Hutan dari Jendela Masa Depan

oleh -76 kali dilihat
Ilustrasi-foo/Unsplash
Nona Reni

Nama Lain dari Puisi

 

Puisi adalah nama lain dari ketidak-berdayaan
Nama lain dari hutan babatan
Ladang ilalang dan juga nama lain dari tetes air di matamu

Puisi adalah nama lain dari tumbuh-tumbuhan
Yang merambati puing-puing kekuasaan
Menghinggapi balkon-balkon jabatan
Tapi tak mempan dipestisida

Puisi nama lain dari dunia
Persabahatan yang dijalin di atas suatu kepentingan semata
Bukan lagi saling memberi mengaitkan akar

2022

KLIK INI:  Mengenang Ajip Rosidi dalam 9 Puisinya yang Bercerita tentang Alam

Hutan dari Jendela Masa Depan

 

Memandang hutan dari jendela masa depan
Adalah kekhawatiran yang terus mengganggu
Seperti lapar yang tak terpenuhi
Yang membawa bibit kebencian
Dan dendam yang siap membakar
Tanaman palawija hingga kerontang

Seperti seorang rohaniawan
Aku menghayati suka duka kehidupan mendatang
Dengan narasi-narasi puisi yang gemulai
Membaca hikmah di balik kekeringan
Ranggaskan semua yang tumbuh
Aku menahan diri untuk tidak bergetar

Mampukah narasi itu menemuimu sebagai oasis panjang
Dimana ia akan membuka cadarnya
Seperti sebuah pertunjukan akrobat
Menjadi filosofis di antara tumpukan hutang yang menggunung

Di antara bumi yang semakin gerah
Semakin gersang
Rampas semua keringat dalam tubuh

Des 2022

KLIK INI:  Pot Nurani

Paru-paru Hidup

 

Hari dimulai dengan harapan
Dengan sesuatu yang membendung kebimbangan
Pikiran jorok yang diluruskan dengan doa

Jangan berpikir tentang kesadaran
Ia telah terkontaminasi oleh hama asap kendaraan dan bau sampah
Tak ada tempat mengais rejeki yang aman
Dari takhayul kesuksesan yang menelurkan kecurangan demi kecurangan

Kengerian menjadi satu jawaban konyol
Kebisingan menyamarkan warna alam yang hijau
Bagaimana bisa manusia bertahan seperti ini?
Sedang kabut kebohongan menggerogoti paru-paru kehidupan

2022

KLIK INI:  Sumpah, Ini Hanya Cerpen Sampah

Hujan Mengirim Hukum-hukum

 

Kemarin dan besok hujan mengirimkan hukum-hukum penguasa
Keteduhan rumah lenyap
Dirampas hiruk-pikuk janji
Yang tak pernah habis dibagi-bagi

Kau sibuk menulis surat-surat berperangkokan air mata
Di dalamnya terbungkam jerit rakyat miskin, terlantar dan susah diatur
Seperti tiang yang keropos digerogoti keputus-asaan
Kesedihan membuat batin ditelikung rasa sesak

Matahari telah lelah menyodorkan kebahagiaan
Semenjak hutan dan gunung menghilang
Kau menghabiskan waktu untuk melamun
Abai saja kau pada perut kembung yang melilit
Maupun pada anak-anakmu yang dihentakkan oleh lapar berkepanjangan

Kemarin dan besok hujan mengirimkan hukum-hukum
Merenggut kesakralanmu sebagai manusia
Udara kian dipenuhi percakapan basa-basi
Mewabah menjadi kupura-puraan
Di antara barisan orang-orang tak berdaya.

2022