Hujan Bersemi, Anggrek Lagaligo pun Bersemai, Sungguh Menakjubkan!

oleh -470 kali dilihat
Hujan Bersemi, Anggrek Lagaligo pun Bersemai, Sungguh Menakjubkan!
Hujan Bersemi, Anggrek Lagaligo pun Bersemai - Foto/Taufiq Ismail
Taufiq Ismail

Klikhijau.com – Anggrek Lagaligo (Eulophia lagaligo) adalah jenis anggrek tanah. Anggrek alam yang mendiami wilayah Wallacea, Sulawesi dan Nusa Tenggara Timur menjadi rumahnya.

Bagi pecinta tetumbuhan liar, nama anggrek ini belum begitu familiar. Apalagi nama jenisnya: lagaligo. La Galigo justru awam bagi mereka menggeluti kebudayaan nusantara. Apalagi mereka yang mencintai sastra lawas.

La Galigo adalah sastra epik dari bumi Sulawesi Selatan. Sebuah karya sastra yang mencengangkan di zamannya.

Boleh jadi nama anggrek yang baru saja ditemukan oleh peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), ini tidaklah tanpa alasan. Memberi nama lagaligo. Menjadi wujud penghargaan karya sastra. Juga tentu saja karena peneliti menemukan sang anggrek di wilayah daratan rendah Sulawesi Selatan.

KLIK INI:  Cekakak sungai, Burung yang Dijuluki Si Pembawa Rezeki
Perjumpaan dengan Anggrek Lagaligo

Anggrek lagaligo mulai memekarkan bunga kala musim hujan bersemi. Menghiasi lantai hutan. Tumbuh subur pada daratan rendah. Mulai dari ketinggian 100 hingga 600 meter di atas permukaan laut.

Saya beruntung bisa menjumpai anggrek menawan ini. Anggrek yang belum lama terpublikasi ke khalayak. Tepatnya November 2019 lalu.

Penemunya adalah Destario Metusala. Peneliti LIPI di Pusat Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya.

Anggrek tanah di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung tidaklah ramai. Tak sebanyak anggrek epifit. Anggrek yang hidup di batang pohon besar. Bantimurung Bulusaraung memiliki sedikitnya 117 jenis anggrek alam yang telah teridentifikasi.

Anggrek mudah kita dapati mulai dari daratan rendah hingga pegunungan.

KLIK INI:  Burung Kuntul Kerbau, Penyeimbang dan Pengendali Hama pada Ekosistem Persawahan

Perbedaan ketinggian juga memengaruhi kehadiran anggrek. Tingginya kelembapan udara menjadi lingkungan yang nyaman bagi anggrek.

Saat berjumpa dengan anggrek berbunga kehijauan ini tidaklah begitu menarik perhatian. Hanya saja karena tumbuh subur di tanah membuat saya mudah mengamatinya.

Karenanya bermodal kamera telepon pintar, saya membidiknya. Membidiknya dari segala arah. Menjadi modal untuk mengidentifikasi jenisnya.

Hingga kemudian rasa penasaran akan jenisnya membuncah. Saya mengontak Irfan Ardi, salah satu petugas Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Petugas Resor Balocci yang intens belajar seluk beluk anggrek. Termasuk mengidentifikasi beragam jenis anggrek Bantimurung Bulusaraung.

KLIK INI:  Memahami Proses Transpirasi dan Fungsinya bagi Tumbuhan

“Ini jenis anggrek apa Ippang?” Tanya saya melalui pesan WhatsApp. Ippang, sapaan akrabnya, memberinya nama: Eulophia spectabilis.

Saya juga berselancar di pencarian daring. Saya melihat akan kemiripan pada bentuk bunganya. Saya kemudian mengunggah gambar sang anggrek di akun Instagram. Menjadi koleksi pribadi saya. Setidaknya gambar sang bunga pujaan menjadi referensi nama jika suatu kala dipertemukan kembali.

Hingga tak berapa lama seorang kawan pecinta tetumbuhan liar dari Gorontalo menyanggah nama sang anggrek. Pesannya singkat: “@mael_sebelas: Eulophia lagaligo.” Melalui akunya: @infenarians, Fandrik Mootalu, mengoreksi nama anggrek unggahan saya. @mael_sebelas adalah nama akun Instagram saya.

Karenanya saya kembali  berselancar ria. Kembali memelototi ciri khas anggrek unggahan. Hingga kemudian saya mendapati beberapa referensi tentang Eulophia lagaligo. Termasuk publikasi resmi dari LIPI.

KLIK INI:  Cymbidium, Anggrek Menawan yang Diincar Pasar Dunia dan Cara Merawatnya

Tak hanya itu, saya juga melakukan konfirmasi kembali ke Ippang. Ia pun mengaminkan perihal koreksi Fandri

“Eulophia spectabilis memiliki kelopak bunga berwarna merah muda lembut. Berbeda dengan E. lagaligo lebih kehijauan,” jelas Fandrik saat saya kontak via WhatsApp.

Kelopak bunga lagaligo memang nampak memukau dengan variasi corak keunguan. Corak berbentuk garis sepanjang tepi kelopak bunga. Bunganya juga riuh dalam satu tangkai. Saya menjumpai sekitar 15 pokok bunga dalam satu tangkai. Menawan, apalagi mekar bersamaan.

Tinggi sang anggrek hanya berkisar 60 cm. Terdapat dua tangkai batang yang mencuat dari umbi. Dua lembar daun menyeruak dari pangkal batang. Daunnya selebar tiga jari. Panjang daun sejengkal orang dewasa.

Boleh jadi dari rimpang yang berada di pangkal batang menjadi tempat munculnya batang-batang baru. Juga menjadi bagian vegetatif untuk memperbanyaknya selain biji buah.

Beberapa minggu kemudian saat saya kembali bertandang ke lokasi perjumpaaan. Bunganya masih mekar. Bertahan cukup lama.

KLIK INI:  Luar Biasa, Kura-Kura di AS Diselamatkan oleh Penjepit Bra
Menjaga kelestariannya

Moga anggrek alam ini terus terjaga di habitat aslinya. Menghias hutan-hutan yang tersisa di wilayah Wallacea.

Apalagi di zaman pagebluk, lagi tren memelihara bunga. Zaman yang juga mengancam keanekaragaman hayati di kawasan konservasi, seperti halnya Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Orang-orang mulai mengusiknya. Bertandang mencari aneka tanaman perdu untuk mereka pelihara.

Padahal segoyianya semua binatang dan tumbuhan yang berada di kawasan konservasi juga dilindungi. Tak boleh direnggut oleh siapa pun. Negara melindunginya. Melindungi dengan aturan yang ketat.

Ada aturan yang tak membolehkan segala yang berada di taman nasional tak boleh direnggut. Ada Polisi Kehutanan di sana yang akan menegakkan hukumnya.

So, saat bertandang ke Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung baiknya tidak mencabut tumbuhan liar ya. Termasuk anggrek, keladi-keladian, terakhir yang lagi marak mengunduh ekor naga. Sangat disangkan.

Mereka memiliki fungsi tersendiri di alam. Karenanya bijak jika membiarkannya menyatu dengan alam. Menciptakan ritmenya sendiri dalam balutan ekosistem.

Begitu pun Eulophia lagaligo menjadi bagian dari alam. Serangga tertentu selalu menanti kehadirannya. Selalu menanti manis sari bunganya.

KLIK INI:  7 Nilai Penting Kupu-Kupu Bagi Manusai dan Lingkungan