Apa Itu Folu Net Sink 2030?

oleh -442 kali dilihat
Apa Itu Folu Net Sink 2030?
Ilustrasi - Foto/ Shane Rounce on Unsplash

Klikhijau.com – Istilah Folu Net Sink 2030 belakangan ini banyak diperbincangkan dalam diskursus ekologi dan perubahan iklim.

Di lingkup Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), istilah ini paling sering diutarakan oleh Menteri Siti Nurbaya.

Namun sebagai sebuah narasi baru, tentu belum banyak yang memahami pengertian dari Folu Net Sink dan bagaimana kaitannya dengan isu perubahan iklim.

Artikel ini akan membahas mengenai Folu Net Sink 2030, ruang lingkup dan hubungannya dengan krisis iklim.

KLIK INI:  Dukung Realisasi Reforma Agraria, KLHK Perkuat Dua Skema Ini!

Apa itu FOLU Net Sink? 

FOLU adalah singkatan dari forest and other land uses atau pemanfaatan hutan dan penggunaan lahan. Dalam dokumen kebijakan penurunan emisi atau nationally determined contribution (NDC), FOLU menjadi satu dari lima sektor program mitigasi krisis iklim.

Pada 2030, sektor ini akan menghasilkan emisi sekira 714 juta ton setara CO2. Pembangunan rendah karbon menargetkan pengurangan emisi sekira 17,2% dalam skenario penurunan emisi 29% dan 24,5% dalam skenario 41%.

Indonesia mengajukan proposal penurunan emisi melalui dua cara: 29% dengan usaha sendiri dan 41% jika ada bantuan internasional. Persentase ini mengacu pada produksi emisi nasional pada 2030 sebanyak 2,869 miliar ton setara CO2.

Ilustrasinya kira-kira setara dengan emisi yang dihasilkan 900 juta mobil yang berjalan 19.000 kilometer selama setahun.

Lalu, apa carbon net sinkCarbon net sink adalah penyerapan karbon bersih yang merujuk pada jumlah penyerapan emisi karbon yang jauh lebih banyak dari yang dilepaskannya.

Dengan demikian, FOLU net sink adalah keadaan ketika sektor lahan dan hutan menyerap lebih banyak karbon daripada yang dilepaskannya.

KLIK INI:  Respon Atas Meningkatnya Limbah Infeksius, KLHK Perkuat Koordinasi Lintas Sektor

Sebagai siklus hidupnya, pohon menyerap karbon untuk mengubahnya menjadi oksigen dan glukosa melalui fotosintesis. Karbon yang ada dalam pohon akan menjelma menjadi gas rumah kaca (GRK) jika ia terbakar, mati karena ditebang, atau membusuk.

Sebagai catatan, deforestasi adalah pemicu sekira 24% emisi global saat ini yang totalnya mencapai 51 miliar ton setahun.

Dalam hutan juga dikenal istilah siklus karbon hutan yang merujuk pada keadaan bergeraknya karbon secara dinamis antara atmosfer dengan hutan. Ruang antara bumi dan atmosfer akan melepaskan karbon dioksida sementara di dalam pohon sendiri terjadi penyerapan karbon. Karbon dioksida di atmosfer akan terserap oleh pohon melalui proses fotosintesis.

Jumlah karbon dioksida di atmosfer meningkat tajam dari 280 part per million selama 10.000 tahun lalu menjadi 414,4 ppm pada akhir tahun lalu. Hal ini berdampak pada terjadinya kenaikan suhu 1,16C dalam tiga abad terakhir.

Pemantik utama kenaikan konsentrasi GRK ini semakin parah paca manusia menemukan mesin uap dan batu bara sebagai bahan bakar setelah Revolusi Industri di Eropa pada 1750.

KLIK INI:  Krisis Iklim Makin Memburuk, Pendanaan Bank untuk Batu Bara Harus Dihentikan

Komitmen Indonesia

FoLU Net-Sink 2030 sejatinya merupakan bentuk komitmen Indonesia dalam mendorong penurunan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sektor kehutanan.

Sebagai tindak lanjut dari kebijakan ini dikeluarkanlah Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 168 tentang FoLU NetSink 2030 untuk pengendalian perubahan iklim pada tanggal 24 Februari 2022.

