Masaro, Solusi Mudah Pengelolaan Sampah Organik

oleh -206 kali dilihat
Masaro, Solusi Mudah Pengelolaan Sampah Organik
Sampah organik-foto/Universal Eco

Klikhijau.com – Meski mudah terurai. Keberadaan sampah organik juga membawa dampak negatif. Sebab bisa melahirkan bau busuk dan penyakit.

Sampah jenis ini menjadi penyumbang sampah terbesar sekitar 50-70 persen dari total sampah yang ada.

Keberadaannya bisa mengancam kesehatan jika dibiarkan membusuk begitu saja. Karena ada bakteri patogen yang terbentuk selama proses pembusukannya.

Apalagi selama ini kebiasaan masyarakat dalam menangani sampah masih berantakan. Sampah-sampah masih dicampur aduk, baik organik maupun anorganik.

KLIK INI:  Isi Liburan dengan Hal Positif, Semisal Belajar Pemulihan Ekosistem

Ini menjadi salah satu sebab sulitnya mengatasi permasalahan sampah di Indonesia. Sampah yang dicampur aduk akan lebih mudah mengeluarkan bau busuk dan sulit diatasi.

Melihat rumitnya permasalahan sampah, khususnya sampah organik. Melatarbelakangi lahirnya teknologi Manajemen sampah zero (Masaro) oleh dosen KK Perancangan Produk Teknik Kimia Institut Pertanian Bogor (ITB) Ir. Akhmad Zainal Abidin dan timnya.

Masaro merupakan teknologi pelatihan pengelolaan sampah yang bisa menghasilkan zero waste. Langkah yang diterapkan adalah mengubah paradigma mengenai sampah.

Jika selama ini persoalan sampah hanya  sebatas cost center, yakni kumpul–angkut–buang menjadi profit center, yaitu pilah–angkut–proses–jual. Kehadiran Masaro untuk mengubah kebiasaan itu.

Mengubah sampah jadi barang bernilai

Dengan Masaro sampah yang awalnya tidak memiliki nilai dan dianggap menjijikkan dapat dimanfaat kembali. Bahkan menjadi barang yang bernilai ekonomi tinggi.

“Sampah yang tercampur aduk itu beban, tapi yang terpilah adalah aset” ungkap Akhmad.

Teknologi Masaro memiliki 5 prinsip penerapan dan juga lima kategori yang menjadi titik fokusnya pada sampah organik.

KLIK INI:  Taman Nasional Harus Dikelola Lebih Baik Lagi dan Berkelanjutan

Kelima prinsip penerapan teknologi Masaro, yakni pertama adalah diawali dengan pemilahan sampah di sumber, kedua pengolahan sampah di dekat sumber, ketiga melibatkan partisipasi masyarakat, pemerintah, dan industri, keempat penerapan teknologi ramah lingkungan, dan kelima pembuatan manajemen untuk program sustainability.

Selain itu teknologi ini  membagi sampah dari masyarakat menjadi lima kategori, yaitu sampah membusuk, sampah plastik film, sampah waste to energy (WTE), sampah daur ulang, dan sampah B2 (bahan berbahaya).

Agar sampah-sampah yang dikumpulkan bisa menghasilkan produk yang memiliki value added. Maka masih-masing jenis sampah diolah sesuai dengan prosesnya masing-masing.

Apa dan seperti apa Masaro sesungguhnya. Teknologi ini adalah program pengelolaan sampah organik rumah tangga. Pengelolaannya adalah menjadikan media tanam dengan formulasi 4:3:2:1.

Untuk menjadi media tanam sampah yang digunakan tidak hanya sampah organik, tapi juga melibatkan komponen lain. Komponen itu  di antaranya arang sekam padi, tanah, kotoran hewan, dan sampah organik.

Lebih murah dan mudah

Agar masyarakat, pemerintah, dan industri terlibat melakukan pengelolaan sampah organik. Akhmad Zainal dan tim membentuk program LBHP yang memiliki kepanjangan Lingkungan Bersih Hijau dan Produktif.

KLIK INI:  Pesan Lingkungan Istri Gubernur Sulsel di Hadapan CPNS Muda

Masaro merupakan Aplikasi program LBHP. Caranya diawali dengan memasukkan sampah organik di bagian bawah polybag. Setelah itu kemudian diikuti dengan campuran 3 media tanam lain di atasnya. Langkah selanjutnya, disiram dengan Pupuk Organik Cair Istimewa atau POCI.

Cara pengolahan sampah organik dengan LBHP Masaro ini. Terbukti ampuh dan mampuh mengurai permasalahan sampah organik. Ia bisa menjadi cara baru mengolah sampah di mana pun, bahkan di desa.

Teknologi Masaro, menurut  tim Masaro ITB mampu melahirkan  solusi terbaik dalam pengelolaan dan pengolahan sampah organik.

Metode yang digunakan pun jauh lebih murah, mudah, dan bersih yang bisa dipraktikkan setiap orang serta memiliki nilai manfaat yang besar terhadap lingkungan.

Hanya saja, program yang keren ini harus diawali dengan sosialisasi. Selain itu,  perlu adanya pemberian  edukasi yang baik, temasuk bimbingan teknis, monitoring, dan evaluasi. Hal ini dilakukan guna membangun kesadaran di masyarakat dalam menangani sampahnya.

KLIK INI:  Di Payakumbuh, Warga Olah Sampah Jadi Pupuk dan Pernak Pernik