Menjaring Eksotisme dan Kesegaran di Puncak Lurayya Jam 8 Pagi

oleh -44 kali dilihat
Menjaring Eksotisme dan Kesegaran di Puncak Lurayya Jam 8 Pagi
Puncak Lurayya jam 8 pagi-Foto/Ist
Irhyl R Makkatutu

Klikhijau.com – Ransel hitam berisi buku dan laptop telah siap. Motor pun telah dikeluarkan dari rumah dan telah dibunyikan.

Namun, tumbler tertinggal di ruang tamu.  Saya kembali masuk ke rumah, mengambilnya lalu kembali berniat naik ke motor yang akan membawa ke tandabaca.

Sebelum naik ke motor, saya menelepon ibu yang sedang berada di Desa Kahayya, Kecamatan Kindang.

Ibu ke Kahayya bersama ayah menengok kebun. Jika dulu ke Kahayya hanya bisa dicapai dengan berjalan kaki,  saat ini kendaraan telah berlalu lalang, baik motor maupun mobil.  Pun desa yang dinahkodai Abdul Rahman itu telah menjelma menjadi salah satu destinasi wisata di Kabupaten Bulukumba, bahkan masuk sebagai kawasan wisata.

KLIK INI:  Begini Suasana Bantimurung di Malam Hari Setelah Resmi Dibuka 24 Jam!

Penunjukan Kahayya sebagai kawasan wisata memang tak keliru dan sangat tepat. Karena di desa sebelah barat Bulukumba itu dikaruniai pemandangan alam yang eksotik dan hasil tani yang meruah, salah satunya adalah kopi.

Kopi yang terkenal dari daerah berhawa dingin ini adalah Kopi Kahayya yang telah tembus hingga ke mancanegara.

Kahayya saat ini masih bersolek, membuka keran-keran tempat wisata yang memiliki pemandangan menakjubkan,  sehingga nantinya tak hanya mengandalkan Donggia saja sebagai tujuan pengunjung.

Desa Kahayya tak akan kering dari kantong-kantong yang bisa dijadikan tempat menghabiskan waktu. Banyak tempat yang bisa disulap menjadi destinasi wisata ala Malino, Gowa.

Masyarakat mulai bergerak

Apalagi masyarakat sudah ada yang mulai bergerak, menyulap sendiri lahannya sebagai tujuan kunjungan jika ke Kahayya.

“Saya garap sendiri ini, kalau ada dana kami kerja-kerja lagi,  sedikit demi sedikit,” ungkap Puang Appi yang berinisiatif membuka lahannya sebagai tempat yang sayang jika tak dikunjungi pengunjung yang ke Kahayya.

Lahan atau tanah puang Appi memang memiliki pemandangan memesona. Berada di atas puncak Danau Kahayya atau Lurayya. Lokasinya itu di kepung gunung dari empat mata arah, sehingga ke mana pun mata memandang, pengunjung akan dimanjakan pemandangan gunung yang hijau segar.

KLIK INI:  Di Tebing Cafe Majene, Ada Pesona Matahari Terbit yang Memikat Hati

Nama lahan yang disulap Puang Appi sebagai destinasi wisata itu adalah Puncak Lurayya yang di bawahnya mengalir sungai Balantieng yang berair jernih.

“Sudah ada sedikit yang didapat, biasa ada pengunjung ada yang membayar jika datang, namun ada juga yang tidak. Itu tak masalah bagi kami,” tambahnya.

Puncak Lurayya memang masih sepi pengunjung. Di gerbang masuknya tertera tarif yang harus dibayar pengunjung, untuk orang dewasa lima ribu rupiah, anak-anak, dua ribu rupiah dan tenda 10 ribu rupiah.

Tarif masuk itu ditulis di papan besi yang ditancapkan di sebelah kiri gerbang yang terbuat dari bambu betung  yang catnya telah memudar.

Dua akses menuju puncak

Ada dua akses jalan menuju Puncak Lurayya, pertama di depan kantor Desa Kahayya, melewati jalan ini, motor bisa sampai ke area Puncak Lurayyah, meski jalannya belum terlalu bagus.

