Mengenal Kawasan Konservasi Taman Nasional Kutai Kaltim

oleh -51 kali dilihat
Mengenal Kawasan Konservasi, Taman Nasional Kutai Kaltim
Taman Nasional Kutai - Foto: Celebes.co
Yahya Yabo
Latest posts by Yahya Yabo (see all)

Klikhijau.com – Taman Nasional Kutai (TNK) Kalimantan Timur masuk dalam kawasan konservasi hutan. TNK sendiri ada dalam tiga wilayah yakni Kota Bontang, Kabupaten Kutai Timur, dan Kabupaten Kutai Kartanegara.

Dari data balai Kantor Taman Nasional Kutai, luasan kawasan TNK seluas 192.709,55 hektar. Dalam perjalanannya, Kawasan Taman Nasional Kutai yang telah di SK kan dengan nomor SK 4194/ Menhut VII/ KUH/ 2014, pada tahun 2014 ini, ada kawasan yang menjadi kawasan area penggunaan lain (APL).

Sedangkan dalam luasan TNK yang saat ini sebagai bagian konservasi, ada luasan yang menjadi wilayah Open Area (areal yang masih ada gangguan dari aktivitas yang tidak seharusnya).

“Ada sebanyak 29.749,62 hektar Open Area. Ini yang menjadi masih ada aktifitas gangguan di TNK,” kata Djumadi, fungsional Pengendali Ekosistem Hutan (PEH), saat ditemui Senin (8/8/2022).

Dalam perjalanannya, TNK berubah luas wilayahnya yang dimulai pada 1957 dengan luasan 200.000 hektar, pada tahun 1995 dengan luas 198.629 hektar hingga pada 2014 ditetapkan menjadi Taman Nasional Kutai dengan luasan 192.709,55 hektar sesuai dengan keputusan menteri kehutanan RI tanggal 10 Juni 2014.

KLIK INI:  Untuk Kepentingan Strategis Nasional, Status Zona Inti Kawasan Konservasi Bisa Diubah 

Adapun, wilayah area penggunaan lainnya (APL) yang menyusutkan wilayah TNK telah diatur sesuai dengan aturan daerah yang masuk dalam wilayah APL masing-masing.

Dalam hal, Open Area (red) yang dimaksudkan masih ada kegiatan yang dianggap mengganggu area TNK yang seharusnya tidak dilakukan aktifitas.

“Yang disebut Open Area yakni masih ada banyak aktifitas. Sebut saja yang ada tanda di peta yakni areal sumur, areal pemukiman, penguasaan lahan, areal sawah, areal sawit, dan areal tambak,” jelas Djumadi.

Perjalanan penamaan, tambah Djumadi, dari masa ke masa berbeda-beda. Pada tahun 1934 penamaannya yakni Hutan Cadangan Wildreservaat Koetai.

Pada tahun 1936 penetapan Wildreservaat Koetai. Pada tahun 1957 bernama Suaka Marga Satwa Kutai. Dan pada tahun 1995 penunjukan dan perubahan fungsi suaka marga satwa menjadi Taman Nasional Kutai. Hingga pada tahun 2014 penetapan Taman Nasional Kutai dengan luasan 192.709,55 hektar.

KLIK INI:  Mengagumi Mahakarya Manusia Prasejarah di Leang-Leang

Untuk kawasan TNK ini, berbagai macam flora dan fauna yang dimiliki seperti satwa prioritas yakni Orangutan, Bekantan, beruang, hingga Banteng yang hampir punah jenis Bos Javanicus. Adapun jenis tanaman yakni pohon ulin dan pohon meranti yang menjadi tanaman khas TNK.

Djumadi mengatakan ketika sedang melakukan patroli atau pengawasan, sering mendapatkan alat jerat hewan.

“Jika ada menemukan itu, kita musnahkan. Kalau sering ketemu itu pemburu burung, namun kita edukasi,” paparnya.

Pencegahan oleh Polhut

Sementara, dari Polisi Hutan Taman Nasional Kutai rutin melakukan pencegahan dan penanganan dalam pelanggaran dengan melakukan patroli.

Arif Suliyono, Koordinator perlindungan dan keamanan atau Koordinator Polisi Hutan, mengatakan dirinya rutin melaksanakan patroli wilayah di TNK dengan cara preventif, persuasif dan refresif. Pencegahan ini dilakukan untuk menghindari tindak pidana hutan (Tipihut).

KLIK INI:  Saat Cuaca Mendukung, Pesona Gunung Bulusaraung Memang Menggoda Jiwa

Dirinya menjelaskan bahwa dengan melakukan sosialisasi dengan peraturan agar masyarakat paham sesuai dengan aturan yang ada.

“Beberapa Undang-undang kita berikan informasi, seperti UU nomor 18 tahun 2013 tentang pencegahan dan pemberantasan perusakan hutan,” jelas Arif saat ditemui di ruang kerjanya, Senin, (8/8/2022).

Arif juga menjelaskan dalam kaitannya, dengan pencegahan dan pengamanan pada saat patroli memberikan edukasi kepada masyarakat. Adapun ketika Arif mendapatkan pelanggaran masih akan menanyakan apa motifnya dan apakah mengetahui aturan yang ada.

“Dengan melakukan pendekatan teguran pertama, kedua teguran dengan tertulis dengan pencegahan. Kecuali hal-hal yang tidak bisa ditolerir yang masuk dalam ranah hukum,” papar Arif.

Pihaknya juga menggandeng masyarakat dengan membuat pemberdayaan masyarakat dengan membentuk masyarakat mitra Polhut.

“Masyarakat mitra Polhut kita punya 30 orang. Masyarakat yang kita bentuk dan memberikan pelatihan kepada mereka,” pungkasnya.

Adapun pada tahun 2022 tahun ini, telah melakukan pengamanan kepada 1 kasus ilegal loging yang di duga dari kawasan TNK yang telah dilimpahkan kepada Balai Gakkum KLHK wilayah Kalimantan.

Arif mengimbau kepada masyarakat agar menghindari kegiatan yang bersifat ilegal di TNK. Dimana TNK ini memiliki manfaat untuk kelangsungan hidup bagi lingkungan dan masyarakat sekitar.

“Jangan hanya dipandang dari nilai materi, namun lihat bagaimana manfaatnya yang lebih besar bagi kelangsungan hidup terutama bagi masyarakat sekitar. Bagaimana kita sama-sama menjaga kawasan,” tandasnya.

KLIK INI:  Begini Cara Burung di Hutan Kota Berperan Penting terhadap Ekosistem