Survey Global Walls, Persepsi Kebahagiaan Berubah di Masa Pandemi

oleh -31 kali dilihat
Survey Global Walls, Persepsi Kebahagiaan Berubah di Masa Pandemi
Ilustrasi Kebahagiaan - Foto/MajalahCSR

Klikhijau.com – Wajah dunia dratis berubah saat pandemi Covid-19 menyerang bumi di periode awal tahun 2020 lalu, termasuk perihal persepsi kebahagiaan manusia. Hampir semua orang menghabiskan waktunya di rumah sembari berkreasi dan beradaptasi pada situasi.

Hal ini memicu terjadinya perubahan persepsi tentang kebahagiaan pada banyak orang. Menurut survey terbaru dari Global Wall’s yang dilakukan pada 2020 terhadap 12.500 orang di 12 negara, termasuk Indonesia, 69% responden mengakui adanya perubahan persepsi mengenai arti kebahagiaan.

Poin utamanya yang sekaligus menarik digaris bawahi adalah, lebih dari 50% responden menyadari betapa pentingnya hubungan antar sesama (human connection). Dan inilah kunci kebahagian sejati sejauh ini.

Lebih lengkapnya, inilah sejumlah temuan penting dari survey mengenai persepsi kebahagiaan yang dilakukan Global Walls:

KLIK INI:  Tidak Mau Kecolongan, KLHK Perkuat Pengendalian Karhutla di Masa Pandemi
70% Responden merasa lebih mudah meminta bantuan pada orang lain

Meski semua bergerak secara mandiri di rumah masing-masing akibat social distancing, sikap untuk tanpa beban meminta bantuan sesama justru membaik selama tahun 2020. Sebagai contoh, semakin banyak orang, teman maupun tetangga yang senang dapat meminjam peralatan rumah tangga, termasuk kebiasaan curhat atau berbagi kisah satu sama lain.

69% Responden lebih proaktif menawarkan bantuan kepada orang lain

Di awal masa pandemi, kita bisa melihat bagaimana perekenomian seolah lumpuh. Tampaknya memang mencemaskan terutama bagi para pekerja mandiri. Namun, ada nuansa kemanusiaan yang sangat membahagiakan. Banyak orang menawarkan bantuan, dari berbagai makanan hingga masker. Ini satu pelajaran dari 2020 betapa kebersamaan di saat masa sulit sangatlah penting dan ternyata dapat bertumbuh secara alami.

Rasa Bahagia bahkan hadir saat kita dapat meringankan beban sesama. Barangkali inilah sifat dasar manusia yang sejatinya dapat ditumbuhkan setiap waktu.

Selain bantuan berupa material, atensi kepada sesama juga meningkat selama pandemi. Intensitas komunikasi virtual meningkat tajam untuk sekadar berbagi kabar dan saling menghibur. Ini juga satu hal positif untuk selalu saling menguatkan di saat situasi krisis.

KLIK INI:  Ilmuan Prediksi Adanya Potensi Kemunculan Pandemi Baru Akibat Krisis Ekologi
69% Responden merasa lebih dekat dengan orang-orang di sekitar mereka

Meski tak ada pertemuan fisik yang intens, survey ini menunjukkan bahwa ada 69% responden justru mengalami hubungan persahabatan dan kekeluargaan yang lebih hangat selama pandemi.  Komunitas-komunitas tetap aktif menjalankan perjumpaan secara virtual dan menghidupkan suasana bahagia satu sama lain.

Tak hanya itu, ada banyak topik-topik ringan yang bisa menjadi bahan perbincangan di kantor dan dengan tetangga sehingga  memperkuat hubungan emosional satu sama lain. Topik ringan seperti hewan peliharaan di rumah, tanaman, makanan kesukaan, bisa lebih mudah diobrolkan saat ini dibanding masalah-masalah lain yang lebih berat.

71% Responden mempererat tali silaturahmi selama pandemi

Selama pandemi, komunikasi dengan keluarga yang jaraknya jauh justru terbangun kembali. Bahkan, banyak responden mengaku selama pandemi ini mereka malah bisa mempererat tali silaturahmi dengan orang-orang yang lokasinya jauh. Teknologi komunikasi memudahkan hubungan jarak jauh menjadi lebih harmonis.

74% Responden kembali berkomunikasi dengan teman atau keluarga yang lama

Untuk pertama kalinya momen-momen spesial perayaan seperti puasa, lebaran, natal dan perayaan tahun baru dilakukan secara daring. Mayoritas responden bahkan mengaku kembali dapat berkomunikasi dengan kawan lama. Baik dalam bentuk reuni virtual maupun dalam konteks komunikasi biasa.

Survey ini seolah mengubah persepsi kebahagiaan yang sebelumnya cenderung bersifat material seperti traveling, memiliki handphone canggih, kendaraan dan lainnya. Saat ini, makna kebahagiaan telah berubah yakni pada kebersamaan dan bagaimana dapat bermanfaat pada keluarga, tetangga dan banyak orang.

Pandemi mengajarkan bahwa salah satu yang dapat kita lakukan untuk merasa bahagia adalah dengan membangun dan membina hubungan baik dengan orang lain.

Jangan-jangan, pandemi juga satu momentum untuk kita berbenah dan membangkitkan kembali humanitas yang sekian lama tergerus.

KLIK INI:  Pembangunan Berkelanjutan, Bencana Ekologis dan Diskursus yang Tak Selesai