Kahayya (kisah dalam kisah)

oleh -22 kali dilihat
Apakah Hak Perempuan untuk Dapatkan Energi Bersih Sudah Terpenuhi
Ilustrasi - Foto/Pixabay

Berjalanlah ke arah tidurnya matahari! Ikuti jalan yang baru diaspal itu. Di sepanjang jalan tak ada rumah. Sepi akan menyergap. Hanya kebun kopi warga yang menggoda mata.

Di ujung jalan beraspal itu ada sungai A’dungang. Dulu sungai tersebut hanya menggunakan jembatan bambu yang dianyam warga dengan gotong royong.

Waktu masih jembatan bambu itu, pernah ada seorang pemuda yang  jatuh bersama kudanya. Untung pemuda itu tak jatuh terseret ke dalam sungai, hanya kudanya saja, si Balanga. Pemuda tersebut meraung karena tidak tega berpisah dengan kuda kesayangannya.

Setelah melewati sungai. Akan ada dua hingga tiga rumah panggung warga yang menyambut selepas tanjakan. Berjalanlah terus. Lelah akan hilang dengan gurauan pemandangan yang hijau. Senyum ramah para petani akan jadi alasan untuk lebih menikmati perjalanan. Dan, perjalanan akan terus disuguhi pemandangan yang tak akan ditemui di tempat mana pun. Indah menakjubkan.

KLIK INI:  Hujan yang Berhenti di Bibirmu

Jangan berhenti, teruslah berjalan ke arah tidurnya matahari! Jika kau datang dua puluh tahun lalu, kau akan temukan sebuah danau dan dua batang pohon beringin seperti pengantin yang sedang bersanding. Di celah akarnya mengalir air yang jernih. Ada belut jinak yang akan makan di telapak tangan para pengunjung.

Belut tersebut doyan makan telur rebus. Juga akan ditemukan beraneka ragam ikatan di batang pohon beringin tersebut. Itu ikatan janji yang mistik, sebuah mitos.

Tak jauh dari pohon beringin itu, terhampar sebuah danau yang disesaki lumut-lumut, tampak masih perawan. Dinas Pariwisata Bulukumba tak pernah menemukannya untuk dijadikan ikon wisata.

“Bagaimana, sudah jelas aku mendeskripsikan perihal kampung di arah tidurnya matahari itu? Namanya Kahayya. Sebuah desa yang baru lahir. Sebuah kampung yang dikadoi keindahan alam yang memesona. Sebuah tanah yang diabaikan.

Lelaki itu tak mengeluarkan sepatah kata pun ketika kuulurkan tanya tersebut. Ia hanya mengangguk. Matanya berkabut. Sayu. Luka terlihat nyata di matanya.

“Bermalamlah di sini. Besok pagi kamu ke kampung itu,” saranku sambil menyedorkan sarung. Jika malam tiba hawa di kampungku, bersebelahan dengan kampung Kahayya, akan dingin mencekam. Selembar sarung tak akan cukup menghalau gigil setubuhi badan. Harus ditambah dengan selimut. Kuseduhkan lelaki tersebut kopi pahit yang disangrai sendiri oleh istriku. Aku ingin mengajak lelaki tersebut begadang. Ingin kucuri kisahnya.

Ia meminum kopinya dengan sangat lembut. Ia pasti lelaki kota yang banyak menghabiskan waktunya di warung kopi.

KLIK INI:  Warani

“Kopi adalah penanda kenangan,” katanya sedikit berbisik. “Aku temukan kisahku pada segelas kopi, pada suatu hari yang gerimis di bulan April,” katanya lagi. Pandangannya masih setia pada kopi tersebut seolah ia larut pada wangi kopi yang membumbung terbawa angin malam.

“Kisahku juga kutemukan dalam kopi,” ujarku. Matanya berbinar. “Desa Kahayya itu adalah kampung kopi. Nama Kahayya, kaha artinya kopi. Kahayya bisa diartikan kopi kita,”  ujarku, mencoba membuat lelaki yang tak kutahu namanya itu tertarik.

Perbincangan kami berlanjut hingga tengah malam. Ia menceritakan kisahnya, aku menceritakan kisahku.

Kisahnya hampir sama dengan kisahku. Kisah cinta dan kopi. Kuceritakan padanya, istriku adalah sebuah pelarian dari kegagalan cinta. Aku bertemu dengannya di Desa Kahayya ketika luka cinta menyerangku bertubi-tubi. Aku bermaksud bertetirah dengan menikmati danau Kahayya. Waktu itu aku berpapasan dengan Hardiana ketika ia baru pulang dari kebun memetik kopi. Kuacuhkan senyum ramahnya.

Kisah lelaki itu juga ditinggalkan oleh perempuan yang dicintainya. Ia ingin tetirah. Langkahnya menuju kampungku. Tak kutahu jelas darimana ia mendapat informasi itu. Ia ingin menikmati Danau Kahayya yang perawan. Ia ditinggalkan oleh kekasihnya yang telah lima tahun diharapkan.