Dilansir dari laman resmi KLHK, Wakil Menteri LHK, Alue Dohong mengatakan melalui Kepmen LHK Nomor 168 Tahun 2022 ini, pemerintah menunjukkan keseriusan untuk mengusung konsep ‘Indonesia FoLU Net Sink 2030’ sebagai sebuah pendekatan dan strategi dimana pada tahun 2030, tingkat serapan emisi sektor FoLU ditargetkan sudah berimbang atau lebih tinggi dari pada tingkat emisinya (Net Sink).

Selanjutnya, dikatakan Alue Dohong setelah 2030 Sektor FoLU ditargetkan sudah dapat menyerap GRK bersamaan dengan kegiatan  penurunan emisi GRK dari aktivitas transisi energi atau dekarbonisasi serta kegiatan eksplorasi sektor lainnya, tidak terkecuali sektor pertanian.

“Dengan komitmen sektor FoLU yang ditargetkan dapat menurunkan hampir 60% dari total target penurunan emisi nasional, diharapkan ini dapat menjadi pondasi atau landasan untuk mencapai netral karbon/net-zero emission pada tahun 2060 atau lebih cepat,” tegas Alue Dohong dalam sebuah Webinar.

KLIK INI:  Rasakan Panas Terik yang Sangar Hari Ini? Begini Penyebabnya!

Ruang lingkup

Net sink FoLU merupakan bagian strategi Indonesia untuk menjamin tercapainya tujuan Paris Agreement dengan menahan kenaikan laju suhu bumi di bawah 1,5 derajat Celcius.

Folu juga menjadi panduan Indonesia dalam melakukan aksi mitigasi dan adaptasi perubahan Iklim. Dalam melaksanakan agenda net sink FoLu2030 juga merupakan bagian dari aspirasi Indonesia menuju  Long-term Strategy on Low Carbon and Climate Resilience (LTS-LCCR) pada 2050.

Setidaknya ada 14 ruang lingkup Folu Net Sink yang perlu diketahui antara lain:

  • Pengurangan laju deforestasi lahan mineral
  • Pengurangan laju deforestasi lahan gambut dan mangrove
  • Pengurangan laju degradasi hutan lahan mineral
  • Pengurangan laju degradasi hutan lahan gambut dan mangrove
  • Pembangunan hutan tanaman
  • Pengelolaan hutan lestari
  • Rehabilitasi dengan rotasi
  • Rehabilitasi non rotasi
  • Restorasi gambut dan perbaikan tata air gambut
  • Rehabilitasi mangrove dan aforestasi pada kawasan bekas tambang
  • Konservasi keanekaragaman hayati
  • Perhutanan sosial
  • Introduksi replikasi ekosistem, ruang terbuka hijau dan ekoriparian
  • Pengawasan dan penegakan hukum dalam mendukung perlindungan dan pengamanan kawasan hutan

Sektor sasaran Folu Net Sink 2030

Berikut sektor-sektor yang menjadi sasaran Folu Net Sink 2030:

  1. Sektor energi
  • Penerapan efisiensi energi
  • Penggunaan energi baru terbarukan
  • Penerapan teknologi energi bersih
  1. Sektor kehutanan
  • Penurunan deforestasi dan degradasi hutan
  • Pengelolaan hutan lestari
  • Peningkatan cadangan karbon
  • Peningkatan peranan konservasi
  • Pengelolaan lahan gambut
  1. Sektor limbah
  • Pengolahan limbah padat kota melalui operasionalisasi TPA
  • Pengolahan limbah cair domestik
  • Pengolahan limbah padat industri
  • Pengolahan limbah cair industri
  1. Sektor proses industri dan penggunaan produk (IPPU)
  • Pengurangan “clinker to cemen ratio” di industri semen
  • Peningkatan efisiensi industri amonia
  • Penambahan aksi mitigasi lainnya
  1. Sektor pertanian 
  • Penggunaan varietas rendah emisi di lahan sawah
  • Penerapan sistem pengairan sawah
  • Pemanfaatan limbah ternak untuk biogas
  • Perbaikan suplemen pakan ternak
KLIK INI:  Akibat Perubahan Iklim, Beragam Tanaman Purba ini "Bangkit" Lagi seperti Zombie

Sumber: