Jamaluddin Daeng Abu, Edukasi Petani di Kanreapia Gowa dari Rumah Koran

oleh -24 kali dilihat
Jamaluddin Daeng Abu, Edukasi Petani di Kanreapia Gowa dari Rumah Koran
Jamaluddin Dg Abu, Founder Rumah Koran - Foto/ist

Klikhijau.com – Namanya Jamaluddin Daeng Abu, pria kelahiran Desa Kanreapia Kabupaten Gowa ini mulai terpanggil pulang kampung sejak menyelesaikan studi sarjana di Universitas Bosowa Makassar tahun 2011.

Ini semacam panggilan hati dan kepedulian pada kampung halamannya. Ia berkomitmen untuk mengabdi di desanya, membantu anak-anak dan petani untuk tumbuh lebih maju lagi.

Pria kelahiran 20 Agustus 1988 ini melirik program literasi sebagai pintu masuk dalam berproses di desa Kanreapia. Bukan tanpa alasan, Jamal sapaan akrabnya menilai bahwa salah satu problem masyarakat di desa adalah rendahnya literasi warga. Literasi yang rendah membuat masyarakat tidak punya kans untuk mengembangkan diri dan potensi desa lebih besar lagi.

Ia membayangkan suatu saat warga desa, terutama anak-anaknya mulai melek literasi. Niatan ini tentu tidaklah mudah, sebab sudah ada mental model yang mendarah daging dan tentu tidak mudah diubah segampang membalikan telapak tangan.

“Masyarakat sejak dulu lebih tertarik menjadi Pegawai Negeri atau merantau ke kota mencari pekerjaan ketimbang mengelola potensi desanya. Padahal potensi pertanian di desa sangatlah besar untuk mendukung kesejahteraan masyarakat. Ini soal mindset yang pelan-pelan harus diubah,” katanya.

KLIK INI:  Satu-satunya di Sulsel, Desa Kanreapia Lolos Verifikasi Proklim Lestari

Dari sini, Jamaluddin kemudian terpikir untuk bergerak di bidang literasi. Ia pun terinspirasi untuk memanfaatkan kandang bebek di belakang rumahnya sebagai lokus bergerak. Di rumah koran itu, ia mulai menempelkan koran-koran bekas, dengan harapan anak-anak dan warga sekitar bisa mampir membaca atau setidaknya melihat-lihat gambar.

Jamaluddin sadar betul bahwa gerakan literasi di desa tidak mungkin digenjot dengan aktivitas membaca buku yang berat-berat. Hal itu karena minat baca memang sangat rendah.

“Setiap ke kantor kecamatan, saya melihat ada koran yang dibaca oleh aparat. Setelah dibaca, koran-koran tersebut dibiarkan begitu saja. Saya kemudian berpikir sepertinya menarik untuk menjadikan koran sebagai media untuk menarik minat baca masyarakat,” tuturnya.

Semangatnya adalah warga desa perlu motivasi untuk lebih semangat dan optimis.

“Informasi dan pengetahuan harus masuk ke desa agar warganya bisa lebih maju,” harapnya.

Pada awalnya, rumah koran adalah kandang bebek. Jamal meminta kandang tersebut dari orang tuanya untuk dialihfungsikan sebagai rumah koran.Dari rumah koran inilah anak-anak dan warga ternyata tertarik untuk membaca dan berdiskusi. Jamal pun membuat ragam kegiatan di rumah koran antara lain belajar mengaji, berdiskusi hingga menggelar sekolah alam.

KLIK INI:  Cara Beken Bank Sampah Sipakainga Gowa Menjaga Nasabah di Masa Pandemi

“Target kita ada tiga, pertama anak-anak petani, pemuda tani dan petani tua. Setiap kategori ini punya sentuhan masing-masing dalam memberi edukasi,” ungkap alumni Magister Manajemen Universitas Musim Indonesia ini.

Secara periodik, Jamal pun memperbaharui tempelan koran di rumah koran. Hal ini dilakukan agar selalu ada hal baru yang dibaca masyarakat dan anak-anak.

“Buktinya, anak-anak dan orang-orang tua ternyata tertarik membaca koran yang ditempel di dinding. Apalagi kalau ada gambar-gambarnya. Dari sini saya lebih mudah untuk mengajak mereka memahamkan bahwa informasi itu sangat penting,” tuturnya.

Pemuda yang hobi menulis dan mengajak sarjana dari desanya ini pulang kampung juga bergerak langsung dalam mengedukasi petani. Ia mengajak dan meyakinkan petani untuk lebih produktif dan memanfaatkan sumber daya alam secara bijak.

Ia juga mengajak para petani untuk berderma melalui program berbagi sayur. Walhasil, setiap bulannya, Jamal sukses memediasi derma sayur petani di desanya untuk dibagikan ke ratusan panti asuhan dan keluarga kurang mampu di Makassar dan Sungguminasa.

Aksi berbagi sayur ini telah dijalankan dalam beberapa tahun terakhir. Poinnya adalah bagaimana petani memiliki atensi untuk berbagi kepada sesama.

“Sedekah sampah adalah upaya kami mengajak petani terbiasa berbagi pada yang lain,” katanya.

Berkat aksi dan ide-idenya yang terus berkembang sejumlah penghargaan telah didapatkannya. Antara lain penghargaan sebagai Pemuda Berprestasi 2017 dari Bupati Gowa, Penghargaan Satu Indonesia 2017 dari Astra Internasional, HKTI Innovation Award 2018 oleh HKTI, Penghargaan Kampung Iklim 2020 dari KLHK dan sederet penghargaan lainnya.

Jamal kini juga sibuk menghadiri undangan dari banyak kalangan sebagai motivator dan sebagai duta Petani Milenial Kementerian Pertanian.

Sejak tahun 2014 hingga kini, Jamal telah aktif dalam berbagai kegiatan pemulihan lingkungan antara lain bersih – bersih sungai, pengenalan jenis-jenis tumbuhan di sungai kepada anak-anak petani, menyiapkan lahan penghijauan, menjaga mata air, membuat embung pertanian, penerapan pertanian organik, adaptasi pembuatan bibit oleh petani dan lainnya.

Terus bergerak Bung Jamal, panjang umur perjuangan!

KLIK INI:  Jelang Musim Hujan, Begini Harapan Adnan Kepada Warga Gowa!