- Baca Dulu, Baru Ngopi: Tapi Siapa yang Mau? - 11/07/2025
- Sungai-Sungai Masa Kecil - 12/04/2025
- Aku Masih Suka Duduk di Dekat Jembatan Tua - 18/11/2024
Di kebun itu, waktu menguap seperti embun yang enggan menyentuh tanah. Lia, gadis yang dikecup sunyi, tinggal di antara tanaman-tanaman yang tumbuh bukan karena tangan manusia, tapi karena lahir dari banyak keajaiban yang tak bisa dilawan. Daun-daun berbisik padanya dalam bahasa yang tak pernah diajarkan, dan angin sesekali membawa pesan yang tidak pernah selesai. Lia adalah penjaga kebun, pengembara yang tak pernah pergi, karena di tanah ini kakeknya beristirahat, dan di tanah ini pula, napas Lia melekat pada akar-akar yang menjalar lebih dalam dari sekadar bumi.
Namun, suatu ketika, di sebuah sore yang tak diundang, suara itu datang. Bukan suara dedaunan atau semilir angin yang biasa ia dengar, tetapi langkah-langkah berat yang mematahkan ranting seakan menghancurkan kesunyian dengan brutal. Lia mengangkat kepala, matanya menangkap bayangan asing—sesosok tubuh yang tampak terlalu nyata untuk kebun ini. Ia tak mengenal kehadiran yang keras di kebun yang biasanya lembut.
Di bawah pohon tua, pemuda itu berdiri. Wajahnya mengilap oleh keringat, ransel besar menggantung di punggungnya seperti beban dari dunia lain, dunia yang Lia tak inginkan. Pemuda itu mengerutkan dahi, bingung, seolah telah melangkah ke tempat yang tidak ada dalam peta.
“Ini… kebun Lia?” katanya, suaranya bergetar seperti daun yang disentuh oleh angin pertama.
Lia tak menjawab. Matanya menyipit, seolah sedang menilai apakah bayangan itu nyata atau hanya ilusi lain yang diciptakan oleh kebun. Mungkin kebun ini, dengan segala bisikannya, mulai bercanda padanya—menciptakan sosok yang begitu keras di antara kelembutan akar-akar dan bunga-bunga yang mekar tanpa suara.
Namun pemuda itu tetap berdiri di sana, dengan kikuknya yang mengganggu keheningan. Tubuhnya tampak seperti sesuatu yang tak seharusnya ada di kebun ini, sesuatu yang tiba-tiba muncul dari tempat yang jauh dan penuh keramaian, yang tak pernah Lia sentuh lagi sejak dunia luar meninggalkannya.
“Mahasiswa KKN,” pemuda itu berkata, seolah nama itu memiliki makna magis yang bisa memecah kebisuan. “Aku harus… tinggal di sini beberapa bulan. Bantu masyarakat.”
Lia tertawa dalam hatinya. Masyarakat? Di sini, hanya ada kebun dan kuburan. Masyarakat adalah kata asing, seperti ombak yang tak pernah mencapai tepi. Ia tahu dunia luar, yang hiruk-pikuknya ia tinggalkan, masih ada. Tapi di kebun ini, hiruk-pikuk hanya terdengar sebagai gema yang jauh. Dan kini, seorang pemuda, dengan kemeja kusut dan keringat yang menetes, telah tersesat ke dalam sunyinya.
Namun, pemuda itu, entah bagaimana, tetap di sana. Seperti batu yang tak sengaja terjatuh dari bukit, ia tak segera pergi, seakan ada sesuatu di kebun yang menahannya. Lia mengangguk setengah hati, karena tak ada lagi yang bisa dilakukan. Pemuda itu membuka pintu dunianya, duduk di pinggir pondok, matanya menatap langit yang sama sekali tak sama dengan langit yang pernah ia kenal.
Hari-hari berjalan. Lia diam, pemuda itu berbicara. Seperti percakapan antara batu dan air, pemuda itu mencoba mengikis permukaan, sementara Lia, tak bergerak, hanya menunggu air itu habis. Namun air tak pernah habis. Setiap hari, pemuda itu datang dengan cerita-cerita dari tempat-tempat yang Lia tak lagi peduli. Tentang kota, tentang orang-orang yang sibuk mengejar hal-hal yang tak Lia pahami. Namun di balik cerita itu, ada sesuatu yang mulai tumbuh.
