Cerita Elang Alap Jepang yang Lepas dari Jeratan Maut

Klikhijau.com – Jika kau bertanya, hari apa yang tak akan pernah bisa kulupakan. Tanpa ragu akan kujawab hari Senin. Jika pertanyaannmu lebih detail, misalnya tanggal berapa dan jam berapa. Aku bisa m...

Cerita Elang Alap Jepang yang Lepas dari Jeratan Maut
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Klikhijau.com – Jika kau bertanya, hari apa yang tak akan pernah bisa kulupakan. Tanpa ragu akan kujawab hari Senin. Jika pertanyaannmu lebih detail, misalnya tanggal berapa dan jam berapa. Aku bisa menjawabnya dengan enteng. Sekali tarikan napas  saja.

Aku sangat yakin bisa menjawabnya. Cepat dan lancar. Sebab hari itu aku lepas dari kurungan ja’ba (kandang) atau barangkali lebih tepatnya, lepas dari jeratan maut. Hari itu, Senin, 9 Maret 2026, jam 2 siang lewat 43 menit.

Sebelum kulanjutkan kisah paling menggetarkan dalam hidupku itu. Aku ingin memperkenalkan diri dulu. Namaku Elang Alap Jepang. Namun di Desa Kindang, Bulukumba yang menjadi tempat tinggalku. Namaku adalah Sikko. Ada pula yang memanggilku Sento’.

Mungkin aku adalah burung yang paling dibenci oleh mereka yang memiliki anak ayam. Aku bisa memangsa anak ayam dengan sangat cepat. Itulah sebabnya aku dinamai Sento’.

[irp]

Sento’ dalam bahasa Konjo bisa diartikan mengambil sambil berlari, berjalan atau terbang dengan sangat cepat. Nyaris tak terlihat. Dan itulah yang kulakukan ketika mengambil anak ayam dari induknya.

Aku  memiliki nama ilmiah yang cukup keren, Tachyspiza gularis. Aku ada pemangsa. Bukan hanya anak ayam, tetapi juga beburung. Khususnya yang ukurannya lebih kecil dari tubuhku.

Ukuran tubuhku cukup imut untuk ukuran elang. Hanya  sekitar 29 sampai 34 cm saja. Itu mulai dari ujung paruh sampai ujung ekor. Sementara berat tubuhku sekitar 85 sampai 142 gram. Ukuran kami berbeda antara jantan dan betina. Betina hanya sekitar 111 sampai 193 gram. Rentangku sayap sekitar 51 samapi 63 cm.

[irp]

[caption id="attachment_35518" align="aligncenter" width="650"] Burung elang alap Jepang -foto/Ist[/caption]

Awal kisah menggetarkan itu

Siang di hari Senin itu, aku sedang dilanda lapar. Sementara pasanganku sedang mengerami telur di rumah kami (sarang). Ia tak bisa ke mana-mana. Tak tega meninggal “calon” anak kami. Ia memfokuskan diri membuat telurnya menetas sempurna. Demi kelanjutan generasi kami.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2