Kursi Lalu Tanah

oleh -26 kali dilihat
Kursi Lalu Tanah
Ilustrasi kursi-foto/pixabay
Irhyl R Makkatutu

Kursi Lalu Tanah

 

pagi ketuki mata yang mengantuk
gerah rampas lelap semalam
bersama dengung nyamuk di telinga
subuh tiba, lelap pun baru hinggap
paginya, tergesalah aku bangun

gerah kembali tiba di kamar
menggeledah tiap incinya
keluarkan semua keringat di pori
padahal pagi masih belia

gerah mulai temukan kampung kecil kita
di malam hari, di semua waktu
saat matahari bahkan sedang lelap

kita mencurigai satu sebab; pohon
belakangan mulai rajin ditebangi
kini pohon bisa dihitung tanpa kalkulator
dan hujan mulai malas bertamu

siang akan lebih terik
malam gerah dan pagi, sinar matahari lebih cepat sampai ke kamar
mencuri lelap yang didapat jelang subuh

ibu mulai melipat selimut
tak pernah lagi dikeluarkan dari lemari
“selimut tak lagi dibutuhkan,” katanya
dan ayah, tak pernah lagi memakai sarung ketika tidur
hanya memakai celana bola berlogo barcelona saja

pohon-pohon telah berubah lemari, kursi, meja
lalu berubah abu
lalu kembali tanah

tandabaca, 2021

KLIK INI:  Suatu Pagi, Bumi Mati di Sebuah Kota

Penanda Musim

 

aku sedang duduk di balai-balai
di bawah pohon sengon yang telah dipangkas

jarum jam masih menanjak
masih lama hingga magrib

aku tatapi pohon cengkih
tak berbuah
meski musimnya telah tiba
kemarin, seorang khatib berujar
“rasanya mustahil cengkih tak berbuah padahal sudah waktunya,”

ia curiga ada warga tak jujur
aku ingin berujar, karena perubahan iklim
tapi di khotbah jumat jemaah tak boleh berpendapat

musim sekarang seperti anak kecil
susah diprediksi maunya
pedoman orang-orang dulu tak lagi berkhasiat
segala penanda kemarau dan musih hujan berantakan

tandabaca, 2021

KLIK INI:  5 Kisah Fiksi Inspiratif dalam buku “Bukan untuk Dibaca” dengan Metafora Alam

 

Saluran Air Depan Rumahmu

 

di facebook kau bertanya tentang penyedot saluran
yang tersumbah di depan rumahmu
lalu meluap membawa segala jenis sampah
rumahmu berubah pasar—segala jenis barang tersedia

aku bertanya, apa penyebabnya?
banyak sampah, katamu

aku tak jadi menawarkan diri
sampah adalah kita
kita adalah sampah

dan saluran adalah kebencian kita
kita lupa
lupa kita
sampah dari kita
dan untuk kita

sejam setelah postinganmu
dua orang menyukainya
tiga orang memberi komentar “up”

hanya aku yang bertanya

Kindang, 2021

KLIK INI:  5 Puisi Chairil Anwar Bermetafora Alam yang Akan Terus Hidup Seribu Tahun

Senapan Angin

 

sejak kau membeli senapan angin, sayang
aku selalu menanti pulangmu membawa burung
akan kutumis untuk santap malammu
sejak kau membeli senapan angin, sayang
aku merasa sepi menerkam-nerkam
tak ada lagi kicau jarolli terdengar di belakang rumah
……apa kau juga menembaknya….?
tapi kenapa tak membawanya pulang?

sejak senapan angin mulai dimiliki warga, sayang
hama-hama juga mulai menyerang tanaman
apakah kau menyebarkannya?
atau burung-burung pemakan hama itu
kau juga menembaknya?

setiap kau keluar rumah menenteng senapan angin
aku selalu menanti was-was
takut burung yang kau buru
aku masak tak sesuai seleramu
lalu kau tembak pula kepalaku
seperti kau membidik burung

kampung kita, sayang
mulai sepi dari kicau burung
sejak kau membeli senapan angin

apa kau menembak semuanya?

Kindang, 2021

KLIK INI:  Rumah Peradaban

Apa Harus

 

dan hutan telah menipis di mata kita
rumah hanya hijau oleh cat tembok
pohon pindah ke dinding
diantar pelukis

ke mana kita mesti lari dari gerah?
apa harus ke gunung yang telah alpa menumbuhkan pohon?
atau ke kamar mandi yang kehabisan air?

tandabaca, 15 Maret 2021

Tentang Penulis:

I.R Makkatutu lahir di Desa Kindang, Bulukumba, Sulawesi Selatan. Pencetus Ikatan Pemerhati Seni dan Sastra (IPASS) Sulawesi Selatan. Alumni Bahasa dan Sastra Unismuh Makassar . Lelaki Gerimis (2015) dan Tetirah,yang berjalan dari dan kepada cinta (2017) adalah dua kumcer yang telah diterbitkan.

KLIK INI:  Benalu di Senja Hari