Polusi Plastik, Ancaman Serius bagi Peradaban Manusia

oleh -67 kali dilihat
Tragedi Petani, Bercocok Tanam di Lumbung Sampah Plastik
Sawah tadah hujan yang ditanami plastik/foto-Ist

Klikhijau.com – Saat ini kita sedang dikepung polusi plastik. Tak ada lagi tempat yang bebas dari plastik. Bahkan di daerah terpencil dan laut terdalam pun telah ditemukan barang yang sulit terurai itu.

Maka, rasanya sangat wajar jika sampah plastik dianggap sebagai ancaman yang nyata. Tak hanya manusia yang terancam, tapi semua makhluk hidup.

Bahkan menurut laporan baru Environmental Investigation Agency atau Badan Investigasi Lingkungan (EIA), polusi plastik tak bisa lagi dianggap remeh. Harus dianggap sebagai darurat planet.

Saking meresahkannya, para ahli mendesak penting adanya perjanjian yang mengikat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mengatur produksi, konsumsi, dan penyebaran lingkungan dari bahan plastik beracun.

KLIK INI:  Hal-Hal Kecil Pemacu Global Warming, Salah Satunya Mungkin Sering Anda Lakukan

Sekarang ini, bahan plastik yang beracun telah ditemukan di dalam tanah, makanan, dan bahkan udara yang kita hirup. Yang yang kita hirup dari plastik adalah pecahan-pecahan kecil yang disebut  mikroplastik.

PBB sendiri telah mengidentifikasi ada tiga risiko lingkungan eksistensial yang utama, yakni perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan polusi .

PBB juga berpendapat bahwa ketiganya memiliki keterkaitan yang erat. Karena itu, ketiganya harus ditangani bersama. Sementara untuk perjanjian multi-nasional formal, dengan bertujuan untuk mengekang perubahan iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati telah lama ada sejak.

Sudah lama ada perjanjian

Perjanjian ini bahkan telah ada sejak lebih dari tiga dekade lalu. Namun, untuk perjanjian yang fokus pada penanganan polusi plastik belum ada.

KLIK INI:  Ulama Palestina Ini Terpukau Pesona Alam Karst Rammang-Rammang Maros

Tom Gammage, ahli biologi kelautan dan juru kampanye di EIA mengatakan bahwa ada detak jam mematikan yang menghitung mundur dengan cepat.

“Jika gelombang pasang polusi ini terus berlanjut, plastik yang diantisipasi di lautan pada tahun 2040 dapat melebihi berat kolektif semua ikan di lautan,” tegasnya.

Awalnya ada prediksi bahwa tahun 2050 mendatang, plastik di laut akan lebih banyak daripada ikan, namun apa yang diungkapkan oleh Gammage, membuat prediksi itu lebih ceat satu dekade.

“Sifat polusi plastik yang terlihat telah menimbulkan kekhawatiran publik yang besar tetapi sebagian besar dampak polusi plastik tidak terlihat,” tambahnya.

KLIK INI:  Sampah Plastik, Si Bandel yang Bikin Lihai Dilema dan Masalah
Ancaman bagi peradaban

Gammage  juga menegaskan bahwa kerusakan yang disebabkan oleh produksi berlebihan plastik murni dan siklus hidupnya tak dapat diubah.

Hal itu merupakan ancaman bagi peradaban manusia dan kemampuan dasar planet ini untuk mempertahankan lingkungan yang layak huni. Ini menjadi hampir sama seriusnya dengan ancaman dari perubahan iklim.

Sementara itu, Profesor Richard Thompson yang merupakan seorang ahli plastik di University of Plymouth mengungkapkan,  kebijakan advokasi yang hanya akan mempromosikan penggunaan plastik daur ulang tak akan efektif.

KLIK INI:  BP2LHK Verifikasi Pemanfaatan Air di Taman Nasional Gandang Dewata

Ketidakefektifan itu akan terjadi apabila tak ada infrastruktur lokal untuk mengumpulkan, memisahkan, dan mendaur ulang plastik yang ada.

Dengan demikian, perjanjian PBB harus fokus pada analisis siklus hidup plastik secara penuh, dan menangani tingkat produksi dan konsumsi yang sangat tidak berkelanjutan.

Sedangkan Trisia Farrelly, seorang peneliti plastik di Massey University , Selandia Baru justru mempertanyakan  seperti apa perjanjian PBB itu?.

KLIK INI:  AMAN Nasional Serukan Hentikan Diskriminasi Terhadap Komunitas Adat Tobelo Dalam

“Apakah akan ada bentuk lemah yang fokus pada sampah laut dan pengelolaan sampah? Atau akankah ada resolusi yang mencakup siklus hidup penuh plastik termasuk ekstraksi dan produksi hingga remediasi polusi warisan?” ujarnya.

Farrelly  mengimbau, terlepas dari bentuk perjanjian tersebut, hal yang perlu dilakukan akhirnya adalah bertindak sesegera mungkin.

Dengan melihat cukup bukti yang ada, maka tidak ada waktu untuk bersantai, kita harus bertindak segera untuk mencegah kerusakan lebih lanjut. Jika tidak maka kerusakan yang disebabkan oleh polusi plastik akan sulit dihindari.

Sampah plastik adalah jenis sampah yang paling mudah dibuang. Itulah yang menyebabkan sampah jenis ini menjadi dominan di darat dan juga di laut.

Ide dari Farrelly agar kita bertindak secepatnya adalah ide yang perlu sesegera mungkin diterapkan. Sudah saatnya menganggap polusi plastik atau sampah plastik adalah ancaman darurat yang perlu segera diatasi.

KLIK INI:  Mudik dan Kampung yang Dikepung Sampah Plastik

Sumber: Earth