Sepasang Mata Hujan

oleh -55 kali dilihat
Ilustrasi hujan
Ilustrasi hujan/foto-Lampungpro.com
Irhyl R Makkatutu

Air berlomba sampai ke laut. Mengajak apa saja yang dilaluinya. Kerikil, batu besar, kayu, daun, ternak, rumput, lumut. Apa saja. Tak ada yang kuasa menolak.

Semakin jauh, semakin banyak yang ikut. Air yang awalnya adalah cermin, berubah warna jadi kopi susu pekat. Warna kesukaan orang-orang kota.

“Berhenti!” Sebatang pohon tammate melintangkan dirinya, menghalangi air masuk ke tambak-tambak garam.

“Kenapa?” tanya batu besar yang telah ngos-ngosan. Ia telah ikut sejak dari gunung. Batu besar itu menggelinding dari atas gunung karena didorong kuat oleh air hujan yang tumpah dari langit. Tempatnya tertanam tiada kuasa menahannya. Lalu ia menggelinding, merampas hidup apa saja dilaluinya.

KLIK INI:  Patok di Tengah Petak Sawah

“Jika tambak garam itu hancur, kehidupan akan hambar,” jawab pohon tammate.

“Hahahaha, tak ada urusan dengan kita,” ujar air berwarna kopi susu pekat itu. Lalu diterabaslah pohon tammate itu.

Tak ada pilihan, pohon tammate pun harus ikut. Ia sesekali dilindas oleh batu besar, yang ikut sejak dari gunung. Tubuhnya gemeratak, serasa rontok.

Air yang kini berubah warna jadi kopi susu kental itu menerabas tambak garam. Melelehkan dan menyeret garam yang telah putih salju dan siap panen. Tiada tersisa, kehidupan bakal hambar.

Kehambaran di matamu

Kamu termangu di dapur rumah panggungmu yang berdiri di tepi kali itu. Hari ini kamu akan memasak daun kelor. Kakak lelakimu yang telah disekap rantau datang. Ia ingin bernostalgia dengan sayur kelor. Barangkali ia rindu masakan ibu.

KLIK INI:  Pohon Kenangan

Keahlian memasak ibumu turun ke kamu, entah dengan cara apa. Apa yang kamu masak akan berubah jadi santapan yang menari lihai di lidah, menjelma masakan ibu—masakan terenak sepanjang masa.

Ketika daun kelor itu telah hampir masak, kau mencoba mencicipinya. Tapi, rasanya hambar. Padahal telah kamu tuangi bumbu penyedap rasa.

Kamu memutar kepala kiri dan kanan, mencari apa lagi yang harus dituangkan ke dalamnya. Matamu mampir pada toples yang penyimpanan garam. Kamu mengambilnya, memeriksanya. Sayangnya garam telah tandas di dalamnya—tiada tersisa.

Bagimu dan juga saudara lelakimu yang baru pulang dari sekapan rantau itu. Tak ada bumbu dapur yang paling enak dari garam yang diperam di tambak petani garam, dibentuk panggangan matahari diangin-anginkan angin laut yang sepoi, digarap dengan cinta dan cucuran keringat para petani garam. Garam yang tak sekadar garam, tapi jalan panjang menuju masa esok yang secerah matahari pagi.

Kamu mulai mencari ide cara mendapatkan garam, meminjam ke rumah tetangga, ke pasar membelinya atau membeli ke penjual kaki lima.

KLIK INI:  Pada Lorong di Kotamu

Opsi pertama, kamu menertawakan dirimu sendiri. Tak ada sejarah sesama tetangga akan saling meminjamkan garam. Garam, benda penting yang selalu dianggap sepele. Tak etis rasanya meminjam garam, bakal jadi cerita turun temurun orang sekampung. Dan itu akan membuat dada sesak.

Namun, jika harus keluar rumah membeli garam. Rasanya lebih tak mungkin lagi. Hujan yang curah sejak dua hari ini, membawa air meluap hingga ke jalan, ke kolong rumah. Warnanya kopi susu kental.

“Garam habis, pakai bumbu penyedap rasa saja, ya?” tanyamu kepada kakak lelakimu itu. Wajahnya telah pias, entah karena dekapan dingin atau lapar.

