Kisah Seekor Tikus Bergelut Maut Demi Selamatkan Nyawa Manusia

Publish by -228 kali dilihat
Penulis: Idris Makkatutu
Kisah Seekor Tikus Bergelut dengan Maut Demi Selamatkan Nyawa Manusia
Magawa/foto-Ist

Klikhijau.com – Magawa, memang hanya seekor tikus. Namun ia berbeda dari tikus pada umumnya. Magawa termasuk istimewa.

Jika tikus hanya berani ‘mengacau’ rumah dan menghancurkan tanaman. Magawa memiliki keberanian lain. Keberanian itu, yakni  mempertaruhkan hidupnya demi menyelamatkan hidup manusia dari ancaman maut.

Keberanian itulah yang menjadikan tikus ini istimewa dan penting. Karenanya, Magawa mendapat penghargaan medali emas dari badan amal Inggris, People’s Dispensary for Sick Animals (PDSA).

PDSA sendiri telah menganugerahkah medali emas sejak 2002. Mereka memberikannya kepada hewan yang mengabdi luar biasa alam dinas sipil.

KLIK INI:  Menilik Masalah Beras Berkelanjutan, Lingkungan dan Perubahan Iklim

“Magawa adalah tikus pahlawan. Kami sangat senang merayakan pengabdiannya yang menyelamatkan nyawanya dengan memberinya medali emas PDSA,” kata Direktur Jenderal PDSA Jan McLouglin.

Keberhasilan Magawa menyabet medali emas tersebut menjadi sejarah tersendiri bagi tikus. Sebab itu adalah medali pertama bagi dunia tikus. Selama  yang berhasil mendapatkannya adalah anjing.

Penghargaan itu memang layak di dapatkan Magawa, sebab ia rela bertarung  maut untuk mencari ranjau darat yang tidak meledak di Kamboja.

Ranjau-ranjau itu merupakan ranjau sisa perang. Jika tak ditemukan tentu akan membahayakan hidup manusia, bahkan satwa liar lainnya.

Atas kerja kerasnya Magawa kini mencatatkan diri sebagai pahlawan kamboja bahkan dunia.  Magawa sendiri merupakan tikus berkantung raksasa Afrika.

Ukuran tubuhnya lebih besar daripada tikus pada umumnya. Namun, meski besar masih cukup ringan berjalan di area beranjau tanpa membuat ranjau meledak.

Kamboja menjadi negara yang telah berkonflik selama bertahun-tahun. Hal itulah yang menyebabkan banyak ranjau di negara itu.

Magawa berhasil menemukan menemukan 39 ranjau darat dan 28 benda yang tidak meledak dalam tujuh tahun terakhir.

Dilatih bertahun-tahun

Apa yang dilakukan oleh Magawa telah menyelamatkan banyak nyawa manusia. Namun, keberhasilantikus itu tidak alami.

Ada hal yang membuatnya bisa mengendus ranjau, yakni sebuah organisasi yang berbasis  di Belgia. Namanya APOPO.

Organisansi inilah yang melatih melatih Magawa. Mereka mengajarinya menemukan ranjau darat selama lebih dari 20 tahun.

KLIK INI:  Anak SMA, Imajinasi dan Sajak-Sajak yang Menghujam ke Bumi

Kepala Eksekutif APOPO Christophe Cox menggambarkan medali Magawa sebagai penghargaan besar untuk pelatih hewan.

“Medali itu berarti besar bagi orang-orang di Kamboja, dan semua orang di seluruh dunia yang terancam oleh keberadaan ranjau darat,” kata Cox. “Penghargaan medali emas PDSA membawa masalah ranjau darat menjadi perhatian global,” lanjutnya.

Untuk penelusuran ranjau kamboja, pihak APOPO bekerja dengan program di Kamboja, Angola, Zimbabwe dan Mozambik untuk membersihkan jutaan ranjau yang tertinggal akibat perang dan konflik.

Voa Indonesia melaporkan bahwa Magawa telah berhasil mengendus area seluas lebih dari 141 ribu meter persegi, setara dengan sekitar 20 lapangan sepak bola.

Hal itu menandakan jika tikus ini merupakan satwa yang cukup sukses untuk menyelamatkan nyawa manusia dari ledakan ranjau.

Ancaman ranjau cukup besar, menurut APOPO, lebih dari 60 juta orang di 59 negara terus terancam oleh ranjau darat dan peraturan yang tidak meledak. Pada 2018, ranjau darat dan sisa-sisa perang lainnya menewaskan atau melukai 6.897 orang.

Pemilihan  tikus raksasa berkantung Afrika bukan tanpa alas an. Tikus itu dianggap paling cocok untuk membersihkan ranjau darat karena asal-usul Afrika dan masa hidup mereka hingga delapan tahun.

Ukuran tikus berkantung Afrika memungkinkan tikus untuk berjalan melintasi ladang ranjau tanpa memicu bahan peledak dan mereka melakukannya jauh lebih cepat daripada manusia.

Kamboja sendiri merupakan negara yang mencatatkan jumlah   orang yang diamputasi tertinggi di dunia, dengan 25 ribu orang terkait persenjataan yang belum meledak.

Sejak  rezim Khmer Merah pada 1979 tak lagi berkuasa, Kamboja telah mencatat 64.840 korban jiwa yang disebabkan oleh ranjau atau bahan peledak lainnya.

KLIK INI:  Upaya Selamatkan Kuil Angkor Wat di Kamboja dengan Sepeda
Editor: Idris Makkatutu

KLIK Pilihan!