Memperingati Hari Gunung Bulu Bawakaraeng dengan Introspeksi Diri

Klikhijau.com - Pada Tanggal 26 Maret lalu, digelar dialog publik dengan tema ‘dialog introspeksi: Mengapa Harus Gunung Bulu Bawakaraeng?’ Dialog ini diselenggarakan oleh Forum Intelektual Selatan...

Memperingati Hari Gunung Bulu Bawakaraeng dengan Introspeksi Diri
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Pada Tanggal 26 Maret lalu, digelar dialog publik dengan tema ‘dialog introspeksi: Mengapa Harus Gunung Bulu Bawakaraeng?’

Dialog ini diselenggarakan oleh Forum Intelektual Selatan Sulawesi (FISS), komunitas yang menaruh perhatian pada Gunung Bulu Bawakaraeng serta melakukan perjuangan untuk kelestarian gunung tersebut.

Kegiatan ini digelar untuk memperingati hari Gunung Bulu Bawakaraeng yang diperingati pada tanggal 26 Maret setiap tahunnya.

Hari Gunung Bawakaraeng diambil dari peristiwa bencana mega longsor (debris slide) yang terjadi pada 26 Maret 2004 silam. Kejadian itu menjadi memori kelam bagi masyarakat yang terdampak di sekitar gunung.

Seolah tak ingin mengulang kejadian yang sama, FISS melalui dialog ini mencoba untuk merefleksikan berbagai tindakan manusia yang dapat merusak gunung Bulu Bawakaraeng.

Kerusakan yang terjadi di Gunung Bawakaraeng bagi FISS tak dapat dipisahkan dari aktivitas manusia. Untuk itu, peringatan ini sebagai perenungan bersama hakikat kemanusiaan dan kemahlukan kita.

Belajar dari peristiwa bencana besar

Andi Rewo Batari Wanti selaku Koodinator FISS menjelaskan, “26 Maret adalah tanggal terjadinya peristiwa bencana besar di Gunung Bulu Bawakaraeng (GBWK), sehingga kejadian ini perlu untuk dikenang.

Sekiranya dapat mengingatkan kita bahwa bisa saja kita telah menjadi bagian dari orang-orang yang lalai dalam menjaga kelestarian gunung sebagai sesama mahluk ciptaan Tuhan,” tuturnya.

Dalam dialog tersebut, Dr. Andi Yaqub Passinringi La Tinaga selaku pembicara pertama mengkaji topik ‘tanggung jawab manusia terhadap gunung’. Dalam paparan materinya, Andi Yaqub menjelaskan keterpautan antara manusia dan gunung sebagai sesama mahluk ciptaan Tuhan.

Baik manusia maupun gunung memiliki status dan hubungan yang sama kepada Tuhan. Keduanya merupakan sesama mahluk ciptaan yang juga memiliki tanggung jawab. Hanya saja, manusia memikul beban yang lebih karena diberikan wewenang untuk menjelajahi muka bumi.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2