“Astaga, Ismi, bagaimana bisa garam habis di dapurmu. Itu tak boleh terjadi, tak boleh,” ujar kakakmu kaget.

Kamu tak menanggapinya, hanya tersenyum malu saja. Sebagai perempuan yang tinggal berdua saja dengan ponakan yang baru kelas dua SD. Persoalan masak memasak memang tak terlalu jadi prioritas saja. Apalagi saat makanan bisa dipesan online. Dapurmu lebih banyak menganggur dari memasak sayur.

“Tak enak kalau bukan garam,” jawabnya, “Ibu selalu memakai garam ketika masak sayur kelor,” lanjutnya.

“Oke, tunggu hujan mereda lalu saya akan membelinya di pasar atau di pedagang kaki lima di ujung lorong,” katamu.

“Ok, tambahkan kopinya saja kalau begitu, biar lapar tertunda!” pinta kakakmu.

KLIK INI:  Gerakan Kultural Ekologi Politik Kaum Muda Nahdliyin
 Resah yang tumbuh di mata

Air berwarna kopi susu pekat itu terus saja mengalir. Apa yang dibawanya menyapu semua yang dilaluinya. Seorang lelaki tua berdiri mematung di atas rumah panggungnya yang sederhana.

Ia menatap keluar jendela menyaksikan tombak garamnya yang hampir panen tersapu air. Tanpa disadari matanya menghangat. Bayangan cucunya yang tak lama lagi tamat  SMA dan akan melanjutkan ke perguruan tinggi membayang tunai.

Cucu semata wayangnya itu, telah dipelihara dan dirawat sejak kecil. Ibu dan bapaknya yang pergi merantau lupa pulang dan cara mengirim kabar apalagi uang.

Maka kegagalan panen garam adalah ulat-ulat yang menggerogoti kegagalan cucunya menempuh pendidikan yang lebih tinggi pula.

Jika cucunya berhasil kuliah, cucunya akan memiliki pendidikan tertinggi dari siapa pun di kampungnya. Itu akan membuatnya menjadi kakek yang paling bahagia dan bangga.

Tatapannya terus saja ke arah tambak garamnya, sesekali ia arahkan ke ujung tambak, di mana pohon tammate berdiri kokoh—tempat ia biasa bernaung dari terik matahari yang memanggang. Pohon yang ia tanam sendiri.

KLIK INI:  Persiapan Menghadapi Masa Pancaroba, Pembelian Multivitamin Meningkat

Alangkah kagetnya ketika melihat pohon itu roboh, melintang lalu menggelinding terbawa air. Pohon tammate itu melintasi tambak garamnya. Menghapus garam yang telah memutih salju.

Ketika dilihat pohon itu, yang dulu jadi penyelamatnya dari terik matahari. Ia menyadari, telah menanam dan memelihara monster yang menghancurkan masa depan cucunya.

Ia melirik ke dapur, menyaksikan istrinya yang telah renta itu termangu di depan tungku.

“Kenapa Bu?” tanyanya.

“Sayur kelor ini terasa hambar,” jawab istrinya.

“Barangkali kamu lupa pemberi penyedap rasa atau garam?”

Istrinya tertawa, tapi tertawa dengan sangat kecut. Garam-garam yang dipanen suaminya telah terjual semua demi membeli gas, lap, gayung, panci, ikan dan apa saja kebutuhan yang mendesak termasuk deterjen.

“Garam habis,” jawab istrinya.

“Bagaimana bisa petani garam kehabisan garam?” tanya suaminya dengan gemas.

“Tunggu, mungkin masih ada sedikit di kolong rumah,” ujar istrinya lalu bergegas ke kolong rumah.

Begitu menyentuh tangga rumah, air berwarna kopi susu pekat kesukaan orang kota datang menyapu apa saja di depannya.

Perempuan itu berteriak kaget, suaminya berlari ke arah tangga. Sunyi. Hanya suara air menderu-deru.

KLIK INI:  7 Novel Indonesia yang Memakai Metafora Alam sebagai Judul

Kindang, Januari 2023