, tetapi karena udara kota sudah terlalu berat untuk dihirup apa adanya.
Taman kota yang dulu menjadi tempat bermain sudah berganti dengan pusat belanja. Kebun cengkeh menjadi permukiman.
Lalu, jika seseorang ingin melihat pepohonan, mereka harus masuk ke rumah hijau—sebuah fasilitas buatan dengan tiket masuk. Di sana, pohon-pohon dipelihara seperti hewan langka di kebun binatang. Hijau berubah status dari milik publik menjadi komoditas yang diperjualbelikan.
Bagi sebagian orang, realitas itu mungkin terdengar ekstrem. Namun kita sudah bisa melihat gejalanya hari ini: suhu kota-kota besar meningkat, polusi udara menutup langit, dan ruang terbuka hijau digerus oleh pembangunan. Apa yang kita alami sekarang bisa jadi permulaan dari masa depan tanpa hijau.
Namun begitu, selalu ada harapan yang tersisa. Banyak cara yang bisa kita lakukan, di antaranya melalui gerakan urban farming. Kita melihat di kota-kota besar, semakin banyak warga yang menanam sayur di atap rumah atau membuat kebun komunitas.
Selanjutnya adalah kebijakan reboisasi di mana negara-negara mulai memperluas program penghijauan, menanam kembali jutaan pohon untuk mengganti hutan yang hilang.
Perlunya penggunaan energi terbarukan, dengan beralih dari energi fosil ke tenaga surya, angin, atau air dapat mengurangi emisi yang mempercepat perubahan iklim.
Langkah lainnya adalah dengan menghadirkan kesadaran konsumen. Semakin banyak orang yang mengurangi penggunaan plastik, memilih produk ramah lingkungan, dan mendukung bisnis berkelanjutan. Kemudian yang tak kalah pentingnya adalah pertanian berkelanjutan.
Langkah-langkah kecil ini, jika dilakukan bersama-sama, bisa memperpanjang umur hijau di bumi. Sebab warna hijau dari tumbuhan adalah hak semua makhluk hidup. Menjadi paru-paru bumi, penopang kehidupan, sekaligus penenang jiwa.