Anri’ adalah perempuan di antara perempuan yang paling diharapkannya. Perempuan Bugis itu telah melumut dalam hatinya. Bahkan ia menanti hingga bertahun.

Di sebuah gerimis di bulan April mereka kembali bertemu di Kota Daeng. Keduanya mengakui perasaan saling tertarik. Lalu menjalin hubungan. Bunga-bunga bermekaran di antara tandusnya Makassar, ricik sungai Je’neberang bernyanyi riang. Namun sebulan kemudian ketika lelaki itu ke kota perempuan tersebut untuk menikmati kopi bersama, sebuah kenyataan tersaji mengiris hati, Anri’  telah menikah dan cerai dengan suaminya. Airmata lelaki itu berlinang ketika menceritakan kisahnya. Dan aku melihat diriku di matanya.

KLIK INI:  Sebatang Pohon Janji
*****

Esoknya, lelaki tersebut bangun dengan mata lebih sembap. Aku siapkan kopi dan sepiring pisang goreng. Istriku sejak subuh telah ke pasar.

“Aku ingin ke Danau Kahayya itu, sekarang,” katanya sambil menaikkan ransel ke punggungnya. Langkahnya tertati. Barangkali ia kurang tidur semalam.

“Tungguh, aku akan menemanimu,” kataku sambil mengambil peralatan yang telah disiapkan istriku sejak semalam.

“Kamu mau ikut, kenapa?” Tanyanya curiga.

“Aku ingin berbagi kisah denganmu,” kataku memberikan alasan.

Kami bergegas menuruni tangga lalu melangkah menuju danau. Sepanjang perjalanan, lelaki tersebut lebih banyak diam. Pemandangan yang memesona seperti tak banyak membuatnya tertarik. Aku ingat dulu juga begitu, ketika ke danau tersebut seorang diri untuk menenangkan diri dari luka cinta.  Percayalah para perempuan, lelaki juga remuk jika ditinggalkan perempuan yang dicintainya, aku mendesah dalam hati sambil melanjutkan perjalanan.

Lelaki itu terengah ketika kami melewati jalan yang menanjak dan licin. Rasa lelah tergambar dan terbaca di wajahnya. Seorang perempuan dari arah berlawanan lengkap dengan bakul dan karung tersenyum ke arahnya. Lelaki tersebut mengacuhkannya. Perempuan itu tersenyum padaku. Aku membalasnya. Lalu ia pun melangkah meninggalkan kami. Kisahku dengan Hardiana seperti terulang.

“Konon, danau itu adalah danau penantian,” ujarku. Sengaja tak kuselesaikan. Aku menunggu respon lelaki tersebut.

“Maksudnya?” Ia bertanya.

KLIK INI:  Pamata

“Dulu, ada sebuah keluarga. Mereka memiliki seorang gadis. Suatu malam, gadis itu bermimpi bertemu seorang pemuda. Sejak mimpi itu. Ia senang menghabiskan waktunya disebuah tanah lapang, tempat danau sekarang. Gadis tersebut sabang hari hanya duduk sendiri sambil bermain tanah. Lama-lama tanah tersebut membentuk lubang. Ibunya khawatir, lamaran pemuda kampung ditolak. Gadis tersebut hanya menunggu pemuda yang bertandang dalam mimpinya, pada sebuaah malam dihiasi bulan separuh.”

Lelaki itu berhenti, lalu menoleh kearahku. Ia terlihat penasaran dengan ceritaku. Cerita itu pernah diceritakan seorang lelaki ketika aku diamuk luka cinta. Kuperagakan mimik wajahku seserius mungkin untuk memancing rasa ingin tahunya.

“Lalu?” Tanyanya penasaran.

“Gadis tersebut sering menangis di akhir senja, ketika menyadari penantiannya hari itu sia-sia. Airmatanya yang tumpah tertuang di lubang yang digali. Ia terus menanti dan terus menangis diakhir senja, hingga airmatanya meruah dan perempuan itu menghilang. Tak ada yang tahu ia ke mana, tapi sepeninggalnya danau itu terbentuk.

“Jadi danau itu terbentuk dari air mata penantian?” Tanya lelaki tersebut.

“Kira-kira begitulah,” jawabku kalem

“Kalau pohon beringin itu?”

“Tak ada yang tahu pasti, tapi konon kedua orang tua  gadis itulah yang menanamnya, seperti pengantin yang sedang bersanding. Untuk menghibur anak perempuan semata wayangnya yang telah dihinggapi kegilaan cinta.

“Ooo begitu, akan kunanti  Anri’ di danau itu hingga senja lupa berkunjung.”

Lelaki tersebut menceritakan kisahnya dan aku menceritakan kisahku. Kisahku dan kisahnya hampir sama. Setelah ia tahu, Anri’ telah menikah.  Ia merasa ditipu. Tapi cinta yang telah bertunas lama mengalahkan kebenciannya. Ia menerima Anri’ dan segala masa lalunya.

