- Puang Safi’ dan Keajaiban Bunga Telang padaMatanya - 03/12/2025
- Bangun dari Tidur, Tire Menebar Bau Bangkai yang Disambut Suka Cita - 01/12/2025
- Menanam Pohon di Mata - 30/11/2025
Klikhijau.com – Begitu hujan tiba di November. Tire atau porang bangkit dari masa tidurnya. Tumbuhan yang kini jadi primadona itu akan tumbuh kembali. Menghijaukan bumi.
Tire tak hanya tumbuh di kebun yang jauh dari rumah seperti dulu. Sekarang tumbuh dengan perawatan maksimal, bahkan di halaman rumah.
Beberapa tahun terakhir, tumbuhan bernama ilmiah Amorphophallus muelleri itu telah jadi komoditi menjanjikan, khususnya di Desa Kindang, Bulukumba. Setiap ada warga yang berkumpul, pembahasannya akan mengarah pada satu arah, tire.
Tire telah mendenyutkan kehidupan dan perbincangan. Jika pembahasan sudah menyinggung tumbuhan yang dulu tumbuh liar dan meresahkan itu, maka pembahasan lain hanya pelengkap.
Harganya yang cerah dan perawatan yang minim, membuat banyak orang berinvestasi puluhan hingga ratusan juta rupiah kepada tumbuhan dari penghasil umbi itu.
Perawatannya yang minim, membuat para tetua memiliki sindiran halus sekaligus kejam pada generasi muda.
“Punna tire talanakkulle napanai, onjongpa maraenga (Jika porang saja tak bisa dibangun/budidaya, yang lain akan mustahil.”
Sindiran itu, menunjukkan bahwa betapa mudahnya menanam atau membudidayakan tire, jika tak bisa menggarap lahan dengan baik, cukup lemparkan saja buahnya, maka akan tumbuh dengan sendirinya.
Tunggulah hingga masa panen tiba, satu atau dua tahun kemudian baru kembali “menjenguknya”. Tire tak akan mengecewakanmu.
Namun, rupanya, karena harganya yang cerah, banyak yang tak ingin serampangan membudidayakannya. Petani, khususnya petani muda memperlakukannya seperti tanaman sayur mayur, dimanjakan dengan tanah yang digemburkan dan juga pupuk.
Tumbuh membawa bau bangkai
Penghujung November, tak hanya tentang hujan dan panen padi. Tapi, juga tentang tire yang bangkit dari masa dormannya.
Kebangkitan tire dari tidur nyenyaknya itu, membawa “petaka” bagi hidung, sang indra penciuman yang tak menyukai bau bangkai.
Bau tire yang tumbuh, khususnya yang akan melahirkan buah spora (biji kecil seperti jagung) baunya seperti bangkai binatang yang telah membusuk. Jika kamu tak tahan, bersiaplah menghamburkan muntahmu.
Karena baunya yang busuk itulah, kakak saya star lebih awal ke kampung bertemu orang tua pada awal November lalu. Ia menghindarinya. Sejak pindah ke Mallawa Maros, hidungnya tak bisa lagi berdamai dengan bau tire yang sedang berbunga.
Tire, sepertinya masih ada hubungan kekerabatan dengan bunga bangkai, yang setiap mekar, tak hanya menyebarkan keindahan yang menakjubkan, tetapi juga bau yang mengusik indra penciuman.
Jika dulu, baunya tak begitu “ramai” meneror penciuman, sebab tumbuhnya cukup jauh dari rumah dan pinggir jalan. Sekarang, tak lagi demikian. Baunya telah menyusup ke ruang tamu, dapur hingga kamar tidur.
Di jalan pun demikian, saat mengendarai motor misalnya, baunya akan mengorek-ngorek hidung.
Hanya saja, jika dulu ada bau bangkai dari tire, orang-orang akan memakinya. Sekarang, setiap ada yang mencium baunya. Tak ada lagi cacian, yang ada adalah harapan, adalah kebahagian.
Orang-orang yang mencium baunya akan berujar dengan bahagia “a’rasami doi ejayya (sedang berbau uang merah.”
Uang merah yang dimaksud adalah pecahan uang seratus ribu rupiah. Sebutan merah merujuk pada warna pecahan uang dengan nilai tertinggi itu.
Tire tak sekadar tumbuhan, ia adalah membawa pelajaran penting berupa sebuah nilai. Jika ingin diperhatikan, dirawat, dijaga, dan dicintai, naikkan nilaimu. Seperti tire dari tumbuhan liar yang dibenci menjadi tumbuhan yang dicintai dengan segenap keringat, pikiran, dan tenaga. Karena memiliki nilai sebagai salah satu bahan pangan masa depan.








