Terdampak Perubahan Iklim, Populasi Lebah Menurun Drastis

oleh -41 kali dilihat
Terdampak Perubahan Iklim, Populasi Lebah Menurun Drastis
Ilustrasi lebah - Foto/LippoInsurance

Klikhijau.com – Sebuah fakta baru secara global mengungkap bahwa populasi lebah mengalami penurunan drastis. Temuan ini kemudian direspons oleh Perhimpunan Entomologi Indonesia (PEI).

Ini tentu satu berita yang cukup mencemaskan. Mengapa? Lebah memiliki peranan yang sangat penting dalam ketahanan pangan dan kesehatan manusia. Lebah tak hanya berperan dalam menghasilkan madu, tetapi juga sebagai penyerbuk yang perannya berdampak langsung pada produksi pangan.

Belum lama ini di Eropa dan Amerika juga dikejutkan oleh adanya fenomena penurunan populasi lebah secara besar-besaran, baik lebah yang diternakkan maupun lebah alami di alam.

Kekhawatiran ini kemudian menuai pertanyaan besar “apakah telah terjadi penurunan populasi lebah secara global? Jika ya apakah penyebabnya dan apa dampaknya pada pertanian dan produksi pangan dunia?” Lalu di Indonesia sendiri bagaimana?

KLIK INI:  Cerita Doni Monardo Perihal Limbah Merkuri di Perairan Maluku Saat Jabat Pangdam Pattimura
Temuan PEI

Fenomena menurunnya populasi lebah ini kemudian diteliti oleh Perhimpunan Entomologi Indonesia. Studi tersebut mengungkap bahwa penurunan juga dialami oleh 57% dari responden.

Mereka rata-rata menyatakan bahwa dugaan penurunan ini adalah karena dampak dari perubahan iklim, ketersediaan pakan dan pestisida yang digunakan di bentang alam.

Temuan ini diperoleh melalui penelitian yang dilakukan pada tahun 2020 lalu, oleh peneliti yang tergabung dalam PEI melalui metode survei mendalam kepada 272 peternak lebah di Indonesia.

Hasil Penelitian ini disampaikan dalam Lokakarya Bee and Polinator Awareness Day, dengan tema “Lebah, Ketahanan Pangan, dan Kesehatan: Peluang dan Tantangan”, kepada perwakilan pemerintahan, peneliti, akademisi, peternak lebah dan tokoh masyarakat sebagai rangkaian perayaan Hari Lebah Sedunia 2021.

Para peneliti mengumpulkan berbagai spesies lebah di setiap lokasi untuk diidentifikasi dan dianalisis pollen yang terdapat dalam tubuh lebah. Hal ini dilakukan untuk meneliti jenis-jenis tumbuhan yang didatangi oleh lebah.

KLIK INI:  Dua Warabala Ini Tak Lagi Sediakan Sedotan Plastik

Hal ini penting karena memberikan informasi sumber mengenai jenis tanaman yang biasa dijadikan sebagai pakan oleh lebah. Dengan melakukan penelitian gabungan secara kualitatif dan kuantitatif, laporan ini mengumpulkan gambaran akurat mengenai pemeliharaan lebah di daerah tropis.

Populasi lebah menurun

Guru Besar Departemen Proteksi Tanaman, IPB University, Prof. Dr. Ir. Damayanti Buchori, M.Sc., mengatakan fenomena penurunan populasi lebah secara global merupakan sebuah fakta.

“Di Indonesia belum ada penelitian mengenai fenomena ini, apakah juga terjadi atau tidak. Padahal mendeteksi kondisi populasi lebah sangatlah penting agar kita dapat melakukan tindakan-tindakan penyelamatan, jika memang terjadi,” kata Damayanti.

Lebih lanjut, Damayati mengatakan, studi ini adalah studi pertama yang dilakukan dalam usaha mencari data tersebut.

Dari hasil ini, katanya, tampak bahwa penurunan populasi lebah dirasakan oleh sebagian besar peternak. Data awal ini perlu ditindaklanjuti dengan riset yang lebih komprehensif mengenai kondisi lebah di Indonesia”.

KLIK INI:  Meski Otaknya Kecil, Lebah Mampu Pahami Matematika Dasar

Hasil penelitian menggarisbawahi keanekaragaman populasi lebah yang popular diternakkan di Indonesia, yaitu 22 spesies lebah. Terdiri dari empat spesies lebah madu, seperti Apis cerana dan Apis mellifera, dan 18 spesies lebah tak bersengat (dalam bahasa daerah sering disebut kelulut), termasuk Heterotrigona itama, Tetragonula laeviceps, dan T. cf. biroi.

Dalam skala nasional, keanekaragaman tertinggi terdapat di Pulau Sumatera (tercatat 16 spesies), diikuti oleh Jawa dan Kalimantan, masing- masing 10 spesies.

Lebah madu Asia (Apis cerana) merupakan spesies yang paling umum tercatat di semua pulau. Sementara beberapa spesies lainnya yang unik di pulau-pulau tertentu seperti Apis nigrocincta di Sulawesi, Tetragonula melanocephala di Nusa Tenggara, Homotrigona fimbriata di Kalimantan, dan Tetragonula minangkabau, Heterotrigona erythrogastra dan Lophotrigona canifrons, yang hanya terdapat di Pulau Sumatera.

Studi ini mengidentifikasi tiga faktor utama penyebab kematian lebah di nusantara, yaitu iklim (31%), sumber makanan (23%), dan pestisida (21%). Berbagai masalah lain juga dapat memengaruhi kuantitas dan kualitas hasil madu seperti cuaca, sumber pakan, jenis lebah, dan perlakuan saat panen dan pasca panen.

Penelitian yang didukung oleh PT Syngenta Indonesia ini diharapkan dapat melengkapi informasi dalam pelaksanaan program Pollinator Operation. Temuan ini diluncurkan oleh Syingenta Global dengan tujuan untuk mengatasi permasalahan penurunan populasi polinator dan berupaya untuk mempromosikan praktik- praktik pertanian yang lebih berkelanjutan yang dapat meningkatkan hasil panen sekaligus dapat memulihkan keseimbangan ekosistem.

KLIK INI:  Menyandarkan Asa Pada SILIN untuk Produktivitas Hutan Alam Indonesia