3 Peristiwa Alam yang Mengiringi Turunnya Manusia Pertama ke Bumi

oleh -394 kali dilihat
3 Peristiwa Alam yang Mengiringi Turunnya Manusia Pertama di Bumi
Ilustrasi peristiwa alam-foto/Ist

Klikhijau.com – Batara Guru dalam kisah La Galigo. Menjadi manusia pertama yang turun ke Bumi.  Ia merupakan anak pertama dari pasangan Patotoqe dan Datu Palingeq. Patotoqe adalah sang penguasa langit.

Dikisahkan bahwa saat itu Ale Lino (Bumi) sedang kosong melompong—tak berpenghuni. Karenanya muncullah ide untuk menurunkan tunas agar menjadi penghuni dunia tengah  atau Bumi.

Di antara anak-anak Patotoqe, yang terpilih adalah Batara Gurua. Karena ia memiliki perangai yang baik dan bijak.

Diturunkannya Batara Guru juga untuk menegaskan “kedewaan” Patotoqe. Kedewaannya dianggap tak  akan sempurn jika tak ada yang menyembahkan di dunia tengah.

KLIK INI:  Menyadari Ancaman Nyata, Warga Pulau Lae-lae Gelar Parade Perahu Tolak Reklamasi

Sebelum Batara Guru diputuskan akan menjadi penghuni Bumi, terjadi perdebatan. Karena si anak sulung itu telah disiapkan sebagai pewaris tahta langit.

Namun, karena patuh pada orang tuanya, ia harus merelakan warisan itu. Ia meninggalkannya untuk menjadi manusia pertama di bumi.

Ketika diturunkan ke Bumi, Batara Guru mendarat di Tanah Luwu, Sulawesi Selatan. Ia mendarat dengan mengendarai bambu betung yang diikat tali emas.

Pada saat diturunkan setidaknya ada tiga peristiwa alam yang mengiringi pemberangkatannya. Perisitwa alam itu dapat ditemukan pada halaman 51 dalam novel  La Galigo (Turunnya Manusia Pertama) karya Idwar Anwar.

Buku ini diterbitkan oleh penerbit pertama kali oleh Pustaka Saweregading pada tahun 2003. Idwar Anwar merupakan seorang sastrawan yang lahir di tanah Luwu. Ia banyak bersentuhan dengan kisah La Galigo yang merupakan sastra terpanjang dunia mengalahkan Mahabrata.

Inilah 3 peristiwa alam yang mengiringi turunnya manusia pertama di bumi berdasarkan novel yang ditulis Idwar Anwar:

  • Guntur

Ketika akan diturunkan ke Bumi. Batara Guru dimasukkan ke dalam bambu betung. Pada saat itulah guntur datang sebagai pengusungnya.

Guntur biasa juga disebut guruh atau geledek. Penamaan itu untuk  mendeskripsikan gelombang kejut suara yang terjadi.

Terjadinya guntur karena adan akibat  pemanasan dan pemuaian udara yang terjadi sangat cepat ketika dilewati sambaran petir.

Sambaran itulah yang  menyebabkan udara berubah menjadi plasma kemudian langsung meledak. Kejadian itu jadi penyebab munculnya suara yang gemuruh.

Guntur biasanya terjadi bersamaan dengan kilatan petir. Namun, suaranya lebih lambat dari petir. Ia akan terdengar sesaat setelah kilatan petir tiba.

KLIK INI:  Kabar Buruk, Kasus Kehutanan Sulsel Masih Tinggi
  • Angin kencang

Angin kencang menjadi peristiwa alam selanjutnya yang mengiringi turunnya Batara Guru ke Bumi. Bisa jadi angin kencang itulah yang mendorong bambu betung batara guru sehingga meluncur lebih cepat meninggalkan dunia atas (langit)

Peristiwa angin kencang biasanya akan disertai dengan hujan lebat. Hanya dalam novel lagaligo karya idwar anwar, tak disebutkan adanya hujan yang mengiringi turunnya manusia pertama ke bumi.

Angin kencang merupakan angin dibuat oleh area udara yang dingin secara signifikan akibat hujan. Setelah mencapai permukaan tanah, menyebar ke segala arah memproduksi angin kencang.

Angin kencang berbeda dengan  angin tornado, angin dalam suatu angin kencang diarahkan ke arah luar dari titik di mana menyentuh tanah atau air.

Ada dua jenis angin, yakni angin kencang kering. Angin ini dikaitkan dengan badai hujan sangat sedikit. Dan yang kedua, angin kencang basah yang diciptakan oleh badai dengan curah hujan yang tinggi.

  • Kilat

Guntur, angin, dan kilat merupakan perpaduan peristiwa alam yang saling mengisi. Kilat biasa datang bersama dengan guntur.

Kilat biasa juga disebut petir atau halilintar. Ini merupakan gejala alam yang muncul pada musim hujan.

Setelah kilat muncul, kerap akan disusul suara menggelegar yang disebut guntur. Adanya perbedaan waktu kemunculan antara kilat dan guntur karena  adanya perbedaan kecepatan suara dan kecepatan cahaya.

Kilat merupakan gejala alam. Gelaja ini bisa dianalogikan dengan sebuah kondensator raksasa. Kilat terjadi karena adanya perbedaan potensial antara awan dan bumi atau dengan awan lainnya.

Tiga peristiwa di atas menjadi fenomena alam yang terjadi seiring dengan turunnya Batar Guru di Bumi. Ia menjadi kisah yang melegenda dan dianggap sebagai cikal bakal kebudayaan dan sejarah manusia Sulawesi Selatan.

Dalam kisah la lagaligo, Peristiwa seperti petir, angin kencang, dan guntur sangat mudah   ditemukan. Petir atau guntur bahkan dijadikan ajang mainan yang disabung.

KLIK INI:  Pemantau Independen Ungkap Isu Krusial dalam Peredaran Kayu di Indonesia