Perempuan Kabut

Pembabat Pohon   Mencari orang paling bodoh di kampung kami bukanlah pekerjaan rumit. Itu sejak Sanamang pulang kampung. Tiga atau empat tahun lalu. Sanamang, begitu saja orang kampung men...

Perempuan Kabut
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Pembabat Pohon


 

Mencari orang paling bodoh di kampung kami bukanlah pekerjaan rumit. Itu sejak Sanamang pulang kampung. Tiga atau empat tahun lalu.

Sanamang, begitu saja orang kampung menamai lelaki bernama asli Abdul Rajab itu. Ia adalah mahasiswa paling abadi di kampung kami.

Sejak kuliah, kabar kapan ia wisuda tak pernah mampir ke telinga warga. Ketika Virus Corona datang beternak ketakutan di kepala, ia pulang kampung. Dan tak pernah lagi berminat kembali ke kota.

Pulang kampungnya Sanamang bukanlah berita menggemparkan. Dianggap wajar saja. Yang menggemparkan apa yang ia lakukan.

Cengkeh warisan orang tuanya yang berjumlah 593 pohon itu, yang berbatasan langsung dengan jalan raya dibabat habis. Hanya menyisakan 17 pohon saja.

Sejak itulah, orang-orang menjulukinya orang paling bodoh di kampung kami. Tak ada orang tua yang rela menjadikannya menantu. Orang-orang menjauhinya, takut kebodohan Sanamang menjalar.

Cengkeh adalah investasi maha penting di kampung kami. Dan Sanamang menebangnya, nyaris tanpa sisa. Ia adalah orang yang paling durhaka kepada orang tuanya. Tak menghargai pengorbanan mereka.

Setelah pohon cengkeh ditebangi. Sanamang menanaminya dengan berbagai jenis tumbuhan yang tak memiliki nilai, mulai balimassang hingga rumput pecut kuda.

Ia juga menanaminya beberapa pohon buah. Aktivitas Sanamang itu, membuatnya selain digelari orang paling bodoh, ia juga mendapat gelar orang stres. Stres karena tak selesai kuliah.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2