“Jika tidak  hujan, motor—termasuk metic bisa mencapai tempat ini dengan mudah, apabila lewat depan kantor desa,” terang Puang Appi.

KLIK INI:  Tunda Dulu Berwisata ke Sinjai, Penutupan Obyek Wisata Diperpanjang

Jalan ke Puncak Lurayya memang telah dibuka, jalan itu tembus hingga ke Lurayya dan terus ke Dusun Tabbuakang.

Melewati jalan ini, jika hanya sampai di Puncak Lurayya, pengunjung akan kehilangan kesempatan menikmati Danau Kahayya atau Lurayya dari ketinggian. Dan itu sangat disayangkan, sebab menatap Lurayya dari ketinggian sangat menakjubkan.

Akses jalan kedua adalah melewati jalur Lurayya, lewat jalur ini pengunjung juga bisa menggunakan motor, sebenarnya.  Hanya saja motor akan “tersiksa” baru bisa sampai. Cara terbaik adalah dengan berjalan kaki. Jalannya sedikit mendaki.

Rasa lelah akan menyergap, namun pemandangan Lurayya dari atas akan merampas rasa lelah.

Danau Kahayya atau Lurayya-Foto/Ist

Bagi pengunjung yang ingin menikmati kesegaran pagi dan memanen vitamin D untuk tubuh, sebaiknya mengunjungi Puncak Lurayya di pagi hari. Saat cuasa sedang terang.

Suasana di Puncak Lurayya yang sepi dengan embusan angin pengunungan yang sepoi. Akan membuat pengunjung leluasa menikmati pemandangan dan menghirup udara segar sepuas-puasnya.

Vitamin D merupakan suplemen yang berfungsi mencegah dan mengatasi kekurangan vitamin D. Vitamin ini adalah vitamin larut lemak yang sangat diperlukan dalam membantu penyerapan kalsium dan fosfor di dalam tubuh manusia.

KLIK INI:  Menyoal Perbedaan Halal Tourism, Muslim Friendly Tourism, dan Family Friendly Tourism

Ada dua jenis utama vitamin  D, yaitu vitamin D2 atau ergocalciferol dan vitamin D3 atau cholecalciferol. Vitamin D2 secara alami dapat ditemukan di beberapa jenis jamur, sedangkan vitamin D3 dapat dijumpai pada kuning telur, keju, dan  hati sapi, kuning telur.

Nah, vitamin D ini bisa terbentuk di dalam tubuh jika ada bantuan oleh paparan sinar matahari. Jadi, bukan sinar mataharinya sebagai sumber vitamin D, sinar matahari hanya pemicu agar vitamin D dalam tubuh bisa aktif.

Jadi, jika ingin mengaktifkan vitamin D di dalam tubuh sambil menikmati pemandangan yang indah dan hijau segar, Puncak Lurayya bisa jadi salah satu tempat yang layak dikunjungi.

KLIK INI:  Wisata Halal Tak Akan Rusak Tatanan dan Kearifan Lokal?
Bisa di malam hari

Jika ingin menikmati malam dengan rasa khas pegunungan, pengunjung juga boleh mencobanya dengan camp, dan di pagi hari, jika cuaca baik, pengunjung akan terpesona dengan sunrise yang di antara matahari dari celah gunung yang mengepung Puncak Lurayya.

Namun, barangkali kunjungan terbaik ke puncak lurayya adalah saat jagung Puang Appi memasuki masa panen, pengunjung bisa menggelar acara bakar jagung yang dipanen sendiri.

“Kalau hanya lima hingga sepuluh biji, pengunjung tak perlu beli. Kita harus banyak berbagi, bersyukur jika banyak yang menikmatinya,” ujar Puang Appi, yang pagi di hari Senin, 26 September 2022 sedang membersihkan kebunnya di Puncak Lurayya untuk ditanami jagung.

Pagi di mana saya berkunjung secara tak sengaja, sebab Ibu dan Ayah yang akan saya jemput belum datang di titik kami janjian, di kebun sekitaran Lurayya.

KLIK INI:  Pra WCD, Sebuah Upaya Merawat Tradisi Gotong Royong di Bulukumba