Mendengar Jeritan Ribuan Hiu dalam Jeratan Sampah Plastik di Laut

oleh -529 kali dilihat
Mendengar Jeritan Ribuan Hiu dalam Jeratan Sampah Plastik di Luat
Ilustrasi seekor hiu/foto-Pegipegi
Irhyl R Makkatutu

[hijau]Sampah plastik menjeratnya, lalu membunuhnya perlahan-lahan[/hijau]

Klikhijau.com – Sampah-sampah plastik dikeluarkan dari perutnya. Beratnya mencengangkan, 29 kilogram. Sampah plastik itu dikeluarkan oleh para pakar yang melakukan otopsi.

Kejadian itu pada  Februari 2018 lalu. Ketika seekor paus sperma ditemukan terdampar di pantai Cabo de Palos di Murcia, Spanyol.

Setelah otopsi, terdapat 29 kilogram plastik di dalam perutnya, terdiri dari kantong plastik, jaring, tali, dan kaleng.

Kematian paus tersebut disimpulkan para paka  bahwa sistem pencernaannya  terhambat oleh plastik yang menumpuk di perutnya.

KLIK INI:  Bakteri Penyumbang Oksigen di Bumi Terancam Plastik di Laut

Akibatnya, paus sperma tersebut menderita peritonitis atau infeksi perut yang kemudian menyebabkan kematiannya.

Mei 2018, seekor paus pilot jantan ditemukan di sebuah kanal dekat Songkhla, Thailand Selatan, tidak mampu berenang dan tampak kehabisan napas.

Paus itu memuntahkan lima kantong plastik saat pihak konservasi laut mencoba menyelamatkannya, tim rescue dan dokter mencoba menyelamatkannya.

Lima hari kemudian, mamalia itu mati. Hasil nekropsi menemukan sampah plastik seberat delapan kilogram menumpuk di perutnya. Sampah plastik itu terdiri dari 80 kantong plastik dan sampah lainnya. Begitu yang ditulis Kennial Laia di Betahita.id, 29 November 2018 lampau.

Dua kisah di atas hanya sebagian kecil dari kisah satwa laut yang mati karena plastik. Sebab menurut   ditulis Gita Laras Widyaningrum , Senin, 8 Juli 2019 di Nationalgeographic.co.id

KLIK INI:  Ini Ancaman Terbesar yang Mengepung Laut dan Isinya karena Ulah Manusia
Ancaman kesejahteraan hewan

Sebuah laporan terbaru tersebut  dipublikasikan pada jurnal Endangered Species Research, ada lebih dari seribu hiu dan pari yang terjerat sampah plastik di laut. Para peneliti menyebut masalah ini sebagai “ancaman kesejahteraan hewan”.

Untuk meninjau bagaimana hewan laut seperti hiu dan pari rentan terhadap jeratan sampah, para peneliti menganalisis data serta studi yang sudah ada.

Selain itu, mereka juga mengumpulkan laporan mengenai hewan laut yang terjerat sampah plastik melalui Twitter.

Hasilnya menunjukkan bahwa ada lebih dari seribu yang kerap terjerat. Angka ini cukup tinggi mengingat studi hanya berfokus pada hiu dan pari.

KLIK INI:  Komunitas Laut Biru dan 5 Pesan Cinta untuk Kelestarian Kawasan Pesisir

“Salah satu contoh kasus adalah hiu mako sirip pendek yang terjerat tali pancing,” ujar Kristian Parton, pemimpin penelitian tersebut.

“Hiu terus tumbuh setelah terlilit tali pancing sehingga itu menembus kulit kemudain merusak tulang belakangnya,” imbuhnya.

Dari 47 studi yang diterbitkan pada jurnal-jurnal ilmiah, para peneliti menemukan bahwa 16 famili yang mencakup 34 spesies berbeda, terkena dampak limbah manusia.

Secara khusus, hampir 3/4 dari kasus-kasus tersebut, melibatkan “alat pancing yang dibuang, hilang, atau sengaja ditinggalkan di lingkungan laut.

Jaring, perangkap dan jenis alat pancing lainnya kerap menjerat induk maupun bayi hewan laut. Satu dari sepuluh kejadian pasti melibatkan tali polipropilen yang biasa digunakan untuk mengikat produk. Sampah lainnya meliputi kepingan plastik, kantung belanja, dan ban karet.

KLIK INI:  Mencemaskan, Kini Laut Terdalam di Dunia pun Mulai Dihuni Plastik

Sepanjang penelitian, kasus terjeratnya hiu dan pari ini paling sering terjadi di Samudra Pasifik dan Atlantik, masing-masing sekitar 49% dan 46%.

“Meskipun bukan ancaman utama, tapi kita perlu memahami bagaimana sampah plastik membahayakan spesies hiu dan pari di laut kita,” kata Parton.

Ke depannya, para peneliti akan bekerja sama dengan Shark Trust Record untuk menciptakan forum online yang memungkinkan orang-orang melaporkan kasus terjeratnya hewan laut. Ini dilakukan untuk mengukur risiko keterjeratan serta menemukan hotspot.

Oya, jika kamu menghitung paragraph dari bawah ke atas, maka 12 paragraf tersebut adalah tulisan Gita Laras Widyaningrum.

KLIK INI:  Tanah Kita Sedang Tak Baik-Baik Saja