Air Hilang dalam Hujan

Pernikahan Gerimis   "Kau masih suka gerimis?" tanyaku. Kau hentikan seruputan kopimu. Tatapanmu mengarah ke mataku. Tatapan yang pernah begitu akrab dan menyeret banyak cerita. Kau tak la...

Air Hilang dalam Hujan
Bacakan Artikel

Pernikahan Gerimis


 

"Kau masih suka gerimis?" tanyaku. Kau hentikan seruputan kopimu. Tatapanmu mengarah ke mataku. Tatapan yang pernah begitu akrab dan menyeret banyak cerita.

Kau tak langsung menjawab pertanyaanku itu. Kau mainkan gelas kopimu, yang isinya tinggal setengah.

"Tak pernah luntur," jawabmu akhirnya. Jawaban yang masih sama, masih puitis.

"Syukurlah," balasku kikuk.

Aku ingin bertanya, kapan terakhir kau menikmati gerimis dan dengan siapa?ย  Pertanyaan itu tak sampai padamu. Bertahan saja di kepalaku jadi busa sabun.

Sudah empat bulan ini tak ada mendung. Tak ada gerimis. Tentu saja kau tak bisa menikmatinya. Lagi pula kau sudah cukup tua untuk bermain gerimis, hehehe.

"Aku akan memotong ayam putih jika gerimis turun. Rinduku telah amat tanak untuk menikmatinya," katamu.

Tercengang aku mendengarnya. Usia tak pernah merampas kesukaanmu pada gerimis, rupanya. Dan ee kenapa harus ayam putih, kenapa bukan....?

"Dan kau harus berjanji akan membakar ayam yang kupotong, rindu benar aku dengan sambel petai buatanmu," katamu lagi.

Aku hanya diam. Namun mataku mengarah ke matamu. Aku mencari sisa gerimis di sana. Tak ada. Gerimis disapu kemarau.

"Kenapa belum menikah?" tanyaku tiba-tiba.

Aku pikir kau akan tersinggung. Rupanya tidak. Kau hanya tersenyum.

"Saat gerimis tak lagi alpa bertandang membasahi rambutmu," jawabmu.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: