Pesona Maut Terompet Malaikat, Kecantikan Brugmansia di Tanah Pattapang

oleh -22 kali dilihat
Bunga Terompet (Brugmansia) - Foto: Klikhijau.com/Arman.
Bunga Terompet (Brugmansia) - Foto: Klikhijau.com/Arman.

Klikhijau.com-  Bunganya besar dan menggantung bak terompet berwarna pucat, menebar keharuman intens yang memuncak di kala malam. Meski bentuknya yang anggun menciptakan kesan surgawi, di balik kecantikannya tersimpan racun yang sangat mematikan, juga manfaat.

Kecantikan yang lahir dari ketiadaan di alam liar, namun subur di bawah jemari manusia yang memujanya. Di tanah sejuk Pattapang, Kecamatan Tinggi Moncong, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, tanaman ini tegak berdiri dengan lonceng-lonceng raksasa yang menjuntai ke bumi, seolah menawarkan simfoni bisu bagi siapa saja yang mendekat.

Dibalik keanggunan mahkota bunganya yang berwarna putih hingga jingga kemerahan, tersimpan racun yang mampu melenyapkan kesadaran dalam sekejap. Ia adalah Brugmansia, sang “Terompet Malaikat” yang di satu sisi memberikan ketenangan medis, namun di sisi lain mampu menghadirkan neraka delirium bagi mereka yang ceroboh menyentuhnya.

Penyintas Prasejarah di Lereng Gowa

Keberadaan Brugmansia di Pattapang bukanlah sekadar tanaman liar biasa. Di daerah dataran tinggi Gowa yang subur tersebut, suhu udara yang dingin dan kelembapan yang terjaga menjadi habitat ideal bagi genus ini untuk memamerkan ukurannya yang bisa mencapai tinggi beberapa meter.

Secara taksonomi, Brugmansia merupakan bagian dari keluarga Solanaceae, satu garis keturunan dengan tomat dan cabai, namun memiliki komposisi kimia yang jauh lebih agresif. Berbeda dengan kerabat dekatnya, Datura atau kecubung pendek, buah Brugmansia tidak berduri dan batangnya lebih menyerupai pohon berkayu.

KLIK INI:  Manggala Agni dari Sulawesi Menuju Bali-Tanggerang, Merah Putih tetap Berkibar

Ironisnya, meski tumbuh subur di pekarangan rumah warga di Tinggi Moncong sebagai tanaman hias, secara global Brugmansia menyandang status yang tragis dalam sains. Berdasarkan Daftar Merah International Union for Conservation of Nature (IUCN), ketujuh spesies asli tanaman ini diklasifikasikan sebagai Extinct in the Wild atau Punah di Alam Liar.

Kepunahan ini bukan disebabkan oleh eksploitasi manusia, melainkan karena hilangnya mitra evolusioner mereka. Biji Brugmansia yang besar dahulu disebarkan oleh megafauna mamalia zaman Pleistosen yang kini telah punah. Tanpa hewan raksasa ini, regenerasi alami mereka terhenti ribuan tahun yang lalu.

Kelangsungan hidupnya saat ini murni merupakan hasil dari budidaya manusia yang terpikat oleh estetika dan kegunaannya.

Arsitektur Kimia yang Menghancurkan Realitas

Secara biokimia, kekuatan utama sekaligus bahaya terbesar dari Brugmansia terletak pada kandungan alkaloid tropana yang sangat pekat. Seluruh jaringan tanaman ini, mulai dari akar hingga nektar bunganya mengandung skopolamin (hyoscine), hiosiamin, dan atropin.

Skopolamin bekerja sebagai antagonis kompetitif pada reseptor asetilkolin muskarinik di otak. Dalam dosis yang sangat kecil dan terkontrol secara klinis, senyawa ini memang memiliki nilai medis tinggi sebagai antispasmodik dan agen anestesi.

KLIK INI:  Tumbuh Liar dan Berbunga Indah, Sangitan Menawarkan Manfaat Menakjubkan

Namun, ambang batas antara pengobatan dan keracunan pada Brugmansia sangatlah tipis. Di balik aromanya yang menghipnotis saat senja tiba, sebuah strategi evolusi untuk menarik ngengat penyerbuk, tersimpan risiko toksidrom antikolinergik yang fatal.