Pemuda itu sering mengunjungi Sungai Balangtieng, sungai yang mengalir tak jauh dari kebun, tempat di mana kakek Lia dulu sering pergi memancing. Sungai itu sekarang dipenuhi sampah yang terhanyut dari desa. Plastik-plastik, kaleng-kaleng, sisa-sisa kehidupan modern yang menghancurkan ketenangan alam. Sungai yang dulu mengalir dengan lembut kini berbau, seperti luka terbuka di tengah alam yang menolak untuk sembuh.
Suatu hari, Lia melihat pemuda itu berdiri di tepi sungai, tubuhnya dikelilingi oleh sampah yang berserakan. Dia membungkuk, mengangkat botol plastik dari air keruh dan membuangnya ke dalam kantong besar di sampingnya. Pemuda itu, dengan sabar, membersihkan sungai itu seorang diri, seakan-akan ia sedang berusaha menyembuhkan sesuatu yang rusak, sesuatu yang lebih dari sekadar sungai.
Lia berdiri jauh, menyaksikan, tak mengatakan sepatah kata pun. Ada sesuatu yang aneh tentang pemandangan itu—seorang pria yang tak dikenal, memunguti sampah di sungai yang tak lagi dianggap penting oleh siapa pun di desa. Kebun diam, seperti merasakan sesuatu yang tak biasa. Lia tahu bahwa pemuda itu tak hanya membersihkan sungai; dia sedang membersihkan dirinya sendiri, mungkin juga membersihkan sesuatu yang tersembunyi dalam kebun ini.
Malam harinya, pemuda itu kembali ke kebun dengan tangan penuh lumpur dan luka kecil di jari-jarinya. Dia tak mengeluh, hanya duduk di tepi kebun, napasnya berat, tapi senyumnya ringan. Lia melihatnya dalam diam, merasa ada sesuatu yang berbeda. Mungkin kebun ini, pikir Lia, sedang berbicara dengan cara yang lain sekarang—bukan lewat angin atau bisikan pohon, tapi melalui tangan-tangan asing yang berusaha merawat dunia yang telah lama ia tinggalkan.
Malam-malam berikutnya, Lia menemukan dirinya semakin sering melihat pemuda itu. Bukan hanya saat dia bekerja di kebun atau membersihkan sungai, tapi dalam pikirannya. Ada sesuatu yang mengganggu ketenangannya—kehadiran pemuda ini seperti benih yang tak diundang, tumbuh di tanah yang selama ini hanya menjadi miliknya.
Pemuda itu, meskipun tampak seperti gangguan awalnya, mulai menjadi bagian dari ritme kebun. Dia tak banyak bicara, dan sering hanya duduk, membersihkan sungai atau membantu Lia dengan tanaman-tanaman di kebun. Lia merasa, dengan cara yang tak pernah ia duga, keheningan yang dulu begitu akrab kini terasa berbeda. Keheningan ini terasa penuh, bukan kosong.
Dan kemudian, suatu sore, pemuda itu tak datang. Lia menunggu, di tengah kebun, dengan perasaan yang tak bisa ia sebutkan. Pemuda itu telah menjadi bagian dari kebunnya, meskipun ia tak pernah memintanya. Tapi kali ini, kebun terasa kosong lagi, seperti sebelum dia datang.
Hingga pagi berikutnya, ketika Lia menyadari bahwa pemuda itu sudah pergi untuk selamanya. Di dekat kuburan kakeknya, Lia menemukan sebuah kotak kecil yang ditinggalkan di bawah pohon tua. Dengan tangan gemetar, Lia membukanya. Di dalam kotak itu ada foto-foto lama, foto pemuda itu, berdiri di samping kakek Lia di tepi Sungai Balangtieng bertahun-tahun yang lalu. Dalam foto itu, pemuda itu tampak muda, sangat mirip dengan dirinya sekarang—terlalu mirip.
Dan tiba-tiba, semuanya masuk akal. Pemuda itu bukan hanya mahasiswa KKN yang tersesat. Dia adalah bagian dari masa lalu kebun ini, seseorang yang pernah hadir di sini, bertahun-tahun lalu, dan kini kembali dalam bentuk yang tak bisa dijelaskan. Lia tahu, dalam hatinya, bahwa pemuda itu adalah kenangan yang kembali untuk memperbaiki sesuatu yang hilang—sungai yang tercemar, kebun yang hampir terlupakan, dan cinta yang pernah ada, namun tak pernah disadari.
Pemuda itu telah membersihkan bukan hanya sungai, tetapi kebun di dalam dirinya. Lia menutup kotak itu dengan hati yang penuh, dan meskipun sunyi kembali menghampiri, kali ini, sunyi itu terasa seperti sahabat lama yang tak lagi menyakitkan. Dan Lia tetap enggan beranjak ke kota.*