“Tak pernah ada yang bisa menolak masa lalu seseorang,” ujarnya. Aku sepakat dengannya. Lelaki itu mencintai Anri’ dengan segala cinta yang ia punya. Baginya siapa dan bagaimanapun Anri’ ia tetaplah perempuan yang paling dinanti di antara perempuan. Telah lama Anri’ tertanam dalam luka karena kegagalan rumah tangganya. Ia ingin kadokan kebahagian kepada perempuan itu.

KLIK INI:  Yang Tak Pernah Khianat
*****

Setelah menempuh perjalanan satu jam lebih, kami tiba di jalan setapak di kebun kopi, kami kemudian belok kanan. Jalan setapak tersebut menuju Danau Kahayya yang dilengkapi ornamen alam yang ditata sedemikian rupa indahnya.

Lelaki tersebut kegeringan setelah kami sampai. Ia mengeluarkan foto Anri’. Aku melihatnya sekilas. Dan sepertinya aku mengenal perempuan itu. Tapi aku tak bertanya. Lelaki tersebut menciumnya dengan khidmat.

“Anri, aku akan tetap jadi lelaki yang mencintaimu. Danau Kahayya akan jadi saksi, aku akan kembali menantimu hingga kematian menjemput di danau ini,” ujarnya tulus

Aku merinding mendengar janji lelaki tersebut. Ia kemudian berlari menerobos semak ke arah pohon beringin yang terletak di sebelah barat danau. Napasnya tinggal sepenggal ketika ia sampai. Aku terengah-engah mengikutinya. Ia mengikatkan tali ravia di pohon beringin itu. Mulutnya komat-kamit seperti melafaskan sebuah janji, bukan hanya satu ikatan tapi tujuh ikatan, itu menandakan tujuh bulan ia memaduh kasih dengan Anri’ sebelum Anri’ memutuskan untuk meninggalkannya. Tujuh ikatan itu pula  menandakan tujuh tahun ia mengenal dan memelihara cintanya kepada Anri’ sejak mereka bertemu di sebuah kota di Jawa

Ia membasuh wajahnya dengan air yang mengalir di celah akar beringin itu. Di saat yang bersamaan gerimis turun. Ia kemudian berjalan gontai menuju danau, lalu berendam di danau tersebut. Aku melihat diriku di dalam dirinya. Apa yang dilakukan lelaki itu pernah kulakukan dulu.

KLIK INI:  Lipa' Sa'be
******

Kini, aku sendirian di danau ini. Aku  ingat lelaki yang datang ke rumahku menceritakan kisah cintanya yang ia temukan di bulan April. Senja mulai turun dan gerimis pun jadi tamu sempurnakan sepi. Danau Kahayya atau Danau Penantian dirundungi sunyi. Aku duduk di atas sebatang pohon tumbang yang menjulur ke danau. Burung-burung berlompatan di antara dedahan kopi mencari tempat untuk tidur. Dulu lelaki itu duduk di jembatan bambu yang dibuat warga untuk memancing. Aku memperhatikannya kala itu.

Kisah lelaki itu seperti kisahku. Aku menemukan diriku di dalam dirinya. Aku mencintai perempuan seperti dirinya. Dan perempuan itu meninggalkanku dengan cara yang mengiris. Saat itu aku ingin menangis hingga lupa bagaimana caranya berhenti. Tapi tidak kulakukan. Aku terus saja berjalan ke arah tidurnya matahari. Hingga aku sampai ke sebuah rumah panggung seorang lelaki yang katanya kisahnya juga mirip dengan kisahku. Ia mengantarku ke danau ini, memperhatikanku mengikat tujuh ikatan di batang pohon beringin itu.

Ketika aku mengantar lelaki itu ke danau ini. Aku keluarkan kopi yang disiapkan istriku. Aku memanggilnya minum kopi. Ia mendekat dan duduk di di depanku. Aku menatapnya. Ia berubah jadi aku. Aku berubah jadi lelaki itu. Lalu dari jauh lelaki yang dulu kutemui di rumah panggungnya, yang katanya kisahnya mirip dengan kisahku kulihat mendekat. Kedua lelaki itu berubah jadi aku.

KLIK INI:  Tangisan Selembar Daun
*****

Teruslah berjalan ke arah tidurnya matahari. Ikuti jalan yang baru diaspal. Di sepanjang jalan tak ada rumah. Hanya kebun kopi warga yang menggoda perhatian. Di ujung jalan beraspal ada sungai A’dungang. Teruslah berjalan hingga kau menemukan sebuah danau.

Dulu, tak jauh dari danau itu ada dua batang pohon beringin yang bersanding, di celah akarnya mengalir air yang jernih. Ada belut jinak yang biasa makan di telapak tangan pengunjung.

Tapi sayang, pohon beringin itu tumbang dihantam angin dan belut jinak tersebut tinggal cerita.  Aku pernah mengikat tujuh ikatan di pohon beringin tersebut. Carilah tujuh ikatan itu, lalu buka! Itu kisahku bersama Anri’, perempuan yang paling kunanti di antara para  perempuan.

Rumah kekasih, 27/ 10/2013,

Jelang senja.

Dari buku kumcer: Lelaki Gerimis

KLIK INI:  Sumpah, Ini Hanya Cerpen Sampah