Berinteraksi dengan Ruang Terbuka Hijau Mengurangi Rasa Kesepian

oleh -177 kali dilihat
Pemerintah Nagan Raya Bakal Bangun RTH untuk Wisata Islami
Ruang terbuka hijau sebuah kota/foto-kampusundip.com

Klikhijau.com – “Di dalam keramaian aku masih merasa sepi” lirik lagu dari Dewa 19 itu, terdapat dalam lagu berjudul Kosong.

Rasa kesepian adalah gangguan yang paling bebal kepada pikiran dan hati. Kedatangannya bisa kapan dan di mana saja, bahkan dalam keramaian sekalipun. Seperti potongan lagu di atas.

Kesepian pun bisa menyerang siapa saja, bahkan masyarakat kota. Padahal mereka dikelilingi oleh keramaian, baik kendaraan maupun orang yang lalu lalang.

Rumah-rumah yang rapat di perkotaan dan penduduk yang padat, nyatanya tak menghalangi perasaan kesepian datang berkunjung ke hati dan pikiran.

KLIK INI:  Benarkah Kesepian Bisa Sebabkan Kematian Dini?

Perasaan atau rasa sepi jika dibiarkan akan sangat mengganggu psikis bahkan fisik seseorang. Karena itu, untuk mengurangi rasa kesepian. Pemerintah kota harus menyiapkan banyak ruang terbuka hijau untuk warganya.

Epidemi dari kesepian  global adalah konsekuensi yang diabaikan dari kehidupan perkotaan yang membawa risiko pengurangan umur yang serius. Klaim itu diungkapkan oleh Dr. Vivek Murthy . Ia merupakan mantan Ahli Bedah Umum Amerika Serikat saat Barack Obama masih menjabat sebagai presiden.

Perlu nuansa alam

Pada tahun 2017 lalu Washington Post, Murthy  mengimbau agar kita melihat  lebih dalam, dan kita akan menemukan kesepian dikaitkan dengan risiko penyakit jantung, depresi, kecemasan, dan demensia yang lebih besar.

“Dan jika Anda melihat tempat kerja. Anda juga akan menemukan bahwa itu terkait dengan pengurangan kinerja tugas. Ini membatasi kreativitas. Ini merusak aspek lain dari fungsi eksekutif, seperti pengambilan keputusan,” ujarnya.

KLIK INI:  Studi: Serangga Tidak Tertarik pada Cahaya Buatan, Hanya Nyasar

Mengusir kesepian dalam diri memang perkara gampang-gampang susah. Namun, ada sebuah studi baru yang merekomendasikan untuk menambahkan nuansa alam ke dalam cara mengurangi kesepian.

Studi tersebut  dipublikasikan dalam jurnal Scientific Reports. Caranya dengan mengikuti tinjauan penilaian yang diberikan oleh lebih dari 750 penduduk Inggris yang secara sukarela menggunakan aplikasi smartphone yang dibuat khusus selama dua minggu.

Para peserta ditanyai secara acak tiga kali sehari selama jam bangun menggunakan teknik yang disebut “penilaian sesaat ekologis.”

Selain pertanyaan tentang kepadatan penduduk dan persepsi inklusi sosial, para sukarelawan ditanyai tentang lingkungan alami mereka: “Dapatkah Anda melihat pohon sekarang?”; “Bisakah kamu melihat tanaman sekarang?”; “Bisakah Anda melihat atau mendengar burung sekarang?”; dan “Bisakah kamu melihat air sekarang?” Perasaan “kesepian sesaat” kemudian diberi peringkat pada skala lima poin.

KLIK INI:  Taman Integritas, Ruang Tunggu Bernuansa Hijau di Kantor Imigrasi Kelas I Makassar

Menurut lebih dari 16.600 penilaian yang diterima, lingkungan yang penuh sesak meningkatkan perasaan kesepian hingga 38 persen. Perasaan itu tidak memandang usia, jenis kelamin, etnis, tingkat pendidikan, atau pekerjaan.

Namun, ketika orang dapat berinteraksi dengan ruang terbuka hijau atau mendengar burung atau melihat langit, kesepian yang dirasakan turun sebesar 28 persen.

Inklusivitas sosial, yang didefinisikan oleh tim peneliti sebagai perasaan diterima oleh suatu kelompok atau berbagi nilai-nilai yang sama, juga menurunkan kesepian sebesar 21 persen.

“Jika kesepian berkurang dengan kontak dengan alam, meningkatkan akses ke ruang hijau dan biru berkualitas tinggi (seperti taman dan sungai) di daerah perkotaan yang padat dapat membantu orang merasa tidak terlalu kesepian,” tulis tim peneliti tersebut.

KLIK INI:  Krisis Iklim Berpotensi Tingkatkan Lebih Banyak Kanker Kulit
Alam, komponen penting manusia

Temuan tersebut  sejalan dengan temuan peneliti sebelumnya, yakni pada tahun 2020 lalu. hasil temuan itu  diterbitkan oleh International Journal of Environmental Research and Public Health. Peneliti menemukan bahwa membenamkan atau membaurkan diri  dalam hutan dapat mengurangi stres dan meningkatkan relaksasi.

Maria Marabito dari Treehugger menulis begini, “Pemandian hutan dirancang untuk membangkitkan hampir semua indra: aroma terapi dari tanaman; suara hutan, gemerisik pohon, kicau burung, atau gemericik air; stimulasi visual dari flora dan fauna; dan sensasi taktil dari tanah lunak di bawah kaki Anda atau dedaunan di tangan Anda.

“Gabungan, pengalaman ini bekerja untuk memberikan terapi pengurang stres yang meningkatkan kesehatan fisik serta kesejahteraan psikologis. Udara hutan lebih bersih daripada perkembangan perkotaan dan pohon-pohon itu sendiri mengandung phytoncides, senyawa organik antimikroba yang berasal dari tanaman yang dikenal memiliki banyak manfaat, termasuk meningkatkan sel-sel kekebalan,”  tambahnya.

KLIK INI:  Mencicipi 7 Pantun dari Tri Astoto Kodarie yang Bernuansa Alam

Johanna Gibbons, seorang arsitek lansekap dan anggota tim peneliti  pernah mengatakan bahwa  kota kemungkinan satu-satunya habitat global yang meningkat dengan kecepatan tinggi.

“Jadi kita harus menciptakan habitat perkotaan di mana orang dapat berkembang,” katanya. “Alam adalah komponen penting dari itu karena, saya percaya jauh di dalam jiwa kita, ada hubungan yang sangat dalam dengan kekuatan alam,”

Rasa kesepian adalah fenomena yang berbahaya jika tak segera diatasi. Ia tersembunyi dan menggorogoti seseorang daari dalam dirinya sendiri. Berinteraksi dengan alam atau ruang terbuka hijau dapat mengurangi perasaan di dalam keramaian aku masih merasa sepi.

KLIK INI:  Ruang Hijau Perkotaan Lebih Berdampak bagi Kesehatan Mental Perempuan

Sumber: Treehugger