Hijaukan “Paru-Paru” Maros, BKPRMI Sulsel Tanam Ratusan Pohon di Desa Pucak

oleh -121 kali dilihat
BKPRMI Sulsel Gelar Aksi Tanam Pohon di Maros, Dukung Gerakan Nasional Menanam 1 Juta Pohon
BKPRMI Sulsel Gelar Aksi Tanam Pohon di Maros, Dukung Gerakan Nasional Menanam 1 Juta Pohon. - Foto: ist.

Klikhijau.com – Ancaman krisis iklim yang kian nyata, pemuda masjid di Sulawesi Selatan mengambil langkah konkret untuk membumi. Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Sulawesi Selatan memusatkan aksi penghijauan di Desa Pucak, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros, pada Sabtu, 17 Januari 2026.

Langkah ini bukan sekadar seremoni seremonial belaka, melainkan bagian dari Gerakan Nasional Menanam 1 Juta Pohon yang diinisiasi oleh DPP BKPRMI.

Sebagai wujud Hablum Minal ‘Alam (Hubungan dengan alam) menegaskan bahwa manusia bukan sekadar penghuni bumi, melainkan bagian integral dari ekosistem yang memiliki tanggung jawab moral sebagai pengelola (khalifah). Hubungan ini bersifat timbal balik, ketika manusia menjaga kelestarian alam, alam akan menyediakan sumber daya yang berkelanjutan bagi kehidupan.

Sebaliknya, eksploitasi tanpa batas mencerminkan terputusnya koneksi spiritual dan etis tersebut, yang pada akhirnya akan berdampak buruk kembali kepada manusia melalui krisis iklim dan bencana ekologis. Oleh karena itu, keterhubungan dengan alam adalah manifestasi dari rasa syukur dan pengakuan atas ketergantungan mutlak makhluk terhadap penciptanya melalui pemeliharaan ciptaan-Nya.

Secara filosofis, alam semesta merupakan “ayat-ayat” yang terhampar yang menuntut manusia untuk berinteraksi dengan penuh kesantunan dan kebijakan. Interaksi ini melampaui kepentingan material semata, karena setiap elemen di alam memiliki fungsi keseimbangan yang menjaga harmoni kehidupan secara global.

KLIK INI:  KEMAH SAHABAT ALAM III: “Bertemu Berteman Bersaudara”

Dengan  menghargai hak-hak entitas non-manusia, manusia sebenarnya sedang memelihara martabat kemanusiaannya sendiri. Menjaga alam berarti menjaga keberlangsungan peradaban, memastikan bahwa warisan ekologis tetap utuh demi kesejahteraan generasi masa kini dan masa depan.

Pemilihan Desa Pucak sebagai titik pusat penanaman bukanlah tanpa alasan. Secara ekologis, wilayah Tompobulu merupakan daerah penyangga (buffer zone) penting bagi Kabupaten Maros dan Kota Makassar.

Kawasan ini berada di dataran tinggi yang berfungsi sebagai daerah tangkapan air. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, degradasi lahan akibat pembukaan lahan dan alih fungsi hutan menjadi ancaman serius. Jika vegetasi di wilayah ini menipis, risiko longsor dan banjir bandang di wilayah hilir Maros akan meningkat drastis.

Sinergi untuk Alam

Kegiatan ini lahir dari kolaborasi lintas sektor, melibatkan UPTD KPH Bulusaraung, Pemerintah Desa Pucak, serta kader DPK BKPRMI Tompobulu sebagai tuan rumah.

Ketua Umum DPW BKPRMI Sulsel, Asri Said, menekankan bahwa aksi ini adalah bentuk ketaatan terhadap lingkungan sekaligus respons atas arahan Gubernur Sulawesi Selatan untuk memanfaatkan lahan kosong dengan tanaman produktif.

KLIK INI:  Rasa memiliki di Rumah Hijau Denassa

“Kegiatan ini tidak hanya sekadar menanam bibit pohon, tetapi juga sebagai bentuk aktualisasi kepedulian kader BKPRMI terhadap kelestarian alam. Ini adalah ibadah jariyah untuk bumi,” ujar Asri Said di sela-sela penanaman.

Sekretaris Umum DPW BKPRMI Sulsel, Muh. Yusuf Ali, menambahkan bahwa ratusan bibit yang ditanam merupakan varietas ramah lingkungan yang dipilih untuk memperkuat struktur tanah sekaligus memberi manfaat ekonomi bagi warga di masa depan.

Tak hanya mencangkul tanah, para kader juga dibekali edukasi singkat mengenai mitigasi bencana berbasis lingkungan. BKPRMI berharap para pemuda masjid bisa menjadi pelopor yang tidak hanya pandai memakmurkan masjid, tetapi juga pandai menjaga “masjid besar” bernama alam semesta.

Kondisi Ekologis Tompobulu

Sebagai informasi, wilayah Tompobulu yang berbatasan langsung dengan kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung memiliki keragaman hayati yang tinggi. Namun, tantangan berupa, erosi tanah di kemiringan curam. Penurunan debit sumber mata air saat kemarau, dan fragmentasi habitat satwa lokal.

Aksi penanaman pohon oleh BKPRMI ini menjadi langkah krusial untuk mengembalikan fungsi hidrologis kawasan tersebut, memastikan ketersediaan air bersih tetap terjaga, dan meminimalisir dampak degradasi lingkungan bagi generasi mendatang.