Peneliti Christina Pratt dalam An Encyclopedia of Shamanism mendeskripsikan bahwa efek halusinogen dari tanaman ini lebih tepat disebut sebagai delirium yang mengerikan. Tidak seperti zat psikoaktif lainnya, skopolamin menyebabkan hilangnya kesadaran akan realitas secara total.

Penggunanya sering kali mengalami amnesia terhadap tindakan berbahaya yang mereka lakukan selama masa “mabuk” tersebut, karena otak kehilangan kemampuan untuk membedakan antara mimpi dan kenyataan.

Di wilayah agrowisata seperti Pattapang, interaksi manusia dengan tanaman ini sering kali hanya sebatas estetika tanpa menyadari risiko transdermal. Sebuah laporan dalam BMJ Case Reports menyoroti kasus medis di mana seorang individu mengalami midriasis (pelebaran pupil) dan penglihatan kabur hanya karena menggosok matanya setelah memangkas dahan Brugmansia tanpa sarung tangan.

Getah tanaman ini cukup kuat untuk menembus pori-pori atau mukosa mata, menyebabkan kelumpuhan sementara pada otot-otot mata.

KLIK INI:  Pohon Cemara, Tumbuhan Hijau Abadi yang Bernapas Ratusan Tahun

Dimensi budaya tanaman ini juga tak kalah kompleks. Di wilayah asalnya di Amerika Selatan, suku-suku asli menggunakannya sebagai entheogen untuk ritual inisiasi. Namun, sejarah mencatat sisi gelapnya, tanaman ini pernah digunakan untuk membius individu dalam ritual penguburan kuno agar mereka menjadi penurut sebelum dikubur hidup-hidup.

Di zaman modern, laporan dari Kolombia menunjukkan penggunaan ekstrak skopolamin dari Brugmansia sebagai alat kriminal untuk melumpuhkan kehendak korban, membuat mereka menyerahkan harta benda tanpa perlawanan dalam kondisi semi-sadar.

Menikmati Tanpa Menyentuh

Keindahan Brugmansia di lereng Gunung Lompobattang dan Bawakaraeng, Gowa, adalah sebuah paradoks alam yang nyata. Ia adalah penyintas dari masa prasejarah yang memilih untuk tinggal di taman-taman manusia sebagai cara menghindari kepunahan total.

Bagi warga Pattapang dan para wisatawan, tanaman ini menawarkan pesona visual yang tak tertandingi dengan bunga terompetnya yang menggantung anggun. Namun, pengetahuan ilmiah mengingatkan kita bahwa di balik keelokan tersebut terdapat peringatan keras, ia adalah tanaman yang harus dinikmati dengan mata, bukan dengan sentuhan, apalagi dikonsumsi secara sembarangan.

Pada ekosistem lereng gunung yang rawan erosi, tanaman seperti Brugmansia menjalankan fungsi pedogenesis (pembentukan tanah) dan stabilisasi mekanis melalui sistem perakarannya yang luas namun terkendali.

Sebagai bagian dari keluarga Solanaceae, tanaman ini berkontribusi pada siklus hara melalui pelapukan bahan organik, guguran daun dan bunganya yang besar kaya akan nitrogen dan mineral yang, ketika terdekomposisi oleh mikroorganisme tanah, meningkatkan lapisan humus serta kapasitas tukar kation (KTK) tanah vulkanik.

Selain itu, arsitektur akar Brugmansia membantu mengikat agregat tanah di kemiringan curam, menciptakan pori-pori makro yang meningkatkan infiltrasi air sehingga mengurangi aliran permukaan (run-off) yang berisiko memicu tanah longsor. Menariknya, kandungan alkaloid dalam sisa-sisa bagian tanaman yang membusuk juga berfungsi sebagai biopestisida alami di dalam tanah, yang secara selektif dapat memengaruhi populasi nematoda dan mikrofauna tanah tertentu, menciptakan keseimbangan biotik yang unik di bawah permukaan tanah dataran tinggi.