3 dari Desa Terbersih di Dunia Ada di Indonesia, Penasaran? Klik Ini!

Publish by -49 kali dilihat
Penulis: Kartika Puspitasari
3 dari Desa Terbersih di Dunia Ada di Indonesia, Penasaran? Klik Ini!

[hijau]Di desa, engkau akan menemukan dunia yang sesungguhnya[/hijau]

Klikhijau.com – Masalah kebersihan desa itu memang bukan cuma menjadi tanggung jawab pemerintah saja, tapi setiap orang. Dengan kerjasama dan tanggung jawab yang baik dari masyarakat serta pemerintah, maka desa yang bersih bebas sampah sebenarnya bisa tercipta.

Seperti satu desa yang ada di Indonesia ini. Bukan hanya keindahan pantainya yang bisa dinikmati saat berkunjung ke Bali.

Jika ada waktu cukup, cobalah datang dan menginap di Penglipuran. Nikmatilah udara segarnya di ketinggian 700 meter di atas permukaan laut.

Desa ini terletak di jalur wisata Kintamani, sekitar 5 kilometer dari Kota Bangli, dan 45 kilometer dari Kota Denpasar.

Damai dan bersih, itulah kesan pertama ketika menginjakkan kaki di Penglipuran. Bahkan, saking bersihnya, pengunjung tidak diperkenankan memarkir kendaraan di dalam area desa.

KLIK INI:  Memukau, Jepretan Kece Fotografer Ini Tunjukkan Eksotika Gugusan Karst Maros-Pangkep

Desa Penglipuran yang berada di Kecamatan Bangli ini pernah meraih predikat sebagai desa terbersih ketiga di dunia dan mendapat penghargaan Kalpataru.

Pesona desa Penglipuran

Desa ini resmi menjadi tempat wisata sejak tahun 1993. Penglipuran ini juga terkenal karena menampilkan budaya Bali dengan berbagai bangunan, kerajinan dan makanan tradisional.

Tempat ini memiliki luas 112 hektar. Terdiri dari area rumah penduduk, ladang dan hutan bambu. Tempat wisata ini masih sangat menjaga kehidupan tradisional.

Kawasan yang luas ini terbagi menjadi pemukiman seluas 9 hektare yang dikavling menjadi 76 pekarangan dengan 240 kepala keluarga.

Desa yang menjadi tempat bagi sekitar 1.000 orang ini dikelilingi hutan bambu seluas 45 hektare. Berfungsi sebagai kawasan resapan.

Sementara 55 hektare lahan berfungsi sebagai tegalan atau ladang garapan. Sisanya seluas 3 hektar menjadi kawasan fasilitas umum.

Dikutip dari Liputan6.com, I Wayan Supat yang dikenal sebagai Ketua Adat Desa Penglipuran menjelaskan bahwa sebagian besar kawasan Desa Penglipuran merupakan hutan bambu. Hutan ini sudah dilestarikan dari para tetua adat sebelumnya.

Hutan bambu merupakan konsep orang adat yang peduli terhadap pelestarian lingkungan.

Rumah-rumah bergaya Bali berderet rapi di kanan dan kiri jalan. Sementara jalanan di bagian tengah terbuat dari bebatuan, pohon dan bunga juga menghiasi tepian jalan membuat suasana desa ini terlihat menarik.

KLIK INI:  Potongan Surga di Pulau Tegal Mas Lampung

Di bagian depan rumah juga nampak penjor (bambu melengkung panjang yang dihiasi dengan janur). Dipasang bersama bendera merah putih.

Budaya bersih

Kebersihan terjaga karena di setiap sudut terdapat tempat sampah dan ada larangan membuang sampah sembarangan yang dipatuhi.

Kendaraan bermotor juga tidak nampak sehingga udara terasa nyaman dan bebas polusi. Untuk memasuki desa wisata Penglipuran, pengunjung dikenakan biaya Rp 15.000 per orang.

Dari pintu masuk, kita bisa berjalan ke arah kiri terlebih dahulu dan menyusuri jalan dengan rumah-rumah khas.

Hampir di setiap rumah pemiliknya akan menawarkan kerajinan tangan ataupun makanan dan minuman yang dijual kepada pengunjung. Di arah berlawanan selain rumah penduduk juga terdapat Pura Penataran yang cukup besar.

Jika pengunjung berjalan terus, di belakang pura terdapat hutan bambu yang cukup luas dan menyejukkan.

Di Desa Penglipuran juga terdapat peraturan yang harus dipatuhi antara lain, setiap pengunjung wajib membeli tiket, pengunjung wajib menjaga kebersihan dan membuang sampah pada tempatnya.

Pengunjung wajib menjaga barang bawaannya, pengunjung wajib memarkir kendaraan di tempat yang telah ditentukan.

Setiap pengunjung yang akan memasuki tempat suci/pura diwajibkan memakai pakaian adat dan didampingi pemandu.

Setiap pengunjung yang akan menerbangkan drone wajib melapor untuk memperoleh surat ijin serta pengunjung yang ingin menginap harap melapor kepada petugas.

KLIK INI:  Mengagumi Mahakarya Manusia Prasejarah di Leang-Leang
Filosofi Trihitaka dan larangan poligami

Di Desa Penglipuran dikenal istilah Trihitaka. Tri artinya tiga, hita bermakna harmoni atau seimbang, karena itu sumber penyebab. Jadi tiga yang menyebabkan keharmonisan. Apa saja itu?

Pertama Parahyangan, yaitu hubungan harmonis manusia dengan Tuhannya. Kedua pawongan, hubungan harmonis dengan sesama manusia, dan pelamahan hubungan harmonis dengan alam.

Hutan bambu inilah yang merupakan refleksi dari palemahan. Yang menarik, Penglipuran punya beberapa aturan adat dan hukumannya yang sampai saat ini masih diterapkan.

Aalah satunya adalah Karangmemadu, yaitu larangan poligami bagi penduduk desa. Jika ada yang melanggar akan dihukum dengan cara dikucilkan dan dibuatkan rumah sendiri di kawasangan Karangmemadu.

Tak hanya itu, hukuman bagi warga yang poligami juga akan berlaku bagi anak-anak dan keturunan selanjutnya. Bahkan hukuman yang terberat adalah pelaku tidak boleh masuk ke tempat ibadah, atau bahkan bisa diusir dari desa.

Dengan falsafah kalapatra yang diyakini, warga Desa Penglipuran bebas menikmati budaya lain sejauh tidak mencemari kebudayaan dan adat istiadat sendiri.

Tak heran jika banyak orang menaruh perhatian yang lebih pada keberadaan desa wisata yang satu ini.

KLIK INI:  Taman Hutan Raya Nipa-Nipa Kendari dan Potensi Istimewa di Baliknya
Editor: Anis Kurniawan
Sumber: Beberapa sumber

KLIK Pilihan!