- 6 Tempat Bersejarah Saat ke Hutan Melalui Jalur Tassika di Bulukumba - 11/12/2023
- Air Hilang dalam Hujan - 09/12/2023
- Kisah Pengalaman Pertama Bertamu ke Hutan - 05/12/2023
Kemarau Ingatan
lampu kamar padam lebih awal semalam.
kantuk tiba bacai semua pikiran.
ruang tamu menanti datangmu bawa bunga-bunga.
“air telah kering di mataku,” katamu
“dirampas kemarau dan sedih,” lanjutmu
semalam kau lupa menagih kecupan
aku biarkan gelap asingkan ingatan.
kita lupa saling mengunjungi.
kau jauh dan ada di mana-mana.
dipikiranku pun kau huruf merangkai dirinya sendiri jadi deburan ombak
dan aku kemarau berkepanjangan dalam ingatanmu
Pohon Ranggas dalam Tubuh
aku menulis ini tepat 17 menit setelah bangun di subuh buta
aku duduk di kursi kayu buatan ayah
kayu yang di tebang di dalam hutan sewaktu muda
merenung aku cukup lama. di luar pekat dan cahaya berkejaran
cericit burung-burung telah lama tiada
sejak hutan-hutan berubah taman bunga
sebenarnya mengisahkan pohon beringin di ujung kampung
pohon mistis yang penuh ikatan tali rafia itu
tempat menitip doa-doa
tapi semalam, angin datang menebangnya dengan paksa
setelah senja lindap itu, kau tak lagi berwajah hujan
kau antar kemarau di ingatan
kau pergi jauh, di mana sungai mengalir tak henti
padahal, aku tahu tak ada sungai di kemarau
aku berdiri mematung, kau melangkah, pohon-pohon dalam tubuhku meranggas
pada tiadamu
kucari sendiri senyum di puntung-puntung rokok di mana saja, bahkan ke dalam kepala
kukumpulkan puntung rokok, merangkai namamu
aku bayangkan matamu yang hijau daun
di seberang jalan, reranting pohon melambai
daunnya bergugur, selembar daunnya jatuh tepat di sisi kananku
aku memungutnya lalu membayang, aku jadi daun
diterbangkan angin menuju gunung
dari gunung, aku ingin ke laut
menangkap ikan teri dan kumpulkan gelas plastik
di mana bekas bibirmu berumah
ingin kuusaikan menulis namamu, tepat di menit ke 25 setelah kumulai
sekarang tersisi lima menit, barangkali
aku malas menghitung waktu
sebenarnya, aku lebih suka menghitung berapa kali kau berkedip dalam semenit
subuh mulai menjauh. burung-burung kehilangan cericit
aku tak usaikan namamu, yang dirangkai dari puntung rokok
puntung rokok itu di terbangkan angin
menuju entah, barangkali pada kepalamu
Memanen Hujan dari Mata
ada pohon tumbang di tepi jalan menuju rumahmu
aku urung bertamu
meski di sakuku, telah kulipat rindu berwarna bunga mawar
aku memilih pulang
memanen hujan dari mataku saat kemarau begini
kubayangkan marahmu tumpah pada segelas kopi
pahitnya akan sampai ke langit
lalu menjadi lumut-lumut yang tak lagi disinggahi hujan.
………gersang yang rapuh…..
aku tetiba saja ingin jadi mikroplastik
menelusup ke dalam air darahmu
jadi denyut, jadi abadi
menyakiti seluruh tubuh dan pikiranmu